Gali Interpretasi Jazz Indonesia

Dzulfikri Putra Malawi    •    06 Agustus 2017 08:00 WIB
musik
Gali Interpretasi Jazz Indonesia
Gali Interpretasi Jazz Indonesia

Metrotvnews.com, Jakarta: Musik merupakan ilmu yang bisa dipelajari, baik di jalur formal maupun informal. Musik pun bukan hiburan semata. Pandangan itu yang dipahami Tomorrow People Ensemble (TPE) yang terdiri dari Nikita Jeffrey Dompas (gitar), Lie Indra Perkasa (kontrabas), Elfa Zulham (drum), dan Azfansadra Karim (piano).

“Mungkin karena musik adalah hal yang tidak terlihat, jadi orang sering anggap remeh. Justru ini tantangannya mempelajari yang tidak dilihat secara teknis dan nonteknis. Saat membuat komposisi musik sebelumnya lo membayangkan dan mengarang. Bunyi itu tidak tersentuh walaupun pada saat yang bersamaan ada rumusnya,” jelas Zulham saat berbincang dengan Kotak Musik di Jakarta.

Para alumnus Institut Musik Daya itu mengekspresikan pengalaman mereka mengarungi musik jazz dengan pendekatan musik-musik yang relevan di usia mereka. Tak pelak musik mereka disematkan dengan genre psycedelic jazz.

“Dulu unsur psychedelic-nya memang kental sekali, kami ambil sisi improvisasinya dari jazz yang kami temukan di psychedelic rock seperti The Doors, lalu eksplorasi sound dan dinamika yang tidak direncanakan. Kami kan seperti rock and roll di jazz. Justru ini memang kehidupan jazz sebenarnya,” timpal Adra dan Nikita.

Tidak mudah bagi band yang baru memiliki satu album selftitled  (2012) itu memperkenalkan musik mereka sesuai dengan selera pasar atau kultur pop. Walau pamor musik jazz sedang bergensi dalam kultur pop, tidak se­sederhana yang dilihat dengan banyaknya festival jazz dan ramainya tempat-tempat yang memutar musik jazz. Ironinya ialah tidak berimbangnya jumlah musisi jazz yang lahir dengan klub jazz yang tersedia sebagai wadah berekspresi dan mempresentasikan bagi tamu-tamu penggemar jazz dunia. Lebih dalam dari itu, identitas Indonesia justru luntur dengan serbuan budaya Barat lewat jazz masa kini.

Hal inilah yang dipikirkan keempat personel TPE untuk bisa tetap menyajikan musik jazz dengan ciri khas Indonesia tanpa harus memaksakan alat-alat musik atau komposisi tradi­sional di dalamnya.

“Kami infuse ketradisionalan itu ke dalam musik kami menjadi bagian pop culture. Misalkan Adra belajar ritmis Bali, akan diinterpretasikan dengan instrumen yang Adra mainkan. Kami berusaha selalu relevan. Orang-orang urban, terutama yang tinggal di kota besar, tidak perlu merasa terintimidasi tidak bisa eksplorasi musik tradisi, ya tinggal pelajari saja dengan menginterpretasi dari musik yang lo mainkan sekari-hari,” ujar Nikita dan Indra.

Adra pun bercita-cita agar musisi Indonesia itu tetap kedengaran Indonesianya saat memainkan lagu jazz.

“Saya sama Zulham sering main sama orang Rumania, Turki, dan Bulgaria, mereka bisa main lagu jazz kedengaran kalau mereka berasal dari negara itu. Kalau Eropa Timur dan Selatan itu musiknya Balkan. Ke Utara seperti Spanyol, Irlandia, ada Celtic Music, sementara kita beda kota saja sudah beda tradisinya,” lanjut Adra.

 


(DEV)

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

14 hours Ago

Perempuan 29 tahun itu mengawali debut karier sebagai penyanyi solo melalui singel Cinta Terbes…

BERITA LAINNYA