'Senjata Pamungkas' The Resonanz Childrens Choir saat Berkompetisi di Eropa

Cecylia Rura    •    26 April 2018 07:00 WIB
The Resonanz Childrens Choirpaduan suara
'Senjata Pamungkas' The Resonanz Childrens Choir saat Berkompetisi di Eropa
Direktur Musik The Resonanz Music Studio, Avip Priatna bersama piala dan sertifikat kemenangan TRCC dalam kompetisi EGP di Balai Resital Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 25 April 2018. (Foto: Cecylia Rura)

Jakarta: Paduan suara The Resonanz Children's Choir (TRCC) membawakan satu karya musik asal Bali bertajuk Janger, musik Nusantara sebagai senjata pamungkas dalam menjuarai kompetisi bergengsi di Eropa, European Grand Prix (EGP) for Choral Singing yang digelar di Maribor, Slovenia pada 21 April 2018.

"Aransemennya kuat banget, dia (Janger) bisa memberikan impresi sampai penonton pulang terbayang-bayang. Dan saya yakin sekali Janger aransemennya punya kekuatan itu," kata Avip Priatna selaku Direktur Musik The Resonanz Music Studio kepada Medcom.id di kawasan Jakarta Selatan, Rabu, 25 April 2018.

"Ini lagu punya khasnya sendiri. Mengimitasi bunyi-bunyian gamelan. Ada gamelan Bali-nya, kemudian bunyi-bunyi kecaknya ada, bunyi-bunyi sindennya ada, mantra gayatrinya ada. Kaya banget di aransemennya. Temponya ada lambat, cepat banget ada. Kalau dibilang sangat berwarna sekali karya aransemen itu. Sangat kuat," imbuh Avip.

Total ada tujuh karya berdurasi sekitar 22-26 menit yang dibawakan TRCC menjelang kemenangannya saat itu. Sebelum lagu Janger dibawakan sebagai penutup bersama Tari Kecak khas Bali, TRCC memulai aksinya dengan lagu Ad Amore karya komposer Amerika, Lee R. Kesselman. Lagu itu memiliki pesan tersirat tentang cinta.

"Pesannya bagus sekali. Jika kita punya cinta yang memang kita pelihara itu akan selalu, berkilauan. Akan selalu menjadi orang yang, istilahnya kena sinar akan berkilauan. Buat anak-anak pesan itu kena banget, karena anak-anak harus dilatih penuh kasih sayang, jadi benar. Dalam semua aspek enggak cuma musik aja," kata Avip.

Pada lagu selanjutnya melanjutkan musik dengan tema berbeda seperti romantic, renaissance, karya Indonesia modern, hingga tradisional Amerika, hip hop lagu tekno yang dibawakan sebelum Janger sebagai klimaksnya.

"Jadi yang terakhir harus bisa 'nendang' jurinya, yang bikin impresif banget," kata Avip.

Piala EGP kali ini merupakan kali pertama bagi Indonesia yang dibawakan oleh 44 murid The Resonanz yang masih terbilang belia. Mengenakan kostum adat Bali bernuansa putih keemasan, para juri bahkan tak mengenali usia mereka yang sebenarnya masih pada rentang 10-17 tahun.

"Banyak yang enggak percaya kalau itu anak-anak karena dikasih baju Bali," ucap Avip.


 
(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA