Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Perjuangan Jimi "The Upstairs" Tonton Konser Metallica 1993

Cecylia Rura    •    10 April 2018 10:30 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Perjuangan Jimi
Jimi Multhazam (Foto: Facebook The Upstairs)

Jakarta: "Ada yang berdiri, dihajar pakai rotan waktu itu," kata Jimi.

Jimi Multhazam yang kini dikenal sebagai penggawa band The Upstairs dan Morfem adalah bagian dari momen kerusuhan di pentas perdana Metallica di Indonesia pada April 1993 silam. Jimi yang saat itu baru lulus dari bangku SMA dan mulai menapaki dunia kerja sebagai animator untuk film Jepang terobsesi menyaksikan grup musik cadas asal California tersebut.

Untuk membeli selembar tiket masuk saat itu, ia harus menyisihkan uang makan dari tempat kerjanya selama satu bulan.

Kepada Medcom.id, Jimi mencoba menceritakan kronologi zaman susah dan perjuangan penonton legal menyaksikan konser favoritnya kala itu.


Konser Metallica menjadi materi liputan eksklusif majalah Hai (Foto: MAJALAH HAI)


Harga tiket yang dipatok pihak promotor AIRO saat itu berkisar Rp30 ribu untuk kelas tribun bawah hingga Rp150 ribu untuk kelas VIP.

Sambil tertawa pilu dan mengenang, ia merasakan bagaimana sebagai seorang penonton masih harus berhadapan dengan aparat ABRI, yang ikut mengamankan area konser.

"Kita yang udah beli tiket pun disuruh masuk jalan jongkok ke dalam venue. Jalan jongkok sampai depan pagar baru bisa berdiri. Sampai depan pagar Lebak Bulus. Jadi, dari depan pintu stadion kita jalan jongkok, sampai pintu yang dalamnya baru kita boleh berdiri masuk ke dalam itu," cerita Jimi.

"Ada yang berdiri, dihajar pakai rotan waktu itu."

Sejatinya Jimi bersama penonton lain datang dengan dandanan rambut gondrong untuk menikmati Metallica, menganggap kerusuhan telah terjadi dan mereka memilih bersikap biasa saja.

"Itulah orde baru. Makanya pas masuk kita udah dipukul-pukulin," katanya lagi.

Suasana riuh amarah perusuh kala itu tak terasa ketika Jimi sudah memasuki area stadion. Jimi saat itu hadir di hari pertama pada Sabtu, 10 April 1993. Namun, setelah grup musik pembuka Rotor memainkan beberapa nomor lagu, Jimi bersama penonton lain melihat beberapa warung di area luar stadion dalam keadaan terbakar. Saat itu juga, sekitar pukul 18.00 WIB pintu dibuka untuk membiarkan para penonton yang tak memiliki tiket masuk ke stadion. Istilahnya, penonton jebolan.

"Pertama kalinya dalam seumur hidup gue baru lulus SMA, ada mobil terbalik, berasap, bannya udah enggak kelihatan, udah hancur."

Sepanjang jalan, ABRI (kini TNI) membentuk barisan lebih kurang 100 meter, menurut pandangan Jimi, aparat yang bertugas kala itu tampak masih muda. Tidak jauh berbeda usianya dengan Jimi.

Sebagai bentuk antisipasi keadaan lebih rusuh, lagi-lagi para aparat menggunakan rotan untuk menyuruh para penonton segera berlari memasuki stadion untuk menghindari para perusuh yang beringas dan memberontak.

"Mereka menyuruh kita lari, kalau kita enggak lari kita dipukul pakai rotan."


Aparat melakukan pengecekan tubuh para penonton konser Metallica di Jakarta, 1993 (Foto: Media Indonesia/Gino Franki Hadi)


Tak pandang bulu baik itu penonton yang memegang tiket Rp30 ribu maupun kelas VIP sekalipun, semua diperlakukan sama oleh aparat.

"Gue juga enggak ngerti kenapa harus lari tapi gua ingat banget tentara-tentara itu memukul gue. Enggak gitu seharusnya cara aparat memperlakukan kita sebagai pentonton yang bayar. 'Woy, gue bayar, capek habis lari.' Lu enggak mau lari? Dihajar. Ini gua yang (beli tiket) normal, gimana yang lain. Sampai habis," cerita Jimi.

Demi Metallica, Jimi rela mengayuh sepeda dari Pondok Bambu sampai Kampung Melayu, untuk kemudian menyambung dengan kendaraan lain. Tak lupa dia menyiapkan bekal sekotak nasi panas. Uang makan sebagai trainee animator untuk film Jepang menjadi modal utamanya untuk bisa membeli tiket konser Metallica.

Kendati pengalaman pahit itu dirasakan betul oleh musisi berusia 44 tahun itu, ada momen manis yang selalu dikenang ketika berusaha menerobos kerusuhan dan pulang berjalan kaki sampai Blok M.

"Gua juga enggak tahu sampai lari berapa meter, jauh. Habis itu gua jalan kaki sampai Blok M. Transportasi angkot udah ramai. Nah, itu kita rame-rame. 'Wah, habis Metallica, ya?' Kerennya di situ sih akhirnya. Jadinya jalannya bergerombol sampai ke Blok M, gondrong-gondrong, kaus culun. Beda sama yang pulang ke Pondok Indah," kelakar Jimi.

Meski konser terbilang rusuh, Jimi merasa puas karena dapat menyaksikan konser sekelas Metallica dengan perjuangan dan momen yang tak terlupakan. Untuk pertama kalinya, ia berkesempatan menyaksikan konser dengan sound system terbaik dan set panggung yang megah kala itu.

Saat Metallica kembali menyambangi Indonesia pada Agustus 2013 lalu, Jimi mengaku tak lagi menyaksikan aksi James Hetfield dan kawan-kawan. Sudah tak ada minat baginya menyaksikan aksi panggung Metallica.

"Sudah enggak nonton gue (konser Metallica di Jakarta, 2013), sudah enggak senang Metallica."

Konser perdana Metallica di Indonesia berlangsung di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, selama dua hari pada Sabtu, 10 April 1993 dan Minggu, 11 April 1993. Kerusuhan terjadi lantaran gedung berkapasitas 40.000 orang itu tak mampu lagi menampung banyaknya penonton (termasuk yang tidak memiliki tiket). Massa yang lelah, kecewa dan harus berhadapan dengan aparat tak kuasa menahan emosi hingga terjadi kerusuhan.



 


(ASA)