Kejutan-kejutan God Bless dalam Konser Liztomania

Purba Wirastama    •    13 November 2018 09:28 WIB
konser musik
Kejutan-kejutan God Bless dalam Konser Liztomania
God Bless saat konser Liztomania di Gedung Kesenian Jakarta, Senin 12 November 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Jakarta: Masih dalam perayaan 45 tahun, grup rock legendaris God Bless menjadi penampil utama dalam konser Liztomania Vol. 5 di Gedung Kesenian Jakarta, Senin, 13 November 2018. Penampilan malam ini spesial karena selain kehadiran lima bintang tamu, ada beberapa lagu yang belum pernah mereka bawakan sebelumnya di panggung.

Liztomania, yang diinisiasi Ridho Hafiedz (Slank) sejak 2014, adalah pertunjukan musik berseri dengan misi untuk membawa GKJ sebagai cagar budaya berusia dua abad ke kultur pop. Penampil dalam empat edisi sebelumnya adalah Slank, Glenn Fredly, Payung Teduh, dan Barasuara. 

Kali ini, mereka mengundang God Bless, grup bentukan Ahmad "Iyek" Albar dan Donny Fatah yang pada pertengahan 2018 lalu, telah melewati tahun ke-45 sejak penampilan debut di Taman Ismail Marzuki. Sebuah perjalanan panjang dengan 15 kali pergantian personel dan tujuh album studio. 

"(Liztomania) ini bentuk penghormatan kami kepada musisi Indonesia karena kami berdiri di panggung dan saling mendukung," kata Ridho kepada 450-an penonton dan panitia di GKJ pada jeda penampilan God Bless. 

"Malam ini kita rayakan 45 tahun God Bless. God Bless itu sejarah musik rock Indonesia. Saya main band pertama kali waktu SMA, itu lagunya God Bless. Saya punya gitar kramer putih itu terinspirasi Ian Antono," sambungnya.

God Bless mengejutkan penonton dengan kemeriahan panggung saat membuka pertunjukan. Mereka membawakan Badut Badut Jakarta, yang kata Iyek, "sejak rekaman, belum pernah kami bawakan." 

Abadi Soesman (kibor) dan Fajar Satritama (drum) punya panggung ekstra sendiri yang tinggi di dua sudut panggung, sedangkan Iyek, Ian, dan Donny bermain di panggung utama. Dua penari perempuan dan dua badut egrang tinggi ikut menemani pada lagu pertama. Ditambah lagi, ada sebuah mobil Chevrolet klasik merah terparkir di atas panggung. Bahkan mereka baru tahu ada dekorasi itu ketika tampil. 



"Kami terkejut banget ada mobil di atas panggung. Kalau (sepeda) motor, sudah ya," ujar Iyek kepada wartawan usai konser. Menurut Ridho, seluruh konsep dekorasi dan visual panggung dirancang oleh Jay Subiakto. 

God Bless tampil selama sekitar 1,5 jam dan membawakan 17 lagu dari berbagai era. Selain Badut Badut Jakarta, dua lagu yang baru pertama kali mereka bawakan di panggung adalah Orang dalam Kaca dan Damai yang Hilang. Keduanya berasal dari album ketiga Semut Hitam (1988). 

Sebenarnya, nyaris seluruh lagu dari Semut Hitam dibawakan pada malam itu. Kecuali Suara Kita dan Trauma, lima lagu lain dari album terlaris God Bless ini yaitu Bla Bla Bla, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, serta Ogut Suping.

Kemudian ada Musisi, Cermin, dan Balada Sejuta Wajah dari album kedua Cermin (1980), Huma di Atas Bukit dari album debut (1975), Menjilat Matahari karya Yockie Suryoprayogo dari album keempat Raksasa (1989), Srigala Jalanan dari album kelima Apa Kabar? (1997), serta Bis Kota, Syair Kehidupan, dan Panggung Sandiwara dari album-album solo Iyek.

Salah satu bintang tamu spesial malam itu adalah Zahedi Riza alias Eet Sjahranie, gitaris yang sempat bergabung dengan God Bless. Mereka membawakan lagu Srigala Jalanan yang memang turut diciptakan Eet. 

"Nostalgia ya, di Liztomania ini kita dapat kesempatan untuk bermain lagi. Seru ya. Apalagi ya?" tanya Iyek kepada Eet, yang kemudian melanjutkan kolaborasi dengan Bis Kota.

Kolaborasi dengan Billy "Beatbox" membawa sentuhan berbeda untuk Orang dalam Kaca, yang mana baru pertama kali dimainkan di panggung setelah rekaman studio tiga puluh tahun silam. 

Tantri Syalindri eks Kotak bergabung untuk membawakan Panggung Sandiwara. Para musisi Institut Musik Jalanan (IMJ) menjadi bintang tamu ketika Syair Kehidupan dibawakan. Dalam penampilan pamungkas Ogut Suping, Eet dan Ridho bergabung dan menambah kekuatan lini gitar.

Klaim bahwa GKJ adalah ruang pertunjukan dengan akustik terbaik di Jakarta seperti benar adanya. Malam itu, suara panggung terdengar "empuk" dan getaran gelombang suara perkusi tetap terasa. Suara manusia dari panggung, misalnya komunikasi kru belakang panggung, bahkan bisa didengar penonton kendati tanpa mikrofon. 

Konser malam itu terasa intimnya. Para penonton, yang menikmati pertunjukan dari bangku berundak, terdengar antusias. Satu dua orang berdiri dan asyik berjoget dari kursi ketika lagu berirama cepat dibawakan. Ada belasan kursi kosong di bagian agak depan, tetapi ini seperti tidak menggangu antusias penonton. 

"Belum pernah God Bless tampil di Gedung Kesenian Jakarta. Ya senang sekali dan asyik suasananya. Mudah-mudahan kami diberi sehat terus dan kembali diberi (kesempatan) tampil," ungkap Iyek.
 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA