Hitam Putih Orche, Album Terakhir Leo Kristi

Agustinus Shindu Alpito    •    21 Mei 2017 11:40 WIB
leo kristi
Hitam Putih Orche, Album Terakhir Leo Kristi
(Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada 2015, Leo Kristi sempat merilis album bertajuk Hitam Putih Orche. Album itu diluncurkan ketika Leo berusia 65 tahun. 


Hitam Putih Orche adalah album yang sempurna. Berisi sebelas lagu lama plus satu lagu baru, proses aransemen album itu melibatkan Singgih Sanjaya yang menyertakan pasukan pemain orkestranya.
 
Menurut catatan Ramdan Malik, jurnalis sekaligus penggemar Leo Kristi, dalam situs hitamputihorche.com, Leo memang dari dulu menginginkan adanya orkestra dalam lagu-lagunya. Namun tidak memberikan unsur megah dan mewah. Impian Leo sekitar dua dekade silam itu benar-benar terwujud pada 2015.
 
Bens Leo, pengamat musik, mengatakan bahwa album Hitam Putih Orche  adalah titik puncak perjalanan Leo Kristi. Album itu dibiayai oleh LKers - sebutan untuk penggemar Leo Kristi. Di Indonesia, sangat jarang terjadi peristiwa penggemar bersama-sama patungan untuk membiayai pendanaan pembuatan album idola mereka. Tentu ini adalah gambaran hubungan yang kuat antara Leo dengan para LKers. 
 
Leo bukan semata menyuguhkan musik, namun dia mampu menghadirkan lagu yang hidup. Mewakili semangat juang masyarakat kelas pekerja di Indonesia.
 
"Album itu menarik karena ada aransemen orkestra. Bintang tamunya menarik, Trie Utami dan Berlian Hutauruk. Keduanya awalnya tidak begitu menguasai musik Leo Kristi, namun mereka menghormati Mas Leo. Album itu didanai oleh LKers, penggemar Leo Kristi. Itu fan loyal yang luar biasa," kata Bens Leo saat dihubungi Minggu pagi (21/5/2017).
 
Album itu juga melibatkan gitaris top Dewa Budjana, dan Balawan. Juga didukung musisi eksperimental Wukir Suryadi, dan Cecilia Fransischa. Deretan nama musisi berintegritas yang terlibat dalam album Leo semakin membuktikan bahwa dia bukan musisi sembarangan. Eksis sejak era 1970-an, Leo mampu mempertahankan konsistensi bermusik di tengah situasi industri yang tak tentu. Ini membutikan bahwa Leo adalah musisi folk sejati, yang berkarya dari kegelisahan, bukan semata soal keuntungan.
 
Bens Leo juga mengisahkan bahwa dirinya mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan anugerah kebudayaan kepada Leo. Hal itu terwujud di tahun 2016. Dedikasi Leo yang besar membuat dirinya pantas mendapat penghargaan itu.
 
Album Hitam Putih Orche  direkam di Yogyakarta. Album itu adalah penutup yang manis dari pengembaraan Leo mengarungi zaman.

Selamat jalan, Leo Kristi.

(DEV)