Alexandra Stan, Diva Negeri Drakula

Adi Waluyo    •    06 September 2016 10:30 WIB
musik barat
Alexandra Stan, Diva Negeri Drakula
Alexandra Stan. (Foto:Poponandon.com)

APA yang Anda ketahui dari Rumania? Negara di Eropa Timur ini tak cuma terkenal sebagai negeri asal Count Dracula, penghuni kastil tua di pegunungan Carpathian, Transylvania, yang kisahnya diadaptasi menjadi novel horor populer oleh Bram Stoker.

Rumania juga dikenal dengan gadis-gadisnya yang cantik. Salah satunya, Alexandra Stan. Masih ingat dengan lagu Mr. Saxobeat yang jadi hits internasional tahun 2011? Ya, Alexandra lah penyanyinya.

Alexandra yang lahir pada 10 Juni 1989 di Constanta, Rumania adalah penyanyi serba bisa. Tak hanya bersuara merdu, ia juga seorang penulis lagu, model, dan kadang berprofesi sebagai dancer.

Belum genap setahun setelah dirilis, singel Mr. Saxobeat telah terjual lebih dari 10 juta copy, meraih posisi 1 di sembilan negara dan Top 5 di lebih dari 30 negara. Yang menjadi hook dari lagu tersebut tentu saja dubb saksofon yang diambil dari refrain lagu Lollipop (Param Pam Pam).

Debut album Alexandra, Saxobeat, mulai dirilis pada 29 Agustus 2011 dan memberinya multiplatinum di berbagai negara. Alexandra menjadi salah satu artis terkaya saat ini di Eropa Timur, khususnya Rumania, dengan kekayaan bersih mencapai GBP20 juta.

Sarjana lulusan Fakultas Manajemen Andrei Saguna, Rumania, ini memang sudah menunjukkan bakatnya sejak masih belia. Di negara asalnya, Alexandra telah memenangkan banyak penghargaan festival musik. Sampai ia merilis Lollipop (Param Pam Pam) yang menjadi batu loncatannya berkarier di kancah musik internasional.

Namun di tengah kariernya yang baru menanjak, Alexandra harus menghadapi cobaan berat. Pada Juni 2013, Alexandra mengalami luka parah akibat kekerasan dan harus dirawat di rumah sakit, dan konser-konsernya terpaksa dibatalkan.

Insiden ini berawal dari perdebatan antara Alexandra dengan manajernya, Marcel Prodan yang meminta bagian dari hasil penjualan tiket konser Alexandra.

Prodan mengklaim bahwa lagu Mr. Saxobeat mengambil refrain lagu Lollipop (Param Pam Pam) yang ditulis dan diproduserinya bersama Andrei Nemirschi. Karena itu ia merasa berhak menerima bagian dari royalti penjualan singel lagu ini, termasuk keuntungan konser Alexandra.

Perdebatan sengit itu lantas berujung pada kekerasan fisik yang dilakukan Prodan terhadap Alexandra.

Setelah keluar dari rumah sakit, Alexandra kemudian mengajukan gugatan kriminal kepada Prodan dengan tuduhan telah melakukan pemerasan.

Tak lama berselang, gugatan ini dibatalkan sendiri oleh Alexandra. Ia juga memutuskan untuk sementara vakum dari dunia musik karena masih trauma pasca penganiayaan yang dialaminya.

APA yang Anda ketahui dari Rumania? Negara di Eropa Timur ini tak cuma terkenal sebagai negeri asal Count Dracula, penghuni kastil tua di pegunungan Carpathian, Transylvania, yang kisahnya diadaptasi menjadi novel horor populer oleh Bram Stoker.

Rumania juga dikenal dengan gadis-gadisnya yang cantik. Salah satunya, Alexandra Stan. Masih ingat dengan lagu Mr. Saxobeat yang jadi hits internasional tahun 2011? Ya, Alexandra lah penyanyinya.
Baca juga

 Alexandra yang lahir pada 10 Juni 1989 di Constanta, Rumania adalah penyanyi serba bisa. Tak hanya bersuara merdu, ia juga seorang penulis lagu, model, dan kadang berprofesi sebagai dancer.

Belum genap setahun setelah dirilis, singel Mr. Saxobeat telah terjual lebih dari 10 juta copy, meraih posisi 1 di sembilan negara dan Top 5 di lebih dari 30 negara. Yang menjadi hook dari lagu tersebut tentu saja dubb saksofon yang diambil dari refrain lagu Lollipop (Param Pam Pam).



Foto: Alexandra Stan / mp3funny.ru

Debut album Alexandra, Saxobeat, mulai dirilis pada 29 Agustus 2011 dan memberinya multiplatinum di berbagai negara. Alexandra menjadi salah satu artis terkaya saat ini di Eropa Timur, khususnya Rumania, dengan kekayaan bersih mencapai GBP20 juta.

Sarjana lulusan Fakultas Manajemen Andrei Saguna, Rumania, ini memang sudah menunjukkan bakatnya sejak masih belia. Di negara asalnya, Alexandra telah memenangkan banyak penghargaan festival musik. Sampai ia merilis Lollipop (Param Pam Pam) yang menjadi batu loncatannya berkarier di kancah musik internasional.

Namun di tengah kariernya yang baru menanjak, Alexandra harus menghadapi cobaan berat. Pada Juni 2013, Alexandra mengalami luka parah akibat kekerasan dan harus dirawat di rumah sakit, dan konser-konsernya terpaksa dibatalkan.

Insiden ini berawal dari perdebatan antara Alexandra dengan manajernya, Marcel Prodan yang meminta bagian dari hasil penjualan tiket konser Alexandra.

Prodan mengklaim bahwa lagu Mr. Saxobeat mengambil refrain lagu Lollipop (Param Pam Pam) yang ditulis dan diproduserinya bersama Andrei Nemirschi. Karena itu ia merasa berhak menerima bagian dari royalti penjualan singel lagu ini, termasuk keuntungan konser Alexandra.

Perdebatan sengit itu lantas berujung pada kekerasan fisik yang dilakukan Prodan terhadap Alexandra.

Setelah keluar dari rumah sakit, Alexandra kemudian mengajukan gugatan kriminal kepada Prodan dengan tuduhan telah melakukan pemerasan.

Tak lama berselang, gugatan ini dibatalkan sendiri oleh Alexandra. Ia juga memutuskan untuk sementara vakum dari dunia musik karena masih trauma pasca penganiayaan yang dialaminya.


Foto: Alexandra Stan / ele.ro

Berbeda dengan Alexandra yang masih menghargai hubungan pertemanan dengan Prodan, bekas manajernya itu. Prodan justru masih menyimpan dendam. Ia kini ganti menuntut Alexandra dengan mengklaim bahwa Alexandra telah menggunakan lagunya tanpa memberinya kredit penulisan.

Namun pengadilan Rumania memenangkan Alexandra dan menjatuhkan semua gugatan Prodan. Keputusan ini praktis telah membebaskan Alexandra dari 'belenggu' Prodan mengenai royalti dan hak cipta atas lagu Mr. Saxobeat.

Singel Thanks For Leaving yang dirilis pada 28 April 2014 menjadi tanda kembalinya Alexandra Stan di panggung musik dunia. Ia pun merilis album keduanya, Unlocked.
 
Walaupun kurang mendapat pujian dari kritikus di negaranya sendiri, Alexandra tetap yakin bahwa singel keduanya dari album Unlocked, Cherry Pop, akan mendapat sambutan yang lebih hangat dari penggemarnya di negara-negara Asia.

Firasat Alexandra memang benar terbukti, hanya beberapa jam setelah dirilis untuk pasar Asia, Cherry Pop langsung bertengger di posisi 1 tangga lagu dance iTunes di Jepang.

Sekilas tentang Eurodance

Eurodance, itulah musik yang diusung Alexandra Stan. Sebuah genre dari aliran Electronic Dance Music (EDM) yang mulai muncul di Eropa tahun 80-an. Ada banyak elemen yang dikemas dalam genre ini, mulai dari techno, hi-NRG, dan Euro Disco.

Melodi vokal yang nge-hook, baik berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan versi rap, ditambah synthesizer dan bass rhythm yang kuat menjadi fondasi musik Eurodance, yang juga sering disebut Euro-NRG (baca: Euro-energy).

Lagu Katy Perry, Walking on Air, juga dikemas dengan style Eurodance dan sukses secara komersial dan mendapat banyak pujian dari para pengamat musik.

Contoh lain lagu Eurodance yang populer adalah All That She Wants yang dibawakan oleh Ace of Base. Mereka meramu Eurodance dengan sedikit unsur reggae.

Karakter musik Eurodance memang paling pas bila dinyanyikan oleh wanita, apalagi genre ini juga fleksibel bila diracik dengan jenis musik yang lain. Tak heran kalau Lady Gaga dan Rihanna juga pernah memakai Eurodance dalam lagu-lagu mereka.

Penyanyi muda yang punya tanggung jawab sosial

Tak terlalu banyak memang pemberitaan mengenai Alexandra Stan. Namun para penggemar bisa mengunjungi situs pribadinya untuk mengenal Alexandra lebih dekat. (www.alexandrastantheartist.com)

Dalam website tersebut, Alexandra banyak membuat tulisan pendek yang bermacam-macam topiknya, mulai dari pengalaman, pandangan hidup, sampai cerita lucu saat ia bernyanyi di atas panggung. Beberapa tulisannya ditampilkan di sini.

Alexandra merayakan hidup yang ceria dan bercerita tentang pesta-pesta dalam lirik-liriknya. Lagunya senafas dengan kehidupan yang biasa berputar di atas lantai dansa. Namun, dia bukan tipe artis yang kerap berbicara sesuka hati.  Ia sadar betul statusnya sebagai publik figur sehingga merasa perlu berhati-hati dalam memberikan pernyataan di depan  publik.

"Meskipun saya telah melakukan ratusan wawancara dan sering berbicara di depan umum dalam berbagai situasi, saya mengakui bahwa saya masih gugup ketika memberikan wawancara atau membuat pernyataan publik."

"Bukan karena saya takut bahwa saya akan mengatakan sesuatu yang tidak pantas (beberapa orang akan berpikir begitu), tapi saya takut bahwa hal-hal yang saya katakan mungkin akan berpengaruh negatif bagi beberapa orang. Contohnya, jika saya mengatakan, "Hiduplah dengan bebas dan ikuti kata hati Anda." Saya berharap itu tidak ditafsirkan oleh remaja sebagai dorongan untuk lari dari rumah atau melanggar hukum," tutur Alexandra.

Namun, ia pun tak menepis bahwa dorongan untuk mengatakan hal yang memancing polemik di publik, sebagai sebuah hal yang wajar.  "Saya benar-benar berpikir bahwa tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab moral ketika memberikan pernyataan mereka di media publik. Tapi siapa yang tidak memiliki emosi? Itu bagian dari pesona hidup, kalau tidak punya, kita semua akan menjadi robot.

Seperti musiknya, Euro-energy, yang penuh keceriaan dan semangat, Alexandra juga ingin penggemarnya memandang hidup dari sisi yang lebih baik dan lebih optimistis.

"Hari ini saya hanya ingin melihat hal-hal yang baik di sekitar saya, atau seperti yang mereka katakan, "sisi terang". Melepaskan masalah adalah langkah pertama menuju pemecahannya. Setiap kali saya menyerah akan sesuatu yang membuat saya cemas, solusinya akan muncul dengan segera."

"Jadi hari ini mari kita lupakan masalah dan mencoba untuk melihat segala sesuatu dari luar, seolah-olah kita adalah penonton kehidupan kita sendiri. Akhir pekan akan tiba, jadi santai saja :))"


Foto: Alexandra Stan / ele.ro

Keseimbangan adalah kata kunci yang ia yakini punya energi positif dalam meraih kesuksesan. Menurutnya, penting untuk mengetahui bagaimana mengatur pekerjaan. Bagaimana agar tidak kehilangan energi, bagaimana agar tidak terseret dalam kesibukan sehari-hari dan bagaimana menetapkan prioritas.

"Saya bagus dalam teori, saya tahu. Itu sebabnya saya membuat reminder (pengingat), jadi saya tidak lupa untuk mempraktekannya!

"Jika Meghan Trainor menyanyikan, "It’s all about That Bass", saya selalu berpegang teguh pada frasa "It's all about Balance" (Ini semua tentang keseimbangan). Keseimbangan adalah kunci dari kesuksesan," kata penyanyi yang mengaku pernah menjatuhkan mik saat bernyanyi di Swiss itu, sehingga menyebutnya sebagai pengalaman memalukan dalam hidupnya.

Kini, kesuksesan telah ia raih. Alexandra merasa beruntung karena impiannya di masa kecil, sudah menjadi kenyataan. Yaitu sebagai penyanyi yang lagu-lagunya didengar di seluruh belahan dunia.

"Semuanya menjadi serba khayalan ketika Anda masih kecil; benteng kayu kecil menjadi sebuah istana, hewan peliharaan Anda menjadi tunggangan perang yang perkasa, burung menjadi naga yang menyemburkan api! Tuan putri dan pesta minum teh juga ada!"

"Saya bermimpi menjadi seorang juara dan menyelamatkan dunia! Kekuatan super saya? Bernyanyi. (Jangan menghakimi) Dan kejutannya: Saya menjadi seorang penyanyi! Saya merasa sangat diberkati bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang saya impikan waktu saya kecil hari ini, tetapi saya juga harus terus membuktikan apakah layak untuk tetap berpegang teguh pada rencana saya dulu."

"Bagian yang terbaik adalah bahwa saya bisa menyimpan impian kanak-kanak saya sampai hari ini! Aku sering mengadakan jamuan teh, berpakaian seperti seorang putri, tinggal di istana (meskipun kita orang dewasa menyebutnya dengan nama yang berbeda), sambil bernyanyi untuk Anda. Aku akan selalu berterima kasih untuk itu," katanya.


(FIT)