Eksplorasi Musik Etnik Tanah Air

Pelangi Karismakristi    •    12 Oktober 2016 18:24 WIB
galeriindonesiakaya
Eksplorasi Musik Etnik Tanah Air
Aksi musik Kinikuno di Galeri Indonesia Kaya. Foto: Metro TV

Metrotvnews.com, Jakarta: Musik etnik (tradisional) kini kurang digemari anak muda. Mereka lebih menyukai genre modern dan tentu saja kekinian. Tapi jangan salah, di tangan grup musik etnik Kunokini dan Mahagenta, musik etnik Indonesia dikemas secara apik dan tentu saja ear catching. 

Kunokini dan Mahagenta merupakan grup musik yang memanfaatkan alat musik tradisional Indonesia. Seperti gendang, kolintang, tifa, kong ah yan, rebana, perkusi, suling, kerang Irian, serunai, sape Dayak,sampelong & saluang dari Padang. Dari alat tradisional itu mereka mencoba mengeksplorasi musik Indonesia.

Salah satu personel Kunokini, Fikri, menilai bahwa kini banyak pemuda yang enggan mendengarkan tembang dengan sentuhan alat musik tradisional. Bahkan, Kunokini pernah dipandang lawan arus dalam industri musik Tanah Air, yang notabene sudah modern.

"Justru kita ingin melebur ke urban. Jadi kita buka kolaborasi dengan musisi-musisi lintas genre yang alat dan perangkatnya kekinian. Makanya namanya (band) Kunokini, kita menginterpretasikan lagi sebuah nama Kunokini seperti apa sekarang," terang musisi yang juga wartawan ini kepada Yovie Widianto.

Untuk lebih memasyarakatkan musik khas nusantara, band yang baru saja mengeluarkan single Hey Baby itu sering menyelenggarakan gerakan yang dinamai "Kembali ke Akar." Baru-baru ini, event yang sudah berusia sekitar 3-4 tahun ini berganti nama menjadi  Bebunyian Nusantara. 

"Sekarang kita coba kolaborasikan lagi dengan delapan disc jokey (DJ) dan produser musik elektronik. Nah gimana caranya kita merekam musik instrumen tradisional, nanti mereka akan menginterpretasikan lagi menjadi musik elektronik. Musik tradisional ini menjadi warna utamanya," imbuh Fikri. 

Sementara, personel lain Kunokini Bhismo melihat bahwa musik dengan warna seperti yang mereka bawakan ini memberikan banyak peluang. "Karena turunan dari musik ini ke bawahnya banyak sekali yang akan bisa dijual, kalau mereka melihat secara bisnis," tukas pria berambut gimbal ini.

Sama halnya dengan Mahagenta yang kini sedang terus berupaya membuka telinga para generasi muda untuk mendengarkan dan mulai gemar menikmati musik-musik etnik. Sebab, menurut salah satu personil Mahagenta, Uyung, musik Indonesia sangat diapresiasi oleh mancanegara, akan sangat disayangkan jika pribuminya tak mencintai lantunan dengan komposisi alat musik tradisional. 

Uyung mengaku, dalam penggarapan aransemen tidak pernah mencoba mengkomparasikannya dengan bentuk musik lain, karena, lanjut dia, jika dibanding-bandingkan (komparasi), bisa jadi proses kreatifnya akan selesai. Kini, yang Mahagenta lakukan adalah dengan pencarian-pencarian yang sifatnya kontemplatif, dimana mereka memainkan sesuatu yang belum banyak dimainkan.

"Kita mencoba mengangkat bagaimana tradisi diminati banyak orang. Itulah upaya kami, seperti kalau dianalogikan ketika samba menjadi musik dunia, kenapa Indonesia tidak bisa bikin itu. Harusnya bisa, itulah yang sedang kita cari. Musik Indonesia yang sebenarnya," terang pria gondrong ini.

Dia mengakui memang belum banyak prestasi yang diraih band yang terbentuk pada 1996 ini. Namun biasanya Mahagenta kerap mengisi berbagai acara kebudayaan di beberapa negara Eropa.

"Satu yang surprise saat saya bikin sebuah scoring film di Norwegia dan difestivalkan seluruh dunia. Alhamdulillah saya mendapatkan 10 besar komposer dunia. Ini bukan karena saya, tapi karena alat tradisional kita (Indonesia) yang satisficated ini, waktu itu saya scoring menggunakan seruling lalove peninggalan dari Sulawesi, Kecapi dan sebagainya," ujar pria bernama lengkap Henri Surya Panguji ini. 

Ke depan, Mahagenta juga akan melakukan konser tunggal dan menghadiri undangan untuk unjuk gigi di Budapest. Tak hanya itu saja, Mahagenta juga membuka kesempatan bagi musisi-musisi luar negeri untuk 'mondok' di padepokannya dan belajar bermusik sekaligus tinggal di sana.

"Saya sih berharap buat para pekerja industri terutama stakeholder untuk lebih membuka diri lagi. Bahwa musik yang kami geluti sebenarnya sangat menjanjikan dari segi kualitas, edukasi bahkan bisnisnya. Mumpung ini belum dilirik banyak orang, mari cepat-cepat kita hidupkan budaya kita ini," pungkas Uyung.

Ingin tahu kelanjutan perbincangan Yovie Widianto bersama Kunokini dan Mahagenta dan ingin melihat langsung aksi panggung mereka? Jangan lewatkan IDEnesia, hanya di Metro TV pada Kamis (12/10/2016), pukul 22.30 WIB. 

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya. 



(ROS)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA