Menyimak Paranoia Anti-Komunis Lewat Lagu Bahaya Komunis

Agustinus Shindu Alpito    •    25 September 2017 19:03 WIB
jason ranti
Menyimak Paranoia Anti-Komunis Lewat Lagu Bahaya Komunis
Jason Ranti saat tampil di Festival musik We The Fest (Foto: Metrotvnews.com/Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Belakangan polemik seputar komunis dan PKI kembali melanda Indonesia. Dalihnya, komunis dianggap masih eksis dan menebar ancaman kesatuan bangsa. Pada Minggu, 17 September lalu, Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dikepung oleh sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang mengaku anti-komunis.

Pengepungan itu bermula dari anggapan beberapa ormas anti-komunis bahwa acara bertajuk Asik Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi  yang diselenggarakan oleh LBH Jakarta mengandung unsur-unsur komunisme.

Alghiffari Aqsa, Direktur LBH Jakarta, memastikan bahwa acara tersebut merupakan bentuk ekspresi kesenian dalam wujud puisi dan musik. Mereka mengekspresikan diri atas keprihatinan pembubaran seminar sejarah 65 yang dibubarkan aparat di Gedung YLBHI.

Paranoia atas kebangkitan komunisme ini dipotret dengan apik oleh musisi folk Jason Ranti. Singel Bahaya Komunis  yang terdapat dalam album debut Jason Ranti, Akibat Pergaulan Blues, mampu merekam dengan baik bagaimana mereka yang anti-komunisme mereka-reka ketakutan dalam berbagai cara, termasuk mengaitkan yang tidak terkait.

Cara Jason terbilang cerdas, tanpa menyudutkan salah satu pihak, dia justru mengajak kita untuk masuk dan hidup dalam logika mereka yang paranoia.  

Metrotvnews.com sendiri sebenarnya telah mengulas perihal Bahaya Komunis lewat artikel Jalan Pikir Jason Ranti yang dipublikasikan awal Agustus lalu. (Artikel dapat di baca di sini)

Dalam wawancara itu, Jason mengaku lagu Bahaya Komunis  lahir dari sikap para politikus yang memuakkan yang terus menggoreng isu komunisme untuk kepentingan-kepentingan tertentu dan memperdaya masyarakat akar rumput agar terhasut.

“Kalau Bahaya Komunis  sebenarnya gue muak. Ada sebuah video yang viral, katanya sih tokoh masyarakat (menyebut salah satu nama tokoh agama). Dia bilang di sebuah simposium yang serius, ada banner gede, intinya spanduk itu tulisannya, ‘Bangkitnya PKI Gaya Baru.’Terus dia bilang patung tugu tani semestinya ditangkap karena membawa senjata. Enggak tahu itu dia serius apa enggak. Yang gue tangkap itu dia serius. Dia ngomong dengan muka serius. Di satu sisi gue kayak, ‘Emang lo pikir kita orang bego gitu? Enggak lagi!’”

“Seperti ada orang-orang yang melakukan trik-trik tertentu, manuver-manuver tertentu. Dan dia pikir kita orang berhasil dia kelabui,” kata Jason.

Di industri musik populer Indonesia pada saat ini, sangat jarang musisi menyinggung kata “komunis” meski sekedar mencuplik isu sosial yang ada. Bisa dibilang, Jason satu-satunya musisi yang merekam fenomena paranoia kebangkitan komunis lewat sebuah lagu yang dirilis dalam album.

Lirik Bahaya Komunis  sendiri mungkin terdengar menggelitik dan memberi kesan bahwa sang penyanyi sedang ingin melucu. Namun kenyataannya tidak. Jason mengaku cukup serius dalam menyusun lirik ironi yang terdengar cukup satire itu.

“Awalnya gue pikir semua yang gue tulis itu serius. Sampai gue berpikir, ‘Yang gue tulis itu serius karena gue bukan komedian.’ Terus pas mulai sering manggung gue lihat respons penonton kok ketawa. Padahal gue enggak melucu,” kata Jason.

“(Lagu-lagu gue) bukan untuk melucu. Gue enggak paham sarkasme atau majas-majas itu, gue ambil sudut pandang yang memang seperti ini. Cuma gue sekarang merasa agak minder membawakan Bahaya Komunis.”

“Misalnya begini, waktu gue menulis itu (Bahaya Komunis), ternyata semua yang gue bayangkan, semua hal yang kira-kira gue bisa hubung-hubungkan padahal enggak ada hubungannya, ternyata ada yang lebih lagi. Setelah melihat video Habib Rizieq mengatakan ada simbol palu-arit di uang kertas, gue merasa kalah! Secara imajinasi gue kalah. Jadi, gue merasa dalam banyak hal seniman itu kalah. Contoh Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dia menipu sudah bertahun-tahun, yang percaya ribuan orang. Itu akting tingkat dewa. Gue enggak pernah bertemu aktor yang bisa akting 24/7. Gue enggak tahu apakah itu bakat alam atau totalitas yang jahat. Gila ada orang yang aktingnya real banget. Atau orang-orang yang biasa menulis hoax, itu jago banget. Penulis cerpen kalah. Lihat politikus di televisi gue tahu itu akting, itu bokis (bohong), tetapi aktingnya gila,” jelas Jason.

Penggalan lirik Bahaya Komunis  terasa menggelitik sejak bait pertama, simak lirik berikut ini, “Terus terang aku khawatir dengan komunis di tanah air, yang belakangan hidup kembali dari dalam gang, di pikiran, di pinggiran, di selangkangan. Ini mungkin tanda-tanda kudetanya yang mutakhir, Ooo… telepon nine one one!”

Bagian lirik lain yang juga menarik adalah, “Aku siaga, selalu waspada, bahaya merah di mana-mana. Kini curiga waktu kulihat istri tercinta rambutnya merah, bibirnya merah, behanya merah, kukunya merah, sepatunya merah. Oh, istriku mengapa kau merah?Mungkin ia agen rahasia? Oooo, sudah kuduga.”

Penggalan lirik di atas seperti menyadarkan kita akan pentingnya mencerna informasi dengan logika yang benar. Karena adalah ironi di era keterbukaan informasi saat ini, kita justru sering terjebak pada informasi palsu hanya karena malas melakukan verifikasi informasi dan menutup akal sehat rapat-rapat, justru mengedepankan rasa benci dan dengki.

“Kalau lo bertanya cara mengedukasi (masyarakat dalam mencerna informasi seputar komunis), gue juga enggak tahu. Tetapi ya itu jadi masalah semuanya. Maksudnya kasihan mereka (orang yang berpikiran sempit). Anggap saja lo tahu (kalau propaganda yang ada tidak sesuai logika), tetapi kasihan orang yang enggak tahu. Yang susah adalah orang-orang yang pikirannya tertutup. Benar istilah kalau bodoh itu enggak ada batasnya. Kalau pintar kan ada batasannya. Terus satu hal juga, banyak orang sekarang yang susah diajak dialog, diskusi, kecuali mungkin masuk lewat humor,” tukas Jason.

Di era yang sepertinya demokratis, terbuka, dan serba canggih ini justru ancaman pengekangan pikiran dan pendapat datang dari berbagai penjuru. Semoga saja sederet premis yang ditulis Jason dalam Bahaya Komunis  hanya hidup dalam lagu itu. Tentu tidak lucu bukan jika ilmu aritmatika dilarang karena mengandung kata "arit"?


(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

5 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA