Terhanyut dalam Mantra Musik Tashoora

Purba Wirastama    •    04 Oktober 2018 18:33 WIB
konser musikband indie
Terhanyut dalam Mantra Musik Tashoora
Tashoora saat live recording di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Bantul, Selasa, 2 Oktober 2018 (Tashoora-Antonius Dian)

Yogyakarta: Grup indie baru dari Yogyakarta, Tashoora, menggelar pertunjukan musik terbatas yang sekaligus dipakai sebagai sesi live recording untuk album mini debut berjudul Ruang Pertama. Mereka menyajikan lima lagu yang terasa energik sekaligus kontemplatif, kaya, serta dipenuhi segmen repetitif seperti mantra.

Tashoora adalah Danang Joedodarmo (gitar akustik), Gusti Arirang (bass), Dita Permatas (kibor, akordion), Danu Wardhana (violin), Sasi Kirono (gitar), serta Mahesa Santosa (drum). Sebelum bertemu dalam Tashoora, mereka punya jalur berbeda. Misalnya Dita dan Danang di grup folk Tik! Tok!, Mahesa di grup jazz Rekoneko, atau Sasi yang lebih sering mengulik metal. 



"Kami memulai Tashoora seperti restart. Jadi benar-benar baru semua. Kami nyemplung di sini, belajar dari awal lagi, ngulik dari awal lagi," ungkap Gusti  kepada sejumlah wartawan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja sore itu.

Grup berusia dua tahun ini berawal dari rencana proyek instrumental Danu dan Dita, tetapi berkembang menjadi enam orang setelah proyek kompetisi Tribute to Efek Rumah Kaca 2016. Secara resmi, grup ini terbentuk pada September 2016 tetapi baru tampil pertama kali setahun kemudian karena lama menemukan paduan musik yang pas di studio. 

Usai sesi pertama rekaman sore itu, di salah satu joglo Padepokan yang asri dan jauh dari keramaian kota Yogyakarta, para personelnya bercerita bahwa warna musik Tashoora berubah dari panggung ke panggung selama setahun terakhir.

Pasalnya, beberapa kali kejadian, mereka merasa sudah puas dengan komposisi dan aransemen hasil workshop studio. Namun begitu tampil untuk publik, sering ada yang kurang matang dan tidak memuaskan. Lantas mereka merekam audio dan video supaya bisa meninjau ulang materi musiknya. 



"Pada akhirnya, kami workshop itu sewaktu manggung. Di setiap panggung, lagu kami tidak pernah sama, selalu ada sound yang diganti, lirik yang diganti," tutur Danang.

"Kunci juga ganti," imbuh Sasi. 

Ramuan pertama yang akhirnya disepakati adalah seperti yang disuguhkan sore itu di Padepokan. Gusti, Danang, dan Dita tidak hanya bermain instrumen, tetapi menjadi tiga vokalis utama untuk seluruh lagu. Danu, Sasi, dan Mahesa mengisi  suara latar. 

Mereka pernah mencoba dengan sejumlah konsep, misalnya satu vokalis atau bergantian, tetapi merasa tidak pas. Karakter yang sekarang ditemukan dalam perjalanan dan berbeda jauh dari fase awal. 

"Kami menemukan sebuah temuan, kami menggunakan vokal sebagai instrumen juga," ungkap Danang. 



Lima lagu pertama Tashoora, yang akan dikemas dalam album mini Ruang Tatap, punya lirik-lirik bertema sosial. Lirik dikerjakan berdua oleh Gusti dan Danang. Sumber inspirasi adalah peristiwa atau isu sosial yang "ada di sudut mata dan terpinggirkan", tetapi "perlu dibicarakan" lebih lanjut.

Lagu Nista misalnya, diangkat dari kasus mendiang nenek Hindun di Jakarta setelah meninggal Jakarta. Jenazah sang nenek sempat ditolak masjid karena pilihan politik berbeda dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Ada pula Sabda, yang berangkat dari persoalan rasisme. 

Lirik-lirik Tashoora terdengar serius, dan butuh waktu untuk dicerna. Ketika Tatap, Nista, Sabda, Terang, dan Ruang dibawakan sore itu, lirik-liriknya lebih terasa sebagai pelengkap komposisi musik. Secara keseluruhan, alunan musik seperti litani doa yang terus diulang dan memberi stimulus bertahap. 





Untuk satu dua lagu, sebagian pendengar di ruangan itu teringat kepada musik Barasuara (Taifun) atau Of Monster and Men (My Head is An Animal). Respons semacam ini bukan hal baru, kata Gusti dan kawan-kawan. 

Namun menurut mereka, Tashoora sebenarnya mendapat pengaruh musik dari kawasan berbeda. 

"Kalau omong pengaruh musik, sebenarnya kami banyak (terpengaruh) ke musik tradisional Mongol. Kalaupun Eropa, itu Eropa Timur," kata Danang saat ngobrol lebih lanjut dengan Medcom.id

"...dan Wales," sambung Gusti.

"Ya semoga kami sesukses mereka," imbuh Danang lagi. 

Sore itu di Padepokan, mereka tampil dalam dua sesi. Dalam sesi kedua, mereka mengundang sejumlah keluarga dan kerabat, rekan musisi indie Yogyakarta, serta tokoh warga sekitar. Untuk album debut, mereka memilih metode rekaman langsung (live recording) karena alasan "seru-seruan" dan kepuasan personal.

"Kami sudah pernah mencoba rekaman di studio, tetapi risih rasanya, kok kayak banyak yang dibuat-buat, banyak yang dicari-cari. Gimana kalau kita bikin Live EP sekalian kenalan dengan (media)," ujar Danang.

Ruang Tatap akan menjadi album debut Tashoora dan akan dirilis secara digital dan dalam cakram padat pada Desember 2018. 



 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

5 days Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA