Kontroversi di Balik Lagu Viral "Sayur Kol"

Cecylia Rura    •    14 Desember 2018 06:00 WIB
musik indonesiaPunxgoaran
Kontroversi di Balik Lagu Viral
Punxgoaran (Foto: dok. Punxgoaran)

Jakarta: Lagu Sayur Kol besutan Punxgoaran tetiba meledak setelah video anak kecil yang menyanyikan lagu itu menyebar di media sosial. Video itu menuai pro dan kontra dari kacamata masyarakat. Biangnya pada penggalan lirik berikut:

"Sayur Kol, Sayur Kol
Makan daging anjing dengan sayur kol
Sayur Kol, Sayur Kol,
Makan daging anjing dengan sayur kol"

Garda Satwa Indonesia, organisasi non-profit menyatakan sikap penolakan terhadap penggalan lirik lagu Sayur Kol dari Punxgoaran. Sebagai pendukung sikap penolakan, melalui akun Instagram komunitas pemerhati hewan itu mengunggah video situasi dapur proses memasak anjing.

Guido F. Hutagalung, vokalis Punxgoaran menjelaskan makna dari lagu itu adalah gambaran situasi tradisi masyarakat Sumatra Utara ketika saling bertemu. Ada kebiasaan saling menjamu antarwarga ketika berkunjung ke rumah.

"Isi dari lirik lagu sebenarnya, pesannya bukan 'Yuk, kita makan daging anjing.' Bukan. Kami terinspirasi dari seseorang yang berjalan-jalan ke Kota Siborong Borong. Kebetulan, seseorang ini laki-laki, kita katakan si abang," papar Guido saat dihubungi Medcom.id melalui sambungan telepon, Kamis 13 Desember 2018.

Dengan runtut, Guido menjelaskan cerita di balik penggalan lirik "Makan Anjing."

"Si Abang ini ketemu dengan seorang ibu. Di mana pada saat mereka bertemu dan bertegur sapa, saling tahu kamu di mana tinggalnya, itu yang diartikan dengan martarombo. Nyatanya Si Abang ini memang harus panggil namboru sama si ibu ini. Dan ibu ini menyambut baik tentang sosok dia yang datang, bertemu di Siborong Borong dan mengajak makan di rumahnya," ceritanya.

Ajakan namboru diceritakan menarik perhatian si abang. Namun, tak disangka makanan yang dia santap adalah daging anjing.

"Si laki-lakinya, (merasa) suatu hal yang menarik dari dia. Hal yang terkejut itu bahwasannya dia mengetahui, dia diajak makan, dia mengetahui itu daging anjing setelah dia selesai makan. Kok enak banget. Iya, namboru. Iya itu daging anjing. Hah? Itu dia."

"Jadi makna lagu dia terheran-heran itu lebih luas, bukan karena dia melihat kota itu (lalu) terheran-heran. Tapi, situasi itu yang membuatnya terheran-heran. Dia terkejut karena dia enggak terbiasa untuk makan daging anjing. Itu inspirasinya," jelas Guido.

"Tapi orang-orang memelintirkan bahwasannya kita mengampanyekan untuk makan daging anjing," sambungnya.

Menyoal fenomena lagu Sayur Kol yang mendadak viral, Guido tak menanggapi hal itu dengan serius. Sebagai musisi rock punk representasi dari pemuda Batak, niat bermusiknya untuk melestarikan budaya Batak.

"Kami melihat itu biasa. Karena yang menjadi jargon dari Punxgoaran itu ya budaya, Batak, seni, ya itu ranah kita bahwasanya ranah dari Punxgoaran itu bukan mengurusi anjing. Pekerjaan kami itu, ya kami band Batak. Yang inspirasinya mengangkat kearifan lokal yang ada di sekitar kami. Pekerjaan kami itu main band, bukan kerjaan kami mengurusi anjing," tegasnya.

 


(ELG)