Pandangan David Tarigan soal Industri Musik Masa Kini

Cecylia Rura    •    27 Januari 2019 13:22 WIB
musik
Pandangan David Tarigan soal Industri Musik Masa Kini
Diskusi rilisan fisik dan digital di Joglo Beer Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu 26 Januari 2019. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Pengamat musik sekaligus salah satu penggagas Irama Nusantara, David Tarigan menilai rilisan fisik dan digital musik masa kini masih sama-sama menarik. Tergantung idealisme penikmat musiknya.

"Industri musik bukan sekadar industri rekaman, itu luas sekali. Ada ha-hal yang memang yang esensial seperti live performance dan lain-lain sampai kapan pun akan tetap menjadi utama, kalau loe live performer, menghasilkan uang," kata David dalam diskusi rilisan fisik dan digital di acara Sore Hore Vol. II di Joglo Beer Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu 26 Januari 2019.

Dia menambahkan, kondisi industri musik zaman dulu dan sekarang berubah. Pola pikir zaman dulu yang mempromosikan karya melalui label rekaman. Revenue dari label rekaman yang saat itu dijadikan pemasukan utama kini sudah tidak relevan.

"Kalau hanya berpikir seperti itu enggak ada kehidupan di industri musik dan enggak bisa dibilang industri," sambungnya.

Pemasukan bisa dalam wujud lain selain rilisan fisik. Seperti hasil monetisasi streaming digital yang kini gencar dilakukan.

"Tidak menutup kemungkinan revenue itu datang dari rekaman-rekaman. Tapi wujudnya revenue dari hasil rekaman itu tidak melulu dari rekaman fisik," terangnya.

"Sekarang bagaimana kita bisa membuat formula sendiri sesuai dengan kebutuhan kita. Itu yang dilakukan sekarang," tandas David.

"Misalnya sekarang ada digital. Seperti di keseharian kita menggunakan banyak music platform digital music. Lalu kita memakai YouTube setiap hari. Itu semua bisa dimonetisasi, menghasilkan (uang). Tapi balik lagi bagaimana cara mainnya, mengolah, sesuai dengan nilai-nilai yang kita punya atau enggak.


(FIR)