Slank Bawa Penonton Synchronize Festival ke Masa 1990-an

Agustinus Shindu Alpito    •    09 Oktober 2017 11:30 WIB
synchronize festival 2017
Slank Bawa Penonton Synchronize Festival ke Masa 1990-an
(Foto: Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Entah berapa ribu penonton memadati area panggung Slank di Synchronize Festival 2017, Minggu (8/10/2017), di Gambir Expo, Kemayoran. Slank tampil sebagai band penutup Dynamic Stage - panggung terbesar Synchronize Festival. Mereka naik pentas pukul 23:00.

Meski tampil larut malam, para penonton tampak tidak khawatir. Mereka antusias melihat aksi Bimbim Cs. Aksi Slank di Synchronize terbilang beda, mereka dijadwalkan membawakan katalog lagu dari tujuh album pertama. Pada kenyataannya, Slank tetap membawakan lagu-lagu terkini mereka yang diselipkan di antara repertoar-repertoar klasik.



Seperti panggung-panggung Slank lain, bendera berlogo Slank mulai berkibar sejak sebelum mereka naik panggung.

Tonk Kosong  dilepas sebagai lagu pembuka. Singel ini diambil dari album studio keenam Slank, Lagi Sedih. Suara kencang sistem suara beradu dengan teriakan penonton yang mengikuti Kaka bernyanyi. Sejurus kemudian, Slank menyambung Tonk Kosong  dengan Pulau Biru, diambil dari album Kampungan yang dirilis pada 1991.

Suasana nostalgia kian terasa kala masuk lagu ketiga, Poppies Lane Memory, diambil dari album Tujuh yang dirilis pada 1998. “Lagu ini tentang sebuah jalan di Bali, tempat Kaka nakal dulu,” kata Bimbim mengawali lagu.

Masuk ke lagu keempat, Slank mencoba membawakan lagu terbaru mereka, NgeRock, dari album Palalopeyank  yang dirilis tahun ini. Dari sini langsung terasa bagaimana transformasi penulisan lirik Slank dari era 1990-an ke masa sekarang. Slank terdengar tak lagi bicara soal dirinya sendiri dan lebih gamblang mengkritik ketidakadilan.

Simak penggalan lirik NgeRock, “Tangkap para koruptor, penjarakan mereka. Kalau perlu di-dor, jangan dibela-bela.”

Lirik itu terdengar kontras dengan tiga lagu sebelumnya yang dibuat Slank sekitar dua dekade lalu.

Nostalgia berlajut, kali ini lewat Mawar Merah. Lagu dari album Kampungan. Lagu ini diceritakan Bimbim sebagai lagu favorit gitaris mereka, Ridho. Usai Mawar Merah, Slank melaju dengan Terbunuh Sepi yang berasal dari album keempat Slank, Generasi Biru  (1994).

Dalam kesempatan berbeda, Kaka pernah bercerita bahwa Terbunuh Sepi  merupakan lagu yang merekam masa-masa Slank ketergantungan narkoba. Hal itu diungkapkan Kaka pada awal tahun ini dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di markas Slank yang terletak di Jalan Potlot III.

“Terbunuh Sepi itu sakau pertama kali. Kami gelisah, tetapi tiap minum obat flu hilang, lalu datang lagi (perasaan gelisah). Waktu itu kami lagi rekaman (di Puncak), yang tiga personel turun ke Jakarta, kami (Kaka dan Bimbim) ditinggal dengan materi musik doang,” kata Kaka.

Kenangan masa muda Slank lainnya hadir lewat Terlalu Manis  (album Kampungan), Preman Urban (album Tujuh), Bimbim Jangan Menangis  (Tujuh), dan tentu saja Maafkan  dari album debut Slank, Suit-Suit…He.. He..  yang dirilis pada 1990.

“Kalau enggak ada lagu ini enggak ada Slank,” kata Bimbim sebelum membawakan Maafkan.

Maafkan  memang menjadi hit di era awal 1990-an. Di tengah membanjirnya lagu pop melankolis di industri musik Indonesia, Slank menawarkan sesuatu yang beda, salah satunya lewat lagu Maafkan.

Lagu Kamu Harus Pulang  dari album Generasi Biru  menjadi lagu akhir dari pesta nostalgia Slank. Sebelum benar-benar ditutup lewat encore ngeSlank Rame-Rame  yang berasal dari album Restart Hati  (2015).

Jika pada edisi perdana Synchronize Festival tahun lalu pesta sukses ditutup dengan Rhoma Irama, maka kesuksesan itu berhasil diteruskan oleh Slank pada edisi kedua Synchronize Festival. Lebih dalam dari itu, festival musik yang melabeli dirinya sebagai sebuah gerakan masif menuju kejayaan musik Indonesia ini berusaha memberikan edukasi untuk penggemar musik Indonesia, bahwa musik hari ini ada dari sejarah panjang musik Indonesia. Termasuk mengajak penonton untuk  napak tilas sekaligus belajar dari perjalanan Slank, sebuah band yang lahir di gang kecil Jakarta menjadi salah satu band paling berpengaruh sepanjang sejarah musik Indonesia.

 


(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

1 day Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA