Tohpati Menyayangkan Festival Musik Jazz yang Kehilangan Jati Diri

Agustinus Shindu Alpito    •    18 September 2017 16:01 WIB
tohpati
Tohpati Menyayangkan Festival Musik Jazz yang Kehilangan Jati Diri
Ilustrasi Foto, Java Jazz 2015 (Foto: MI/Panca Syurkani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gitaris sekaligus produser musik Tohpati dikenal aktif dalam berbagai proyek musik jazz. Pemilik nama asli Tohpati Ario Hutomo itu sebelumnya dikenal sebagai personel grup jazz simakDialog. Dia juga menjadi sempat merilis album bersama gitaris jazz Dewa Budjana dan Balawan lewat proyek musik bernama Trisum.

Kini, Tohpati aktif bermusik dengan grup Tohpati Bertiga yang juga melibatkan bassist Indro Hardjodikoro dan drummer Aditya Wibowo (juga dikenal sebagai drummer Gugun Blues Shelter). Kerap tampil di berbagai festival musik dengan embel-embel “jazz,” Tohpati memiliki kegelisahan tersendiri. Terutama pada acara jazz yang justru tidak memberikan porsi lebih pada musik jazz itu sendiri. Hal itu diungkapkan Tohpati dalam jumpa pers Senggigi Sunset Jazz 2017 yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (18/9/2017).

“Sekarang ada banyak sekali event jazz, ada beberapa event yang bilang jazz tetapi enggak ada konten jazz-nya. Menurut saya itu pembohongan publik. Bagaimana misalnya ada festival musik rock yang main semuanya keroncong. Itu tidak mengedukasi masyarakat,” kata Tohpati.

Menurut Tohpati, kekayaan sub-genre dalam musik jazz patut diperkenalkan kepada masyarakat luas, sehingga wawasan awam akan musik jazz semakin bertambah.

“Enggak masalah (ada musisi pop atau genre lain) tetapi musik jazz-nya harus lebih besar. Di The Hague Jazz Festival yang main ada Joe Satriani, Yngwie, tetapi porsi musisi jazz-nya harus lebih besar. Saya kecewa kalau ada event jazz tetapi dikit musisi jazz-nya, bukan saya cemburu ingin main, tetapi ini bagian dari pendidikan (terhadap masyarakat), sehingga harus menginformasikan kepada masyarakat yang benar.jangan bilangnya jazz tetapi enggak ada musisi jazz-nya,” lanjut Tohpati.

Untuk mewujudkan festival musik jazz yang ideal, menurut Tohpati butuh sinergi dan kesadaran kolektif dari penyelenggara dan para musisi.

“Dari EO (Event Organizer) harus benar niatnya, kalau mau menggelar event jazz dia harus tahu jazz seperti apa. Terus tempatnya di mana, terus visinya apakah untuk mencari untuk atau membangun daerah. Banyak event jazz tapi salah tempat. Saya sering diundang tapi tempatnya di tempat dugem (diskotik atau klub malam) saya enggak mau. Kalau di tempat seperti itu komunitas jazz pasti enggak dateng, harus diperhatikan tempatnya.”

“Pelaku jazz (musisi) juga harus kompak. Tidak semata kesalahan EO dan sponsor. Jazz dianggap susah, tetapi PR (Pekerjaan Rumah) musisi itu bagaiamana caranya (mengedukasi). Musisi harus open, menyiasati bagaimana karya yang dianggap susah tetapi bisa diterima. misal pakai vokal enggak harus jazz instrumental, cuma idiom jazz-nya harus dibalut dengan benar, jangan cuma sedikit funky dibilang jazz. Pintar-pintar musisinya. Musisi jangan asal main terima, cari duit boleh tetapi pertimbangkan apakah main di situ enak enggak? Worth it  enggak? komunitasnya ada enggak? Bisa dinikmati enggak? Dan step yang lebih jauh apakah bisa mengedukasi? Jangan sampai membuat energi di tempat yang salah. Dari situ EO akan mengoreksi juga. Event yang sukses menurut aku bukan hanya banyak yang menonton, kalau memang acara seni ya harus diapresiasi dengan baik,” jelas Tohpati.

Pekan depan Tohpati Bertiga akan tampil di Senggigi Sunset Jazz 2017. Acara yang digelar pada 22 & 23 September itu memadukan musik jazz, budaya lokal dan Pantai Senggigi yang menjadi ikon pariwisata Lombok Barat.

Sebelumnya, opini soal festival musik embel-embel jazz sempat mencuat di media sosial. Beberapa musisi memiliki opini terkait hal ini, salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Tompi melalui akun Instagram pribadinya. Pembahasan isu festival musik dengan embel-embel jazz dapat dibaca pada artikel ini.


(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

1 day Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA