Iga Massardi

Digitalisasi Bisa Tekan Pembajakan

Indriyani Astuti    •    13 Juli 2017 09:46 WIB
musik
Digitalisasi Bisa Tekan Pembajakan
Iga Massardi (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pembajakan menjadi satu perkara yang mengkhawatirkan. Namun, era digitalisasi diharapkan dapat mengurangi praktik merugikan tersebut.

Seperti dikatakan vokalis band Barasuara, Iga Massardi, 31, digitalisasi mengubah kebiasaan orang dalam mendegarkan musik dari semula konvensional melalui CD dan kaset ke digital, yang dapat diakses melalui streaming.

Menurutnya, digitalisasi itulah yang dapat mengurangi pembajakan.

"Pembajakan dapat sedikit bisa diredam. Karena budaya streaming sangat murah, dapat diakses oleh siapa pun, di mana pun, dan tidak terbatas," ujarnya ketika ditemui di sela-sela jumpa pers acara festival musik Soundrenalin di Jakarta, Selasa (11/7).

Dengan adanya streaming, lanjutnya, orang tidak lagi membeli MP3 bajakan yang dikemas dalam satu CD berisi banyak lagu.

Lagu bisa diakses melalui ponsel dengan harga murah.

Laki-laki kelahiran Jakarta, 9 November 1985 itu lebih jauh menuturkan digital memang tidak serta-merta mampu memerangi pembajakan.

Untuk mencegahnya, tetap harus ada regulasi yang ketat mengenai itu.

"Regulasi yang mampu melindungi dan menyejahterakan para musikus," ujarnya.

Iga mengakui era digital yang tidak dapat dicegah itu di satu sisi membuat penjualan CD musik menurun. Masyarakat beralih mendengarkan lagu dengan streaming.

Namun, digitalisasi tidak lantas mematikan industri musik.

"Selalu ada sisi positif dan negatif. Meski demikian, tetap masih ada yang membeli CD kendati tidak bisa dimungkiri penjualan fisiknya menurun sebab dengan kemajuan teknologi pesat, masyarakat sekarang lebih berpikir bagaimana agar bisa mengakses informasi lebih cepat dan mudah," tutur putra sastrawan Yudhistira ANM Massardi itu.

Seperti halnya sebagian masyarakat yang hingga kini masih membeli CD musik, ia pun demikian. Iga juga masih mengoleksi CD musik kegemarannya.

"Ada nilai emosional dari bentuk fisik yang tidak bisa digantikan oleh platform lain. Kalau digital, tidak ada wujud fisiknya," ucapnya.

Ketika ditanya strateginya dalam menghadapi perubahan platform masyarakat dalam mendengarkan musik, Iga mengatakan sebagai musikus ia tetap akan membuat album dalam bentuk CD.

Namun, ia juga sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi agar publik juga dapat mengaksesnya via streaming.

"Strateginya kita harus menjalankan dua-duanya. Bentuk fisik harus kita (buat) terus karena tetap ada yang membeli. Tetapi digital juga kita buat," kata Iga lagi.

Album baru

Vokalis yang kerap berbusana batik setiap kali tampil itu juga mengungkapkan saat ini tengah menggarap album baru bersama grup band-nya.

Album baru tersebut bakal dirilis dalam waktu dekat.

Dengan antusias ia menyampaikan, album tersebut bercerita mengenai perjalanan Barasuara ketika melakukan tur di berbagai kota.

Iga menjanjikan musik yang disajikan Barasuara akan lebih eksploratif daripada sebelumnya.

"Proses perjalanan tur sebuah proses yang berbeda dari rekaman. Itu dunia baru," pungkasnya.


(DEV)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

1 week Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA