Senandung Senandika, Wujud Kebebasan Berkreasi Maliq & D'Essential

Anindya Legia Putri    •    22 Mei 2017 11:48 WIB
maliq & d essential
Senandung Senandika, Wujud Kebebasan Berkreasi Maliq & D'Essential
Maliq & D'Essential (Foto:Metrotvnews.com/Anindya Legia Putri)

Metrotvnews.com, Jakarta: Grup musik Maliq & D'Essentials telah 15 tahun berkarya. Dan untuk merayakannya, tahun ini mereka merilis album Senandung Senandika, setelah tiga tahun absen.

HUT ke-15 Maliq & D'Essentials berlangsung pada 15 Mei 2017. Perilisan album mereka dilakukan bertepatan dengan acara Traxkustik yang mengusung tema Traxkustik Pop Hari Ini Edisi Senandung Senandika, di Summarecon Mal Serpong, Tangerang, Minggu, 21 Mei 2017.

"Senang peluncuran album kali ini juga disambut baik oleh Trax FM. Tahun lalu, kita pernah kerja sama dengan Trax FM dan acaranya sukses. Jadi kita lanjut di peluncuran album ini. Ini momen yang pas buat Maliq, musik baru, suasana baru, ada koreo baru, hari ini berubah, bukan hanya lagunya tapi juga full konsepnya," ucap sang vokalis, Angga Puradiredja.

Dalam album Senandung Senandika, Maliq mengaku menemukan kebebasan dalam berekspresi. Grup yang awalnya mengusung tema jazz, kini bermetafora  menjadi grup dengan berbagai warna musik. 

"Sekarang ini, kita ada kebebasan mau ngapain saja. Sekarang orang nilai aneh, ya Maliq memang gitu keadaanya.  Mungkin 2 atau 3 tahun lalu aneh dikit, orang langsung bilang wah kok gini nih, enggak jazz.  Tapi kita sekarang ada di titik di mana mulai nyaman dengan musik kita. Dengan kita boleh berekspresi apa saja sekarang. Seperti di album baru ini, ada unsur kasidahan. Itu salah satu bentuk seru-seruan kita di album ini," ucap Widi, drummer dan pencipta lirik lagu di album Senandung Senandita.

Senada dengan Widi, Angga pun merasakan hal yang sama. Menurutnya saat ini Maliq memiliki kebebasan dalam berkreasi, berekspresi dan juga berkarya.

"Apa yang kami tawarkan dalam album ini, seperti kebebasan berekspresi, berkarya, berkreasi. Banyak musisi yang sejak awal sudah berdikir apakah lavunya akan disukai, apakah akan everlasting dan lainnya. Terlebih di era digital saat ini. Banyak yang sudah berpikir seperti itu. Kami juga berfikir, tapi dengan diskusi dan komunikasi yang baik, ya semua berjalan baik. Memang seharusnya saat ini yang kreatif bisa berfikir segila-gila ya. Manajemen bisa menjual segila-gilanya. Karena proses kreatif sekarang ini harusnya lebih gila. Ini kebebasan berkreasi," ujar Angga.


(ROS)