Panggung jadi Pendapatan Utama Musisi Saat Ini

Cecylia Rura    •    26 Februari 2018 09:32 WIB
musik
Panggung jadi Pendapatan Utama Musisi Saat Ini
Adib Hidayat (kiri) dan David Karto (kanan). (Foto: Medcom.id/Isti Listiani)

Jakarta: Gencar merilis album via aplikasi streaming tampaknya belum menjadi solusi untuk menciptakan hubungan mutualisme di industri musik. Panggung dan ragam festival masih menjadi pendapatan utama bagi para musisi.

Tak ubahnya disebabkan oleh royalti dan apresiasi karya musik, festival musik juga menjadi bukti riil wadah berkumpulnya para pelaku industri dan konsumen musik untuk berinteraksi.

Situasi ini kemudian menciptakan ekosistem baru di industri musik yang tak hanya menguntungkan bagi para musisi, tetapi juga bagi bisnis pendukung industri musik. Imbasnya, negara terkait yang sukses menggelar festival menarik juga menghasilkan pendapatan di sektor lain, seperti pariwisata.

Simbiosis mutualisme ini yang kemudian menjadi ekosistem baru agar para musisi dunia bisa berkembang.

Jurnalis sekaligus pengamat musik Adib Hidayat memaparkan, Indonesia saat ini telah menjadi bagian dari daftar negara yang diperhitungkan untuk gelaran festival musik skala internasional.

"Indonesia akhirnya masuk ke dalam bagian peta tujuan wisata bagi teman-teman dari negara lain untuk bisa menyaksikan konser yang bagus," kata Adib dalam diskusi Music Talks di Sounds Project Vol. 3 di kawasan Kuningan, Jakarta, Sabtu, 24 Februari 2018.

Untuk mendongkrak animo calon penonton, Adib menambahkan gelaran festival beragam jenis pada akhirnya menjadi sumber pendapatan bagi para musikus saat ini. Dengan perputaran ini, pendapatan musisi dan pelaku industri musik tak lagi terhambat.

"Ekosistem itu berputar. Ternyata, kalau mengundang Si A dan Si B, sold out, nih."

"Setelah manggung, lunas. Tanpa menunggu royalti dulu, lama. Kalau penjualan fisik atau streaming jangan diharap, ya. Belum," lanjut Adib.

Oleh sebab itu, musikus sekarang lebih rajin mencari panggung untuk sekadar menggelar singel show atau bahkan masuk dalam festival musik. Menurut pengamatan Adib, beberapa daerah di Indonesia telah melakukan hal tersebut. Pada akhirnya industri musik akan berekspansi, tak hanya berpusat di kota-kota besar.

"Tidak hanya Jakarta atau Bandung sentris," katanya.

Gerakan untuk melunakkan konsep Jakarta sentris ini dimulai dari Konferensi Musik Indonesia (KAMI) yang akan diselenggarakan di Maluku pada bulan Maret mendatang.

Sebagai modal utama para musisi menjadi headliners acara, diperlukan sebuah lagu atau karya yang memang menarik minat calon konsumen.

Eksistensi Panggung Musik

Festival atau panggung musik akan bertahan lewat penjualan tiket dengan kontrol budgeting yang baik. Jika banyak tiket tak terjual, maka panggung musik jelas dianggap gagal.

"Kelemahannya adalah tiket yang tidak terjual karena tidak dibeli," ungkap Festival Director Synchronize Fest David Karto dalam sesi Music Talks.

Tiket yang tidak dibeli maksudnya adalah tiket yang banyak diberikan secara gratis. Banyak sekarang calon penonton ingin menyaksikan aksi panggung idola mereka, tapi enggan membeli tiket.

Dalam hal ini, baik David dan Adib menekankan ada harga yang sepadan untuk calon penonton yang membeli tiket. Sehingga ketika harga tiket dirasa mahal, tentu sudah menjadi pertimbangan pihak penyelenggara acara menampilkan festival atau panggung yang memuaskan keinginan penonton.

Agar festival benar-benar dianggap menarik oleh penonton ada beberapa trik yang dipaparkan oleh Adib.

"Promosi yang benar, tepat sasaran. Branding sangat penting," katanya.

Selain itu, diperlukan juga strategi khusus untuk menarik minat penonton. Adib mencontohkan, sebuah konser dengan konsep reuni dan diselipkan dalam gelaran konser bergengsi akan menarik banyak minat penonton. Simbiosis ini yang kemudian saling menguntungkan berbagai pihak baik itu musisi, promotor dan penonton dalam acara terkait.


(DEV)