Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Huru-Hara Konser Metallica di Lebak Bulus 1993

Purba Wirastama    •    10 April 2018 09:00 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Huru-Hara Konser Metallica di Lebak Bulus 1993
Metallica dalam aksinya di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, pada April 1993. (FOTO: MAJALAH HAI)

Jakarta: Pentolan grup musik Metallica Lars Ulrich sangat terkesan begitu menyadari bahwa para penonton mereka dalam konser di Jakarta pada 10-11 April 1993, memahami lagu-lagu Metallica lebih dari yang dia bayangkan. Kendati di luar terjadi rusuh massa, puluhan ribu penonton di dalam Stadion Lebak Bulus relatif tertib dan bernyanyi bersama di hampir semua lagu.

"Tentu saja kami ingin main lagi di sini," kata Ulrich kepada Republika, sesaat sebelum naik ke panggung musik hari kedua, 25 tahun lalu.

Sebelum dihancurkan pada 2013, Stadion Lebak Bulus menempati area seluas 4,5 hektare di dekat Jalan RA Kartini, Cilandak, sekitar 1-2 kilometer di sebelah Selatan padang golf Pondok Indah.


Aksi Metallica di Jakarta 1993 (Foto: MAJALAH HAI)


Saat tampil pada hari pertama, seperti dilaporkan pula sejumlah media massa lain, Ulrich tak tahu jika ada kerusuhan yang melibatkan ribuan remaja dan merusak bangunan serta kendaraan di luar stadion hingga radius 2 kilometer. Dia bersama James Hetfield, Kirk Hammet, dan Jason Newsted asyik saja bermain. Para penonton di dalam stadion juga baru tahu bahwa api dari luar yang mereka lihat adalah kobaran dari warung yang terbakar.

Tak ada laporan jatuhnya korban jiwa. Namun ada 50 hingga 100-an korban luka berat dan ringan pada hari pertama. Belasan mobil dibakar atau rusak berat, sementara puluhan lainnya rusak. Barang milik pengendara dirampok. Loket tiket serta sejumlah kios dan warung di sekitar stadion dibakar.

Beberapa toko dijarah, seperti sepeda motor dan swalayan. Kaca-kaca sejumlah gedung juga dipecah. Empat rumah warga rusak dan salah satunya dirampok. Lampu-lampu taman dan papan reklame juga rusak. Pada hari kedua, masih sempat ada keributan kecil. Sebanyak 12 orang dilaporkan mengalami luka tusuk dan memar.

Pihak promotor AIRO rugi besar. Pemasukan mereka tak mampu menutup biaya pertunjukan dua hari senilai Rp1,5 miliar. Mereka juga harus menutup asuransi Rp3 miliar untuk mengganti kerugian fasilitas stadion dan penonton yang membeli tiket.

Sejak kerusuhan besar itu, izin pagelaran panggung musik sangat diperketat untuk kawasan Jakarta. Bahkan untuk panggung musik yang mendatangkan massa besar, harus siap-siap mendapat lampu merah.

Sambutan Antusias

Tur musik Nowhere Else To Roam 1993 adalah kali pertama Indonesia masuk dalam daftar negara yang disambangi Metallica. Setelah dua minggu menjelajah Australia, mereka datang ke Jakarta pada Jumat sore, 9 April. Mereka berada di kota ini hingga 12 April sebelum berlanjut ke Singapura, Bangkok, dan Manila. Saat itu sedang akhir pekan panjang bertepatan dengan Hari Wafat Isa Almasih dan Hari Raya Paskah Kristiani.

Panggung Metallica di Indonesia tak sebesar biasanya, bukan panggung bergaya snake pit yang khas dan hanya ditujukan untuk arena tertutup. Stadion Lebak Bulus berkapasitas tribun 12.500 orang dipilih karena hanya itu pilihan yang tersedia. Sentul belum siap dan Senayan sedang dalam renovasi.

Agenda musik ini disambut antusias. Tiket konser, dalam rentang Rp30 ribu hingga Rp150 ribu, dijual di Jabodetabek dan Bandung sebelum disebar lagi ke kota lain. Majalah Hai edisi awal April 1993 memuat artikel khusus sebagai panduan bagi calon penonton Metallica, termasuk daftar lagu populer mereka beserta liriknya.

Harian Kompas menulis ulasan pra-konser mengenai grup musik ini, yang dideskripsikan keras di luar, tetapi lembut di dalam. Pada hari kedatangan Metallica di Bandara Soekarno Hatta, sejumlah remaja bahkan sampai menguntit para personelnya yang keluar lewat pintu lain dan dijemput menggunakan bus.

Laporan Republika menulis kekhawatiran bahwa acara ini akan mendatangkan kerusuhan, berkaca dari pertunjukan Mick Jagger di Senayan pada 1987 dan Sepultura di Surabaya pada 1992. Lagipula, arena konser relatif kecil. Antisipasi dari pihak promotor adalah kerja sama dengan aparat keamanan dan seleksi kalangan penonton lewat rentang harga tiket yang relatif lebih mahal.

Kerusuhan itu pun terjadi seperti yang sudah, seolah hendak melanggengkan kesan bahwa musik keras mendatangkan kekerasan.


Aparat Angkatan Darat berjaga-jaga di tengah kerumunan penonton Metallica di Jakarta, 1993 (Foto: MAJALAH HAI)


Pada Sabtu, hari pertama, orang-orang sudah berkumpul di sekitar stadion sejak pukul 13.00 WIB. Jalanan menuju stadion macet. Arena luar stadion dipenuhi arus pengunjung hingga terlampau penuh karena pintu masuk baru dibuka pada pukul 17, sejam sebelum acara dimulai menurut jadwal. Penonton berebut masuk tak sabar.

Sebagian dari kerumunan itu adalah penonton gadungan, yang mengaku telah membeli tiket dan ikut memaksa masuk arena. Selain menggeledah calon penonton untuk mencari senjata tajam dan barang-barang pembuat keributan, petugas juga sibuk mengusir calon penyusup, yang kemudian juga tidak segera pulang tetapi memadati jalanan.

Sebuah bus wisata datang dengan mobil forerider bersuara sirine. Kerumunan massa berpikir bus ini membawa personel Metallica. Mereka merubung dan menghalang-halangi laju bus tersebut. Aparat dan petugas keamanan dari panitia membuyarkan kerumunan tersebut dengan tongkat rotan. Kendati demikian, personel Metallica sebenarnya masuk arena dengan mobil ambulans.

Situasi panas ini dirasakan juga oleh Dedi Gumelar alias Mi'ing Bagito yang hendak menjadi pembawa acara. Saat turun dari kendaraan dan hendak masuk arena, kartu akses Mi'ing nyaris direbut. Kendati Mi'ing adalah pembawa acara yang wajahnya sudah familiar, toh dia tetap menggunakan kartu akses untuk masuk arena.

Ditumpangi Perusuh

Kisruh mulai meletup setelah petang. Sejak grup musik lokal Rotor tampil membuka acara sekitar pukul 19, keributan di luar arena semakin menjadi. Orang-orang semakin tak sabar. Tiba-tiba, dari seberang jalanan sebelah utara stadion, batu-batu sebesar kepalan tangan tiba-tiba berhamburan.

Metallica baru naik panggung sekitar pukul 20:00, telat setengah jam sejak Rotor mengakhiri penampilan pembuka. Area penoton di dalam stadion baru terisi setengah.

Sementara itu di luar, kisruh masih berlangsung. Seorang petugas berseragam dikeroyok massa. Dua mobil dan warung-warung di sekitar stadion dibakar. Kobaran api ini tampak dari dalam stadion. Dua unit damkar diturunkan. Sebagian orang masih memaksa menerobos masuk arena.


Foto kerusuhan dari dalam stadion (kiri) dan mobil yang terkena dampak kerusuhan (kanan) (Foto: Harian Kompas, 12 April 1993)


Panitia dan aparat rupanya salah perhitungan terkait jumlah personel keamanan. Tambahan personel aparat datang hingga sekitar 2.500-an. Mereka menghalau massa tanpa terkecuali, termasuk semua yang berkaus hitam dan bahkan yang sebenarnya memiliki tiket. Massa berlarian dan menjauh menuju jalanan yang padat kendaraan. Kerusuhan meluas dalam radius 2 km, termasuk ke pemukiman Pondok Indah di sebelah utara.

Sekitar pukul 21, ratusan orang berlari dan melempar batu ke mobil-mobil yang diparkir di pelataran Pondok Indah Mall. Rambu-rambu jalan dicopot, pertokoan dijarah, dan sebuah bank hampir dirampok. Mobil-mobil di pemukiman Pondok Indah juga dirusak dan dibakar. Gedung berkaca juga dirusak dan dilempari batu. Belasan satpam kewalahan, sebelum dibantu oleh petugas gabungan polisi dan TNI.

Selain warga sipil, beberapa dari korban termasuk juga pejabat publik dan petugas keamanan, seperti Menteri Kehakiman Oetojo Oesman beserta istri dan sopirnya, anggota Sabhara Polda Metro Jaya Serda Mumtasil, serta Sandra Darjatmo, istri almarhum mantan Ketua DPR Jenderal (Purn) Darjatmo.

Area pemukiman Pondok Indah juga tak luput dari sasaran perusuh. Kapolres Jakarta Selatan Adang Rismanto mendapat laporan tersebut dan segera ke lokasi untuk mengontrol massa. Dia meminta PLN memadamkan listrik kawasan itu. Bersama empat sampai lima petugas, dia menghalau para perusuh yang hendak menyasar rumah.

Sekitar arena konser masih dipenuhi penonton yang ingin masuk. Akhirnya, pada sekitar pukul 21.15, gerbang dibuka secara gratis. Orang-orang masuk menyerbu. Banyak dari mereka yang tak memiliki tiket. Saat acara selesai sekitar pukul 22.30, para penonton keluar arena dan menjumpai para aparat yang telah membentuk pagar betis sepanjang ruas jalan keluar. Saat itu, angkutan umum tak lewat demi menghindari kerusuhan.

Setelah kerusuhan berhasil dikendalikan, polisi telah menangkap sekitar 80-110 orang untuk diperiksa di Polda Metro Jaya dan Kodim 0508. Delapan di antaranya ditahan. Dari pemeriksaan di Kodim 0508, hanya dua orang yang ditangkap yang memiliki tiket.

Pagelaran hari kedua terancam batal, seperti disiratkan oleh Pangdam Jakarta Raya Brigjen AM Hendro Priyono. Hendro hendak menelisik apakah kerusuhan ini spontan atau punya unsur kesengajaan. Jika spontan, pertunjukan esok hari boleh dilanjutkan tetapi dengan pengamanan yang jauh lebih ketat.

Akhirnya, pertunjukan hari kedua tetap dilaksanakan. Namun penjagaan memang lebih ketat dengan jumlah aparat hingga tiga kali lipat. Ruas jalan-jalan masuk dijaga aparat. Pihak promotor mengambil kebijakan yang lebih merugi. Belasan menit setelah Metallica tampil, semua gerbang dibuka secara gratis.

Hendro menyatakan bahwa kerusuhan ini diboncengi pihak tak bertanggung jawab yang melakukan tindak kriminal. Beberapa orang melakukan penodongan dan pencurian kepada pengunjung dan warga sekitar. Selain itu, sebagian orang yang hendak datang ke Lebak Bulus kedapatan membawa sangkur, clurit, dan batu.

"Sedikitnya lima orang yang memboncengi kerusuhan itu tertangkap tangan pasukan Satuan Brigif Pam Jaya Sakti di Kalisari Jakarta Timur," kata Hendro kepada Media Indonesia, 13 April 1993.

Pada hari Minggu, 11 April, hanya sebagian koran yang terbit. Pada Senin dan Selasa, baru banyak media massa mengangkat laporan kerusuhan tersebut. Termasuk di antaranya adalah Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, dan The Jakarta Post. Majalah Hai dan Tempo melaporkan kerusuhan beserta ulasan konser pada edisi pekan berikutnya.


Korban kerusuhan konser Metallica dievakuasi (Foto: The Jakarta Post, 12 April 1993)

Kabar peristiwa tersebut berkembang menjadi wacana yang lebih besar menyangkut kesenjangan dan kecemburuan sosial dalam masyarakat. Harga tiket konser dinilai terlalu mahal dan mencekik. Pihak penyelenggara dianggap sekadar cari untung karena kurang memedulikan aspek keamanan. Lalu ada analisa dari beberapa pengamat, bahwa kerusuhan semacam ini merupakan wujud amarah warga sipil atas situasi ekonomi yang sulit. Ada juga yang menyalahkan musik keras sebagai biang kekerasan.

Sementara itu, Hendro meminta supaya insiden Lebak Bulus jangan dipolitisasi dan dibaca terlalu jauh. Dia berharap para pakar tidak menjual teori berlebihan karena bisa mendiskreditkan bangsa sendiri. Kesenjangan sosial adalah masalah yang terjadi di berbagai tempat dan tidak terkait secara spesifik dengan konser Metallica.

"Kalau ada tanda ke arah itu, maka saya akan usut dan ambil tindakan tegas," kata Hendro, dikutip dari Kompas 14 April 1993.

Kerusuhan ini disebut-sebut sebagai kerusuhan massa terbesar yang mengiringi pertunjukan musik di Indonesia, dihitung dari jumlah korban dan kerugian materi. Sejak insiden itu, strategi pengamanan konser musik dari aparat militer dan kepolisian tidak sama lagi.


20 Tahun Kemudian

Keinginan Ulrich dan kawan-kawannya untuk bermain kembali di Indonesia terwujud 20 tahun kemudian. Pada Minggu malam, 25 Agustus 2013, Metallica beraksi di panggung musik Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.

Pagelaran musik ini berjalan lancar dan aman. Para penonton dipuaskan selama 90 menit dengan total 18 lagu dibawakan. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang dikenal sebagai penggemar musik metal, bergabung ikut menonton.






 


(ASA)