Leo Kristi Tak Lelah Berdendang

Agustinus Shindu Alpito    •    21 Mei 2017 09:41 WIB
leo kristi
Leo Kristi Tak Lelah Berdendang
(Foto: Antara/ Agus Bebeng)

Metrotvnews.com, Jakarta: Musisi folk Leo Kristi telah berpulang pada Minggu (21/5/2017) dini hari, sekitar pukul 00:59 WIB, di Rumah Sakit Immanuel Bandung, Jawa Barat. Musisi kelahiran 8 Agustus 1949 itu telah dikenal luas sejak era 1970-an.

Leo tumbuh besar di Surabaya. Dalam perkembangannya, Leo menggagas grup bernama Konser Rakyat Leo Kristi, yang mengusung lagu-lagu bertema sosial.

"Leo Kristi seorang tokoh musik folk, dia menyebut dirinya Konser Rakyat Leo Kristi. Awalnya dia mendirikan grup dengan Gombloh, juga Franky Sahilatua, di Surabaya. Kemudian karena beda visi mereka akhirnya menjalani karier masing-masing. Franky ke Jakarta mendirikan Franky and Jane, Gombloh bersolo karier yang akhirnya melahirkan Kebyar-Kebyar," jelas pengamat musik Bens Leo, saat dihubungi Minggu pagi (21/5/2017).

Pada 1975, Konser Rakyat Leo Kristi merilis album debut Nyanyian Fajar. Nama Leo semakin berkibar kala melahirkan lagu Gulagalugu Suara Nelayan. Lewat lirik dan musiknya, Leo berhasil menggambarkan semangat juang kaum nelayan. Seperti penyanyi folk besar lain, Leo berhasil mengangkat suara kelas pekerja dan akar rumput.

"Mas Leo itu kritis, lirik-lirik dia bertema sosial dan empati terhadap sesama. Saya menyebut musik dia balada, musik yang bercerita tentang suatu masalah dan peristiwa. Padanan musik seperti itu ada Franky and Jane, Iwan Fals, Oppie Andaresta, Sawung Jabo. Tentu masing-masing punya karakter sendiri. Kekhususan Leo ada penyanyi perempuan, dia selalu bernyanyi sembari bermain gitar, dan dia punya fans yang fanatik," lanjut Bens.

Bens juga mengenang Leo sebagai musisi yang eksentrik. Dia selalu tampil dengan tong atau kursi sebagai pijakan kaki ketika tampil di atas panggung. Juga lambang Merah Putih di dada dan burung Garuda di topinya. "Ketika memulai penampilannya dia selalu bilang 'Permisi' dan di akhir selalu bilang 'Merdeka,'" kenang Bens.

Pada tahun 2016, Bens mengusulkan anugerah kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk diberikan kepada Leo Kristi.

"Saya waktu itu jadi juri anugerah kebudayaan. Saya merasa sudah saatnya Leo Kristi mendapat penghargaan," kata Bens.

Leo seolah tak lelah berkarya, dia terakhir kali merilis album Hitam Putih Orche pada 2015. Eksistensi Leo menarik. Dia adalah sedikit musisi dari generasinya yang terus aktif menelurkan karya.


(DEV)