Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Momen Menegangkan Mi'ing "Bagito" Pandu Konser Metallica

Cecylia Rura    •    10 April 2018 09:45 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Momen Menegangkan Mi'ing
Dedi Gumelar alias Miing (tengah) bersama grup Bagito (Foto: Media Indonesia/Ramdani)

Jakarta: Tubagus Dedi Suwendi Gumelar atau kini dikenal sebagai politisi Dedi Gumelar sempat didaulat menjadi Master of Ceremony (MC) untuk pentas perdana grup musik cadas Metallica di Lebak Bulus, Jakarta pada April 1993 silam. Gelaran konser itu terkenal fenomenal sebab terjadi kerusuhan yang menyebabkan cukup banyak kerugian dan melukai warga sipil.

Dedi yang saat itu populer dengan nama panggung Mi'ing Bagito punya cerita menarik saat berada di tengah kerusuhan dan amukan massa di luar stadion Lebak Bulus. Kartu identitas untuk masuk ke area stadion sempat nyaris dirampas oleh kawanan massa yang tak memiliki tiket.

"Acara itu kalau tidak salah jam tujuh malam, tapi saya jam dua siang sudah datang, manusia sudah banyak sekali. Saya sudah melakukan perhitungan, enggak mungkin saya nyetir sendiri lalu memarkir mobil. Jadi, saya minta di-drop oleh keponakan saya. Di-drop, saya loncat, itu ID Card saya mau dijambret-jambret orang karena mereka enggak bisa masuk," kata Mi'ing Bagito saat dihubungi Medcom.id melalui sambungan telepon, Rabu, 4 April 2018.

"'Om, Om Mi'ing kan enggak usah pakai gitu-gituan (ID Card) kan mukanya udah KTP', maksudnya saya sudah boleh masuk lah ya," imbuhnya menirukan perusuh yang hendak mengambil ID Card-nya saat itu.

Mi'ing yang tak menggubris kemudian masuk dengan dikawal aparat.

Ketegangan belum berhenti sampai di situ. Momen menegangkan lain yang harus dialami Mi'ing adalah saat berhadapan dengan bodyguard Metallica bertubuh kekar dan berpostur tinggi. Terjadi kesalahpahaman ketika pihak keamanan Metallica tak diberitahu soal peran MC dalam panggung Metallica.


Aksi panggung Metallica di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 1993 (Foto: MAJALAH HAI)


"Masuk ke panggung diseleksi oleh bodyguard-nya Metallica. Saya juga menghadapi masalah, dia enggak ngerti kalau ada Master of Ceremony (MC)."

"'Are you sure?'" ucap Mi'ing menirukan penggalan dialognya saat itu dengan salah seorang bodyguard.

"'Yes, I'm sure. I'm Master of Ceremony,'" jawab Mi'ing yakin.

"Dicek-cek-cek, oke, masuk. Rupanya foto saya dikirim dulu ke panitia, oke masuk. Dan itu ada zona di panggung yang saya enggak boleh masuk wilayah itu," tambahnya.

Kemanan tingkat tinggi diterapkan untuk berjaga-jaga agar tak ada penyusup di sekitar venue. Kalau ditemukan, habis sudah dilempar penjaga bertubuh kekar itu ke bawah panggung.

"Dia (Metallica) dijaga oleh badan-badan yang gede bodyguard afro-Amerika dan kulit putih. Terus ada orang nekat maksa dari belakang. Begitu nyolong-nyolong dia ketahuan, di-cengkeleng kalau orang Jawa bilang, lehernya dipegang, kakinya dipegang, dilempar ke bawah. Asli, di depan mata saya."

Meski sekelumit prosedur itu dilalui Mi'ing, ia mengacungkan dua jempol untuk profesionalitas pihak manajemen dari Metallica. Hal kecil seperti jarum dan benang jahit turut serta dibawa sebagai antisipasi terhadap hal remeh seperti jika kostum tampak kurang sempurna. Bahkan, Mi'ing sempat mendapati sebuah lemari kaca berisikan seluruh properti kebutuhan Metallica di atas panggung. "Mereka sangat prepare," puji Mi'ing.

Sebagai MC, Mi'ing tentu bertatap muka dan bersalaman dengan para anggota Metallica. Dialog Mi'ing dan kuartet asal California tersebut memang hanya sebatas di atas panggung, tetapi ia cukup senang dan berbangga hati mengenang momen itu.

Saat di belakang panggung, Mi'ing tak diperbolehkan masuk ke area VIP tempat Metallica beristirahat.

"Di panggung ketemu, karena saya kan ada di panggung sama mereka juga. Ya, salaman, senyum, gitu aja. Tapi, ketika mereka preparation, persiapan di backstage di ruang VIP-nya, kita enggak bisa masuk."

Setelah memandu acara, lagi-lagi Mi'ing dihadapkan pada situasi menegangkan. Ketika akan pulang dan tak ada tranportasi umum di sekitar stadion. Kerusuhan di luar stadion pun baru diketahui Mi'ing setelah diarahkan pihak keamanan ke area belakang Stadion Lebak Bulus dan ia menumpang mobil patroli polisi.


Situasi di dalam stadion Lebak Bulus saat konser Metallica (kiri) dan mobil yang dirusak oleh massa yang mengamuk di luar stadion (kanan) (Foto: Harian Kompas, 12 April 1993)


"Kalau enggak salah sampai keluar daerah Pondok Indah baru dapat taksi. Itu pun sudah tengah malam. Memang saya jadi saksi. Saya lewat pintu belakang, Orang sudah nyambit-nyambit, mobil dibakar. Itu kan bakar-bakaran."

Mi'ing tak bisa berkomentar tentang penyebab atau siapa penyulut aksi kerusuhan Metallica di Lebak Bulus. Namun, berkaitan dengan kesenjangan sosial Mi'ing berpendapat ada fakta sosial yang bisa menjadi faktor penyebab keberingasan penggemar Metallica di luar stadion.

"Saya tidak tahu ya, 20 tahun kemudian generasi kita lebih tertib mungkin. Kemudian yang di stadion (GBK) lebih mahal ongkos bayarnya, kalau tidak salah. Lebih mahal. Jadi, strata sosial ekonomi juga berpengaruh."

"Kalau tadi (masalah) kesenjangan, saya nanti (bilang), perilaku orang miskin lebih (kurang santun), enggak, enggak baik. Tapi, faktanya anak-anak yang seperti itu enggak punya karcis gampang dipicu (tersulut emosi)."

"Kalau saya pengamat, mungkin saya berani. Tapi, karena saya sebagai politisi dan artis, nanti orang enggak suka sama saya. Kalau orang miskin gampang disulut ya jangan enggak bagus. Tapi fakta sosialnya begitu."

Selain dari faktor individu, kapasitas ruang Stadion Lebak Bulus yang hanya mampu menampung 40.000 penonton juga jadi salah satu penyebab. Pasalnya kapasitas itu tidak mampu mengakomodasi seluruh penonton. Lebih-lebih beredar pula tiket palsu dan penonton tak bertiket yang menerobos ke dalam area konser.

"Terlalu kecil areanya, itu satu. Kemudian area titik-titik pengamannya terlalu lemah ada potensi orang untuk menerobos dan sebagainya. Karena masuk ke area Stadion Lebak Bulus mudah. Dia kan bukan stadion utama kelasnya. Kalau itu kan (Lebak Bulus) stadion yang open air betul. Stadion utama juga open air, tapi beda dengan stadion Lebak Bulus waktu itu. Secara psikologis terkurung dengan tembok-tembok itu orang untuk berbuat kejahatan itu lebih kecil dibanding yang liar dan bebas," tukas Mi'ing.

Konser Metallica di Lebak Bulus, Jakarta, terjadi tepat 25 tahun lalu. Hingga saat ini konser itu meninggalkan banyak kenangna di kalangan metalhead Indonesia. Tidak lain karena serentetan peristiwa yang mengekor di belakangnya.





 


(ASA)