Sajama Cut dan Bunuh Diri

Agustinus Shindu Alpito    •    09 Agustus 2017 20:56 WIB
sajama cut
Sajama Cut dan Bunuh Diri
Sajama Cut (Foto: dok. sajamacut)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bunuh diri. Dua kata itu belakangan cukup banyak diperbincangkan di media sosial. Dipicu oleh keputusan publik figur, Chris Cornell, dan Chester Bennington  untuk gantung diri. Ditambah beberapa kasus serupa yang terjadi di Indonesia, “bunuh diri” santer disebut-sebut.

Belum reda urusan cuap-cuap soal bunuh diri di media sosial, grup musik Sajama Cut memasang video musik Mari Bunuh Diri di YouTube, tepatnya Minggu (6/8/2017). Sebenarnya, Mari Bunuh Diri bukan materi asing bagi Sajama Kids - begitu para penggemar Sajama Cut disebut. Lagu ini terdapat dalam album Apologia yang dirilis pada 2001. Kemudian direkam ulang dan dijadikan lagu bonus pada album Apologia versi rilis ulang, yang dilepas awal tahun ini.

Perasaan lelah akan hidup, pesimisme terhadap diri sendiri, dan segala yang membuat mental lemah tak berdaya rasanya bukan hal asing bagi manusia. Hal itu pula yang ditangkap oleh Sajama Cut kala menggarap lagu ini.

"Tentang ini, gue punya kesadaran bahwa sejak dulu judul lagu ini banyak menangkap perhatian, dan gue bukan tipe yang begitu nyaman dengan 'menjelaskan' lirik," kata Marcel Thee, vokalis Sajama Cut.

“Tapi di hal ini, gue merasa perlu untuk menjelaskan bahwa gue sangat sadar, dan sebisa mungkin berusaha belajar banyak, tentang mental ilness dan keseriusan penyakit depresi. Kita, tentu saja masih tinggal di lingkungan yang tidak banyak punya empati kepada orang-orang yang mengalami depresi atau gangguan mental, di mana hal-hal ini masih dianggap ‘bete’ (kebosanan) yang berlebihan atau proses dramatisir emosi.”

“Kita masih hidup di lingkungan di mana ketika ada orang yang mengambil nyawanya sendiri, pertanyaan seringkali, ‘Kenapa sih? Bukannya dia kaya-raya?’ Dan pertanyaan-pertanyaan dungu lainnya. Ini suatu kesadaran yang gue, dan banyak orang punya sejak zaman baheula. Lagu ini bukan tentang glorifikasi bunuh diri, atau romantisasi mati muda.”

Mari Bunuh Diri ditulis Marcel ketika berusia 19 tahun. Dia melakukan pendekatan semi-humoris, menyeringai pada mereka yang masih saja tidak paham soal masalah kejiwaan dan mudah menghakimi orang yang menderita masalah kejiwaan, atau depresi akut.

Seperti masalah-masalah lain yang menjadi sorotan masyarakat, kasus bunuh diri yang belakangan menghiasi berbagai media memang mendapat respons pro-kontra. Masih banyak yang menganggap sepele mereka yang bergelut dengan pikiran bunuh diri, alih-alih menaruh simpati atau empati akan pentingnya upaya pendampingan, dan dukungan.

Apologia dirilis ulang bersama album klasik Sajama Cut lain, The Osaka Journals. Sajama Cut sejauh ini telah merilis empat album penuh, yaitu Apologia (2001), The Osaka Journals (2005), Manimal (2010), dan Hobgoblin (2015. Sajama Cut terdiri dari Marcel Thee, Dion Panlima Reza (gitaris), Randy Apriza Akbar (bassist), Hans Citra Patria (keyboardist), dan Banu Satrio (drummer).



 


(ELG)