Mengoptimalkan Potensi Musik Indonesia

Anggi Tondi Martaon    •    08 November 2018 18:22 WIB
bekraf
Mengoptimalkan Potensi Musik Indonesia
Pemerintah berkesempatan memperkenalkan musik Indonesia pada ajang Marche International du Disque et de l'Edition Musicale (MIDEM) 2018 di Cannes, Prancis (Foto: Metro TV)

Jakarta: Pemerintah mendapatkan kesempatan emas memperkenalkan musik Indonesia pada ajang Marche International du Disque et de l'Edition Musicale (MIDEM) 2018 di Cannes, Prancis. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk memperkenalkan musik Indonesia.

Media perkenalan dilakukan melalui sebuah buku yang ditulis Adib Hidayat. Buku yang bertajuk Indonesia 17.000 Islands Imagination tersebut menceritakan perjalanan musik Indonesia.

Adib menyebutkan, pembuatan buku itu disampaikan langsung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dengan tujuan memperkenalkan potensi musik Indonesia kepada industri musik dunia.

"Pada akhirnya, itu yang menjadi dan menjelaskan secara singkat dan padat tentang musik Indonesia, sehingga nanti ketika dibawa ke MIDEM, publik yang hadir mengetahui bahwa Indonesia tidak hanya sekadar dangdut dan wayang. Tapi ada Joe Alexander, Burgerkill, dan musik yang dikenal di dunia," kata Adib dalam program Kini Indonesia di Metro TV.

Bicara mengenai potensi musik Indonesia memang tidak ada habisnya. Setiap masa, selalu ada talenta musik Indonesia yang bersinar di negeri orang.

 

Salah satunya Ikkubaru. Band asal Bandung itu lebih dahulu terkenal dan mengeluarkan album perdananya di Jepang. Drummer Ikkubaru Banon Gilang menceritakan bagaimana bisa melebarkan sayap ke Jepang. Awalnya, salah satu lagu mereka dibajak dan diunggah ke salah satu situs musik. 

"Kemudian di-like sama orang Jepang. Iqbal pun protes. Akhirnya, kami berteman baik dan kemudian orang (Jepang) itu membuka jalan dengan dikasih label, terus dikenalkan dengan DJ terkenal. Habis itu baru terbuka (jalan)," kata Banon.

Launching album pertama dilakukan pada 2015. "Laku 2.500 keping dan itu bisa menjadi modal kami (Ikkubaru) berangkat ke Jepang," kata Banon.

Vokalis Ikkubaru Iqbal mengatakan, saat ini kelompoknya tengah fokus mempersiapkan album kedua. Proses pengerjaan hampir selesai dan rencananya akan dirilis pada 2019. "Sudah 90 persen, tinggal menunggu mastering. Mudah-mudahan tahun depan launching," kata Iqbal.

Tak hanya Ikkubaru, ada banyak sekali talenta dan potensi musik yang dimiliki Indonesia. Maka tak heran, musik mulai diperhatikan oleh pemerintah melalui Bekraf.

 

Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik mengatakan, musik menjadi salah satu sub-sektor prioritas karena potensinya besar. "Menjadi multiplier effect dan lokomotif, yaitu musik, film, dan game. Kita juga tahu dunia sangat dipengaruhi oleh tiga sektor ini," kata Ricky.

Kontribusi musik terhadap produk domestik bruto (PDB) belum cukup besar. Pada tahun 2016, baru sebesar Rp4,4 triliun. "Masih kecil, karena kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai Rp922 triliun," katanya.

Meski belum besar, pemerintah tengah berusaha membangkitkan kembali potensi musik Indonesia. Terlebih pada era digital saat ini, banyak peluang besar yang bisa dimanfaatkan.

"Potensi besar terbuka untuk industri musik merebut kembali hak yang selama ini hilang karena saat ini lebih terukur dan terjaga drngan adanya platform digital sekarang. Tinggal bagaimana kita menyiapkan semuanya," ujarnya.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mewujudkannya.  Mulai dari inkubasi, workshop hingga mengembangkan pasar ke dunia internasional. Juga membuat ekosistem yang lebih terukur. Upaya tersebut dilakukan agar musisi dan pemilik karya mendapatkan pemanfaatan ekonomi yang lebih tepat.

"Ini sebuah jalan yang panjang, tapi memang harus dimulai. Dengan cara begitu kita punya pijakan yang lebih kokoh untuk musisi kita agar bisa berkarya dan menikmati hasilnya lebih fair," ujarnya.


(ROS)