Maliq & D’essentials Menikmati Kedewasaan Bermusik

   •    11 Juni 2017 09:04 WIB
maliq & d essential
Maliq & D’essentials Menikmati Kedewasaan Bermusik
MI/Permana

Metrotvnews.com, Jakarta: Ibarat anak remaja beranjak dewasa, Maliq & D’essentials ingin menunjukkan kedewasaan mereka dalam bermusik. Lima belas tahun bergelut di dunia musik, mereka menghadirkan album ketujuh bertajuk Senandung Senandika (Organic Records) pada 21 Mei lalu di Tangerang Selatan.

Menariknya, band yang dimotori Angga Puradiredja (vokalis), Widi Puradiredja (drumer), Rivani Indriya Suwendi (vokalis), Dendy Sukarno (basis), Arya Aditya Ramadhya (gitaris), dan Ilman Ibrahim (kibordis) ini menggunakan diksi yang tidak wajar, tetapi sarat makna. Salah satunya dituangkan dalam judul album Senandung Senandika dan tiap bait dari sembilan lagu yang menghuninya.

"Kami sangat fokus mengenai penggunaan kata dalam lirik dan judul. Bagaimana caranya mengangkat tema-tema yang tidak terlalu berat, masih terkait dengan pendengar Maliq dan personelnya. Kami ingin kemas bahasa-bahasa yang tidak terlalu to the point. Beberapa lagu di album ini perlu dua-tiga kali dengar baru paham maksud dari isi lagunya,” ungkap Widi saat berbincang dengan Kotak Musik Media Indonesia.

Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, senandika berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

Kedewasaan dan refleksi yang penuh pesan positif itu, misalnya, tampak di lagu Senang. Sang pencipta lagu, Widi, meng­ajak pendengar menikmati sisa waktu yang ada kepada orang tersayang. Walaupun punya makna sedih, lagu ini dikemas dengan tempo up beat.

Bersamaan dengan lagu Senang, Maliq & D’ Essentials juga merilis lagu Sayap  yang sketsanya sudah ada sejak 2002.

"Maliq itu karakternya saat buat lagu sedih dia itu masih punya harga dirinya, jadi pada saat kami sedih masih harus tetap punya harapan bahwa di depan itu sesuatu akan menjadi lebih baik. Anak-anak dari sisi produksi juga sekarang lebih cerewet, jadi lebih kaya secara teknik vokal dan lagunya sendiri," papar Angga.

Bagi Dendy Sukarno atau akrab disapa Jawa, kepopularitasan Maliq & D’Essentials bukan berarti mampu mempresentasikan lagu-lagu baru di depan penggemar tanpa beban.

“Ketegangan kami bawa sesuatu yang baru ke audiens itu sama saja kayak zaman dulu waktu kami pertama kali bawain karya-karya kami buat orang. Masih ada deg-degannya gitu, masih mikir gimana perasaan audiens,” ungkap Jawa.

Musik pop

Sejak kehadiran album Musik Pop  tiga tahun lalu, Maliq memastikan posisi mereka mengusung musik pop. Apalagi di album ini, semua lagu yang bermakna kesedihan dibalut musik yang ceria, menjadi salah satu elemen musik pop. Namun, mereka menyajikan musik pop ala Maliq dengan chord-chord yang tidak sesederhana musik pop yang lazim di Tanah Air.

“Itu juga mungkin alasan kenapa kami sampai tiga tahun tidak ngerilis album karena agak kesulitan menemukan lagu yang formula popnya saat dibawakan enak dan tidak terlalu mikir susah, yang dengar juga tidak terlalu mikir susah. Namun, dari sisi idealisme kami tertuang di setiap lagu,” lanjut Widi.

Widi mengungkapkan, saat pembuat­an lagu pop di album ketiga ini, ingin rasanya kembali kepada suasana saat mendapatkan lagu Pilihanku, Dia, dan Untitled. Lagu-lagu tersebut d­ibawakan di panggung tanpa kesulitan tersendiri.

"Selain itu, saya merasa sudah lama tidak dengar lagu di radio band pop membawakan lagu pop. Mikir-mikir gitu sekarang mungkin solois banyaknya atau grup band, tapi bukan band dengan tren EDM, indie pop, dan segala macam. Sudah lama saya tidak dengar lagu pop saja dibawakan satu band gitu," pungkas Widi. (MI/M-4)

 


(DEV)

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

Radhini, Awal Menuju Jalan Panjang

20 hours Ago

Perempuan 29 tahun itu mengawali debut karier sebagai penyanyi solo melalui singel Cinta Terbes…

BERITA LAINNYA