Menikmati Musim Kolaborasi Para Musisi

Agustinus Shindu Alpito    •    17 Agustus 2017 07:11 WIB
kerja bersama
Menikmati Musim Kolaborasi Para Musisi
Kolaborasi Raisa dan Isyana (Foto: Youtube)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dua tahun terakhir, panggung musik Indonesia diwarnai oleh berbagai aksi kolaborasi. Menariknya, kolaborasi yang hadir mampu menghadirkan semarak yang unik karena melibatkan para musisi dengan latar belakang jenis musik yang berbeda.

Unreleased Project misal, proyek kolaborasi yang didanai salah satu korporasi rokok itu mampu mengumpulkan 12 band untuk kemudian "dikawinkan silang" menjadi enam proyek musik baru, yaitu Barasuara dengan Scaller, Kelompok Penerbang Roket dengan Kimokal, Elephant Kind dengan Rock N Roll Mafia, Payung Teduh dengan Mocca, The Brandals dengan Agrikulture, dan Silampukau dengan The Hydrant.

Baca juga : 12 Band Lintas Genre Berkolaborasi


Sebelumnya, pada 2015, lebih dulu hadir kolaborasi pentas antara Barasuara dengan Efek Rumah Kaca, juga White Shoes and The Couples Company dengan grup SKA Sentimental Moods dalam proyek bernama Artwarding Night. Namun sayang, kolaborasi ini tidak bermuara pada sesi rekaman.

Unreleased Project bukan satu-satunya program kolaborasi yang rencananya akan berujung pada rekaman. Terdapat pula kolaborasi yang lahir dari inisiatif masing-masing grup atau label seperti DDHEAR yang digagas Dialog Dini Hari dengan Endah N Rhesa, Kotak dengan Kikan, Raisa dengan Isyana Sarasvati, Rocket Rockers dan Midnight Quickie, juga kolaborasi lintas era seperti The Groove dan Maliq D’Essentials yang dapat kita nikmati lewat album dan singel.

Semangat kolaborasi ini ditengarai merangsang semarak industri musik untuk menghasilkan sesuatu yang lebih menyegarkan, sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menarik.

Menurut Iga Massardi, gitaris sekaligus vokalis Barasuara, kolaborasi adalah sarana sehat bagi para musisi untuk memperkaya diri. Baik dari segi teknis maupun non-teknis.

"Dalam setiap proses kolaborasi itu adalah proses pembelajaran buat gue sebagai musisi, dan kita bakan keluar dari apa yang biasa kita lakukan, keluar dari comfort zone. Gue misal kolaborasi sama Efek Rumah Kaca, itu gue belajar sekali bagaimana struktur mereka dalam menulis lagu, terus gue ada kesempatan kolaborasi dengan Indra Lesmana. Itu kolaborasi yang membuat kepala gue ingin meledak, bagaimana melihat beliau bermain. Dia seorang maestro, dan sang maestro memainkan lagu lo. Itu penghargaan paling luar biasa yang bisa lo harapkan sebagai musisi. Banyak sekali yang gue serap, secara skill dan non skill,” kata Iga.


Sumber: Youtube senang96

Penyanyi Danilla Riyadi yang sedang mengerjakan proyek kolaborasi bersama Mondo Gascaro memiliki pendapat serupa. Bahwa tren kolaborasi membawa dampak positif bagi para musisi, juga penggemar musik Indonesia.

“Gue merasa bisa kolaborasi ini menghasilkan musik lebih baru lagi, juga (menjadi pemicu) generasi baru (untuk) menghasilkan musik yang lebih baru lagi,” ujar Danilla.

Kolaborasi Itu Soal Kesetaraan

Kolaborasi adalah soal kesetaraan, itulah yang diungkapkan Iga Massardi. Kolaborasi bukan semata menggabungkan dua band atau musisi berbeda, tetapi harus terjadi komunikasi seimbang dan sikap saling terbuka tanpa merasa salah satu lebih baik dari lainnya.

“Dalam kolaborasi, lo belajar enggak bisa memaksakan ego lo terhadap kolaborator lo. Misalnya lo enggak sreg, lo harus bisa melihat dalam konteks yang lebih besar lagi. Misal lo memaksakan ego lo, itu akan mengacaukan chemistry-nya. Belajar menahan ego dan bisa menyesuaikan bersama, ibaratnya musyawarah untuk mufakat.”

“Kolaborasi itu bukan pertandingan, menentukan siapa yang lebih kuat pengaruhnya. Kalau berpikir seperti itu, lo salah. Tetapi, kolaborasi itu soal kesetaraan. Tidak ada yang mendominasi,” papar Iga.

Iga bersama Barasuara punya banyak pengalaman soal kolaborasi. Selain bersama Efek Rumah Kaca, Barasuara pernah berkolaborasi dengan Indra Lesmana dan Adra Karim, juga Ron King Horn Section, dan saat ini dalam proses lokakarya untuk membuat musik bersama Scaller.

Baca: Barasuara dan Scaller Bawakan Lagu Kolaborasi Pertama Kali

Sayangnya, kolaborasi-kolaborasi menarik yang hadir belakangan tidak semuanya berujung pada rekaman. Sehingga beberapa di antaranya “menguap” begitu saja. Beberapa di antaranya terselamatkan lewat dokumentasi penggemar yang diunggah ke YouTube dan media sosial.

Beda Kolaborasi Era Dulu dan Kini

Sebenarnya, tren kolaborasi bukan baru-baru ini saja terjadi di Indonesia. Sejarah musik kita menunjukkan bahwa kolaborasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari industri musik. Album Guruh Gipsy misal, album yang disebut-sebut sebagai salah satu album terbaik sepanjang sejarah musik Indonesia itu lahir dari kolaborasi Guruh Soekarnoputra dengan grup musik Gipsy.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara kolaborasi era dulu dan saat ini. Hal itu dikemukakan langsung oleh musisi Yockie Suryoprayogo.

Menurut Yockie, kolaborasi era dulu, periode 1970-an hingga 1980-an , hanya mengandalkan asas persahabatan, tidak secara profesional yang menyangkut soal pembagian hasil dan sebagainya. Hal itu tidak lepas dari iklim industri kala itu yang jauh berbeda dibanding saat ini.

"Zaman dulu kolaborasi hidup karena tuntutan hidup belum seperti sekarang. Lahir dari nongkrong bareng. Sekarang bagaimana caranya menghidupkan kondisi seperti itu dengan konteks hari ini, dan semangat kebersamaan,” kata Yockie.

Yockie sendiri merasakan bagaimana dia mendapat kemudahan berkolaborasi dengan musisi-musisi terbaik di zamannya, ketika membuat album Musik Saya Adalah Saya (1979). Kala itu, para kolaborator membantu Yockie secara sukarela, tanpa tarif dan kesepakatan bisnis secara profesional.

Harus diakui bahwa korporat memiliki andil besar terhadap hadirnya kolaborasi para musisi era kini. Tentu dengan masuknya korporasi yang menjadi sponsor, urusan kolaborasi tidak lagi semata berdasar asas persahabatan dan mengesampingkan urusan matematika. Meski demikian, Iga menegaskan bahwa karya dan urusan pasar bisa saja berjalan bersama, tanpa harus mengorbankan idealisme musisi.

"Menurut gue kolaborasi itu untuk musisi sendiri, bukan untuk jualan. Walaupun pada akhirnya ada produk yang bisa dijual. Akan percuma juga kalau hanya sekadar berjualan tapi dari kolaborasi itu sendiri tidak akur."

"Semua bentuk seni sebenarnya bisa dijual. Cuma definisi jual menurut gue adalah ketika karya bagus itu bisa diakses seluas-luasnya dan sebanyak-banyakya. Tidak ada nilai eksklusivitas, atau musik bagus hanya punya segelintir orang. Menurut gue, maaf, sangat tolol kalau berpikir seperti itu," papar Iga.

Lepas dari apapun tujuannya, semangat kolaborasi dalam bidang kreatif, khususnya musik patut dirayakan dengan apreasiasi dan terus dilestarikan. Kolaborasi dalam perjalanannya menjadi kultur yang tidak bisa dipisahkan dalam musik Indonesia.



 


(ELG)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

3 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA