Nonton Ngayogjazz 2017 Gratis dengan Donasi Buku Tulis

Ahmad Mustaqim    •    16 November 2017 21:15 WIB
ngayogjazz
Nonton Ngayogjazz 2017 Gratis dengan Donasi Buku Tulis
Foto: (kiri ke kanan) Rémi Panossian dedengkot grup jazz dari Prancis Rémi Panossian Trio; Sineas Garin Nugroho; Bambang Paningron, salah satu inisiator Ngayogjazz; dan Siswandi, warga Dusun Kledokan. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Yogyakarta: Pertunjukkan musik jazz bertema Ngayogjazz akan menjadi sajian akhir pekan bagi wisatawan ataupun warga di Yogyakarta. Agenda musik jazz yang akan berlangsung ke-11 kalinya ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 18 November 2017, di Dusun Kledokan, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setidaknya ada 35 grup musik jazz lokal, nasional, hingga internasional akan manggung dalam acara itu. Mereka akan manggung di sebanyak lima panggung, yakni panggung Doorstoot, Gerilya, Markas, Serbu, dan Merdeka.

Sejumlah grup musik jazz yang tak asing yakni Endah N Rhesa dan Gugun Blues Shelter. Kedua grup musik jazz itu akan main di panggung Merdeka.

Sementara itu, Ngayogjazz kali ini juga bakal menampilkan kelompok musik jazz dari Prancis, yakni Rémi Panossian Trio. Grup musik jazz dengan dedengkot Rémi Panossian juga beranggotakan Maxime Delporte (bass) dan Frederic Petitprez (drum). Sejauh ini, mereka sudah main di berbagai panggung, seperti di Kanada, Ottawa Jazz Festival, Montreal Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, London Sunfest, dan Enjoy Jazz Festival di Jerman.

Bambang Paningron, salah satu inisiator Ngayogjazz, mengatakan even ini mengusung tema 'Wani Ngejazz Luhur Wekasane'. Menurutnya, tema itu diambil dari peribahasa jawa, 'Wani Ngalah Luhur wekasane', yang berarti siapa yang berani mengalah (bukan berarti kalah) akan mendapatkan kemenangan di saat selanjutnya.

"Dalam Ngayogjazz inilah diharapkan orang bisa sadar untuk mengalahkan ego mereka masing-masing melalui musik jazz. Ada saling mengalah dan menghormati untuk menghasilkan harmonisasi yang serasi, sehingga menjadi 'kemenangan' bersama," ujar Bambang dalam konferensi pers di salah satu hotel di jalan Padjajaran Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Kamis, 16 November 2017.

Menurutnya, lokasi gelaran Ngayogjazz selalu berpindah setiap tahunnya. Semula, Ngayogjazz edisi pertama kali dilakukan di Padepokan Bagong Kussudihardja, lalu berpindah-pindah seperti di Tembi (Bantul) hingga Dukuh Brayut, Pandowoharjo, Sleman.

Lokasi yang selalu berpindah ini sudah menjadi tradisi untuk menciptakan suasana baru sekaligus menciptakan daya tarik masyarakat luas. "Koneksitas masyarakat Yogyakarta makin lengket ketika berpindah-pindah," tuturnya.
 
Penonton akan tetap bisa menikmati musik di Ngayogjazz secara gratis. Namun, panitia hanya mensyaratkan calon penonton mendonasikan buku tulis sebagai ganti tiket masuk.

"Bukunya nanti disumbangkan ke yang membutuhkan. Hingga tahun ke-11 Ngayogjazz ini tetap harus dikritisi, jangan dibiarkan," tuturnya.

Sineas Garin Nugroho, berujar even yang dilaksanakan di lokasi berbeda tiap tahunnya ini menjadi inovasi menghidupkan banyak ruang publik. Menurutnya, pertunjukkan musik tak harus di kota, namun juga bisa di pedesaan.

"Ngayogjazz bisa jadi vaksin menghidupkan ruang publik. Membangun kreativitas tak hanya di kota, tapi di desa," ungkapnya.

Ia menilai, gelaran musik di pedesaan bisa jadi simbol hidupnya kreativitas dalam mengembangkan musik. "Acara yang mampu adaptif sesuai kultur merupakan acara yang bagus. Tak hanya wujud acara tapi cara menyajikan acaranya," jelas Garin.

Siswandi, warga Dusun Kledokan, menambahkan, dusun yang hanya terdiri dua RW itu mayoritas penduduknya berpencaharian petani. Dusun tersebut berada tak jauh dari monumen perjuangan Taruna Plataran, sebuah tempat bersejarah yang menjadi saksi dari sebuah pertempuran pada masa agresi militer ke-2.

"Dusun kami memilik sejarah di masa kemerdekaan. Masyarakat memiliki semangat gotong royong dengan semboyan 3G, yakni guyub, greget, dan gayeng."

Cerita sejarah perjuangan di Kledokan itu menginspirasi penyelenggara Ngayogjazz untuk mengangkatnya menjadi sebuah tema artistik di perhelatannya tahun ini. Salah satunya dengan menamai lima panggung yang dipersiapkan di Kledokan dengan kosakata di masa perjuangan, yaitu Doorstoot, Gerilya, Markas, Serbu, dan Merdeka.
(ELG)