Ajang Pencarian Bakat Belum Efektif Atasi Krisis Lagu Anak-anak

Agustinus Shindu Alpito    •    23 Agustus 2016 18:37 WIB
musik indonesia
Ajang Pencarian Bakat Belum Efektif Atasi Krisis Lagu Anak-anak
Joshua Suherman (Foto: Dok. CR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Joshua Suherman bersama beberapa mantan penyanyi lagu anak-anak, antara lain Tasya Kamila, Dea Ananda, Leony, Enno Lerian, Tina Toon, Puput Melati, Delia Septianti, Rachel Amanda, dan Chikita Meidy, menggagas sebuah kampanye bertema "Save Lagu Anak."

Gerakan itu lahir dari keprihatinan minimnya lagu anak-anak di industri musik Indonesia. Bahkan, mereka menandai kampanye itu dengan singel berjudul Selamatkan Lagu Anak. Singel itu diciptakan Papa T Bob, pencipta lagu anak-anak yang populer di era 1990-an dan awal 2000-an.

Menurut pengamat musik Wendi Putranto, kampanye yang digagas para mantan penyanyi cilik itu menarik, dan bukan tidak mungkin berdampak positif terhadap industri musik anak.

"Banyak anak-anak kecil menyanyi lagu orang dewasa, tidak sesuai dengan perkembangan usia mereka. Dengan adanya inisiatif gerakan ini, gue respect. Sudah seharusnya memang mereka, karena biarpun sudah dewasa mereka dibesarkan oleh industri musik anak-anak. Saat ini sudah tidak ada lagu anak-anak jadi hit. Bisa saja mereka mengembangkan musik anak misal dengan menjadi produser," ujar Wendi saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).

Krisis lagu anak-anak bisa dibilang persoalan serius. Beberapa waktu lalu terjadi kehebohan beredarnya lagu berjudul Lelaki Kerdus di YouTube. Pasalnya, lagu dengan konten lirik dewasa itu dinyanyikan anak-anak. Akibatnya banyak pihak bereaksi atas kejadian itu, termasuk dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Minimnya lagu anak-anak ditengarai jadi sebab para anak-anak mengonsumsi hiburan dewasa. Meski dalam hal ini kontrol orangtua jadi kunci utama.

"Menurut gue kondisinya lagi parah untuk lagu anak. Lihat di chart saja, chart radio atau chart musik, apa ada lagu anak? Anak-anak setiap hari menonton TV, lagu yang ada di televisi yang dinyanyikan. Imbauan juga untuk orangtua untuk lebih mengontrol tontonan anak-anak, bukan malah menonton lagu dewasa di televisi bersama dengan anak-anak," katanya.

Di sisi lain, regenerasi penyanyi cilik cukup dilirik televisi dikemas dalam format ajang pencarian bakat. Menurut Wendi, ragam ajang pencarian bakat yang melibatkan penyanyi cilik tidak berdampak besar terhadap industri lagu anak-anak.

"Dampak langsung tidak ada. Gue percaya idol-idol itu lebih berguna untuk televisinya. Setelah anak-anak itu tidak ada di acara idol itu lagi, sudah tidak ada lagi yang peduli kariernya. Tujuannya hanya untuk reality show, hanya untuk kepentingan televisinya dulu. Acara itu kan mengejar rating, karier anak-anak setelah acara itu selesai dilupakan. Gue melihat itu tidak menjadi obat yang manjur di masa depan. Malah bukan tidak mungkin itu sama saja mempekerjakan anak-anak,” tutup Wendi.

 


(ELG)