Nasib Rilisan Fisik di Era Digital

Putu Radar Bahurekso    •    13 April 2016 16:43 WIB
industri musik
Nasib Rilisan Fisik di Era Digital
kiri ke kanan: Eky, Aji, Widi dan Anton (Foto: Metrotvnews/Putu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Era digital membawa cukup banyak perubahan seperti informasi yang lebih mudah dan cepat, interaksi dalam sosial media, dan juga bentuk digital dari musik.

Kedatangan era ini membuat satu keadaan baru dalam dunia musik yakni, munculnya perilisan musik digital yang kini ramai dicari melalui medium streaming.

Namun, di tengah kencangnya dan meningkatnya rilisan musik digital, ternyata rilisan musik secara fisik hingga kini masih termasuk kuat dalam pasar musik. Hal ini dirasakan oleh tiga label independen yakni Demajors, Organic Records, dan Sorge Records.

Memang, untuk merilis bentuk fisik seperti CD, usaha yang dikeluarkan lebih banyak dan lebih besar dibanding merilis secara digital yang secara modal juga lebih murah.

Tak hanya kuat di pasaran, perilisan fisik masih lebih menguntungkan bagi pihak label. Setidaknya itulah yang hingga kini dirasakan oleh tiga label independen yakni Demajors, Organic Records, dan Sorge Records.

"Untuk di Demajors, saat ini penjualan fisik masih lebih besar dari pada digital. Kalau kita sih yakin rilisan fisik akan tetap laku karena kita ini tumbuh di era yang menghargai bentuk fisik," ujar Anton, perwakilan dari Demajors di kawasan Gandaria, Jakarta.

Hal serupa juga dirasakan oleh label Organic Records, label independen yang menaungi artis seperti Maliq & D’Essentials, dan Rock n Roll Mafia.

"Hingga saat ini lebih laku fisik dari pada digital. Tapi hal ini juga harus disadari bahwa biarpun fisik masih lebih untung tapi tiap tahun keuntungan fisik menurun sedangkan digital bertambah. Kita harus terbuka pada hal ini,” ucap Widi Puradiredja, perwakilan dari Organic Records.

Tak ada bedanya dengan yang dirasakan oleh sebuah label independen asal Bandung yakni Sorge Records.

Dalam dunia musik, Sorge Records masih tergolong baru. Namun, Sorge berhasil mencuri perhatian masyarakat kota kembang dengan memperkenalkan beberapa band yang berada di bawah naungannya seperti Banda Neira, Elemental Geize, dan Griffin’s Holly Grove.

"Sama. Di Sorge juga saat ini masih lebih menguntungkan rilisan fisik dibanding rilisan digital," tegas Eky Alkautsar, perwakilan dari Sorge Records.


Strategi Promosi Fisik

Perlu diakui bahwa sulit untuk merilis rilisan musik dalam bentuk fisik. Tentu yang utama adalah biaya yang lebih mahal. Juga ada usaha lebih yang harus dilakukan seperti misalnya mendesain cover CD, juga melakukan promosi yang lebih kreatif dari pada hanya sekedar share link rilisan digital.

Menjual ataupun menitipkan produk di toko musik masih menjadi yang paling utama dalam promosi rilisan fisik. Tak hanya toko musik, distro pun menjadi salah satu pilihan alternatif dalam menjual produk rilisan fisik.

Hal tersebut juga diakui oleh pihak perwakilan dari tigal label independen yakni Demajors, Organic Records, dan Sorge Records. Demajors sudah memiliki toko musik tersendiri untuk menjual produk-produk rilisan fisiknya. Organic Records dan Sorge Records juga selalu menjual produk-produk mereka melalui store musik.

"Kalau kita kan sudah punya store. Jadi kita menjual lewat store kita juga sih. Terus kita juga bantu jual rilisan fisik band-band lain meskipun bukan dari label kita. Kita enggak takut rugi, karena kita enggak mengangap yang lain sebagai saingan,” tutur Anton.

“Industri musik indie begini harus dimajuin sama-sama. Enggak bisa sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Salah satu yang paling penting dari mempromosikan rilisan fisik adalah usaha dan kemampuan dari musisinya sendiri. Karya yang bagus tentunya yang akan laku. Hal ini memang tampak klise, namun hal ini tidaklah salah.

Aji Anindito, perwakilan dari Organic Records, juga menyetujui hal ini, "Kalau masalah laku ya balik lagi ke karyanya, bagus atau enggak. Ini klise tapi nyata. Terus selain itu juga promosinya harus makin kreatif. Kalau promosinya hanya mengandalakan cara yang biasa dan sudah ada ya tidak akan maju.”

“Kalau band indie begini ya harus kuatin di performance. Kalau hanya sekadar promosi audio sih semua juga bisa, malah bisa nipu karena enggak sesuai sama kenyataan,” lanjut Widi Puradiredja.

"Kalau di Sorge kita awalnya share digital untuk beberapa trek. Kalau memang lagunya bagus orang bakal nyari fisiknya," ujar Eky Alkautsar.

Dalam hal promosi ini Sorge Records juga cukup beruntung. Berdiri dengan hasil kerja sama bersama dengan Koperasi Mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan, mereka kini memiliki kedekatan dengan komunitas mahasiswa yang kemudian terbantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hal branding, maupun promosi.  
 

Melihat Keadaan ke Depan

Hingga saat ini memang keberadaan fisik masih kuat, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan dunia digital yang berkembang begitu pesat.

Bahkan perkembangan dunia digital yang begitu pesat ini, jika tidak dimanfaatkan dengan baik justru akan menjadi sebuah jebakan bagi para musisi yang berusaha memanfaatkannya secara asal-asalan.

"Dengan segala keinstanan ini yang diberikan era digital kepada kita, justru kadang bisa jadi jebakan," ujar Widi.

“Lo kumpul di kamar, nyanyi, main alat musik, terus lo rekam, dan masukin Youtube. Sudah jadi artis, sudah bisa jadi musisi,” lanjutnya.

Keinstanan inilah yang menurut Widi jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan serius yang bisa jadi jebakan.

"Sudah jadi artis lewat dunia maya terus buru-buru rilis single atau album, tapi sebenarnya belum siap,” ucapnya.

“Kita yakin rilisan fisik akan tetap laku. Karena kita tumbuh di era yang menghargai karya fisik. Biar gimana kalau buat saya fisik itu ada suasana dan experience-nya tersendiri. Gimana sih rasanya lo dengar CD terus sambil baca tulisan yang ada di bungkus CD-nya gitu,” Anton menambahkan.

Perilisan digital yang memakan biaya lebih murah tentunya berdampak positif bagi banyak musisi sehingga dapat merilis lagu dengan biaya lebih murah.

"Mungkin fisik bisa bertahan tapi mungkin juga hilang, kita enggak tahu. Tapi online juga harus dikuatin. Soalnya kita harus buka pikiran. Digital bisa dilihat sebagai sebuah solusi karena lebih murah,” kata Aji Anindito.

"Biar bagaimanapun fisik harus kita dukung, tapi jangan sampai kita terlalu terlena juga dengan digital," pungkas Aji.

 


(ELG)