Kunto Aji

Renjana di Belantika Tanah Air

Dzulfikri Putra Malawi    •    19 Maret 2017 10:29 WIB
kunto aji
Renjana di Belantika Tanah Air
Kunto Aji (Foto:MI/Susanto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Singel Terlalu Lama Sendiri berhasil menarik perhatian lebih dari 12 juta penonton kanal konten daring sejak dua tahun diunggah. Kesuksesan itu membawa euforia tersendiri bagi Kunto Aji Wibisono yang sempat hilang arah bermusik.

Pria berusia 30 tahun itu memilih jalur independen di industri musik pascaikut ajang pencarian bakat pada 2008. Kini ia menjadi penyanyi sukses dan berkembang dengan menghasilkan karya-karyanya sendiri meski harus menunggu enam tahun seusai single Terlalu Lama Sendiri (2014).

"Tantangannya baru lagi, saya sempat takut jadi one hit wonder. Hilang arah karena menikmati euforia. Akhirnya saya kembali ke titik nol, untuk meyakinkan diri. Saat itu, saya membuat Terlalu Lama Sendiri tanpa memikirkan akan ada di titik mana dan punya tujuan populer atau tidak, akhirnya saya menghasilkan karya yang jujur dan pesannya sampai ke orang. Saat itu saya berpikir harus keluar dari euforia," kisah Aji dalam sebuah perbincangan bersama Kotak Musik di Kantor Media Indonesia, Rabu (28/2).

Passion yang mengembalikan arah bermusik Kunto Aji. Ia membakar kembali semangatnya berkarya, seperti saat berangkat dari Yogyakarta guna mengikuti ajang pencarian bakat. "Saat itu untuk ke industri musik pintunya hanya satu, harus ke label besar. Kenyataannya, saya dihadapi dunia industri yang membuat saya tidak nyaman. Berarti di sini yang harus dibangun adalah passion-nya," timpalnya.

Perjalanan Kunto Aji menjadi refleksi bagi kebanyakan musikus yang masih mengedepankan proses ketimbang cara-cara instan untuk menjadi terkenal. Bayangkan, di akhir 2015 ia baru mengeluarkan debut albumnya Generation Y. Sebuah album yang sarat makna dan keseluruhan isinya diangkat menjadi single lagu lengkap dengan aktivitas turunannya. Misalnya agenda berkegiatan bersama di akhir pekan bersama penggemarnya.

"Saya ingin membicarakan soal generasi milenial. Ada dua tujuan, secara bisnis, market yang saya tuju adalah generasi Y atau milenial. Yang kedua, saya ingin menyampaikan bahwa saya adalah generasi milenial di generasi Y. Gampangnya klasifikasinya generasi Y itu generasi 90-an. Apa isu yang berkembang di generasi ini, soal percintaan dan keuangan di akhir bulan. Memang semua generasi merasakan ini, tapi saya ingin sampaikan dari sudut pandang saya sendiri yang ada di generasi Y," jelas Kunto Aji.

Lirik yang lugas dan ornamen musik yang khas, terutama alunan instrumen flute, menjadi bumbu musik yang paling mencirikan Kunto Aji. Pidi Baiq dan Dewi Lestari adalah sosok penulis yang menjadi inspirasinya dalam memandang kata-kata. Sementara itu, hasil risetnya menemukan flute sebagai instrumen yang mampu mendampingi karakter suaranya yang serak. Baginya kelembutan suara flute terdengar gently.

"Saya yakin sekali untuk mereka berdua menjadi puitis adalah hal yang mudah, tapi mereka memilih untuk menyampaikan dengan gaya yang lain. Untuk menjadi indah tidak harus puitis. Level ini yang ingin saya capai setelah saat SMP dan SMA sudah saya lalui dengan menulis lagu puitis," kata dia.

Detail

Tidak mudah bagi musikus memikirkan karya sekaligus membangun tim produksi serta aktivitas lagu dan albumnya secara detail. Namun, Kunto Aji ternyata sudah melek detail.

Ia banyak meriset segala hal yang terkait dengan pekerjaannya. Tak hanya itu, ia juga membaca atau melihat lingkungan sekelilingnya untuk kemudian memanfaatkannya secara baik dan benar.

"Generation Y itu adalah generasi yang paling banyak kolaborasi, terjadi cross profesi yang bisa menghasilkan sesuatu yang baru, bahkan di dunia hiburan dengan teman-teman yang sekolah di bisnis akan menghasilkan titik temu."

Ia menyadari hal itu ketika masa peralihan menggunakan teknologi internet. Akhirnya ia terstimulasi untuk lebih kreatif.

"Thinking out of the box, tapi eksekusinya on the box, memaksimalkan dari sumber apa yang kita punya. Namun, semuanya kembali lagi kepada passion saya di musik. Orang bilang saya idealis sekali. Padahal saya sama sekali tidak antilabel. Kalau menemukan kontrak yang adil dan rekan kerja yang cocok kenapa tidak, semua punya plus minus masing-masing. Untuk saat ini kayaknya saya harus jalan sendiri dulu sampai nanti menjadi blueprint yang bisa ditawarkan ke rekan kerja yang bias adil," harapnya.

Simak wawancara lebih mendalam soal pemikiran Kunto Aji serta aksi panggungnya dalam program Kotak Musik. Unduh aplikasi Media Indonesia sekarang juga di Google Play Store dan Appstore untuk dapat mengaksesnya. (M-4)


(DEV)

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

2 weeks Ago

Memulai langkah dengan 'nekat', Souljah kini menjadi salah satu band reggae cukup diseg…

BERITA LAINNYA