Di Balik Balada Cinta Geisha

Agustinus Shindu Alpito    •    22 Juli 2017 12:50 WIB
indonesia musik
Di Balik Balada Cinta Geisha
Geisha (Foto: metrotvnews/shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada 2009, musik Indonesia dibanjiri grup yang kental mengusung nuansa pop-melayu, juga grup pop yang berbekal katalog musik melankolis yang berkutat pada kisah patah hati, ditinggal pasangan, cinta bertepuk sebelah tangan, dan hal lain seputar itu. Salah satu yang muncul dari medio itu adalah Geisha. Sebuah grup asal Pekanbaru yang kemudian dipoles oleh Musica Studio’s.

Pada tahun ini, Geisha telah berusia 14 tahun. Sejauh ini mereka konsisten menghadirkan balada cinta yang selalu sukses direspons masif. Salah satu mega hit Geisha yang saya rasa nyaris diketahui semua pendengar musik pop Indonesia adalah Lumpuhkan Ingatanku. Sebuah lagu cinta yang pada era 2013-2014 jadi favorit untuk diputar di radio, televisi, supermarket, hingga angkutan umum.

Tidak semua band punya anugerah mengecap manisnya kesuksesan besar lagu ciptaannya. Apalagi dikenal dari ujung ke ujung Indonesia. Tapi itulah anugerah Geisha.

Pada Juni lalu, Metrotvnews.com menyambangi Geisha di kantor Musica Studio’s yang terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Kami membicarakan banyak hal, termasuk bagaimana Geisha melahirkan lagu-lagu cinta yang laris.

"Lumpuhkan Ingatanku lagu jatuh dari langit. Mungkin memang (saya) dipercaya punya kelebihan bikin lagu. Mungkin titipan rezeki, kayak tiba-tiba sudah ada saja lagunya,” kata Roby yang menulis lagu itu.

Roby menyematkan istilah lagu "jatuh dari langit" untuk lagu-lagu yang inspirasinya seketika datang, lantas dalam penulisan lagu mengalir begitu lancar dalam hal lirik dan nada.

"Aku kalau bikin lagu enggak pernah pakai alat musik, justru kalau pakai alat musik jadi terpaku. Aku biasanya pakai nada menyanyi dengan mulut baru kemudian lirik, atau lirik dulu. Atau bersamaan seperti saat menulis Tak Seimbang. Kalau yang bersamaan itu aku bilang lagu jatuh dari langit."



Bicara tempat favorit untuk menggali inspirasi, Roby mengaku tidak memilikinya. Bagi dia menulis lagu bisa di mana saja dan dalam keadaan apa saja.

"Aku pernah bikin lagu sambil dipijat. Aku masuk angin waktu itu, aku bilang ke mbak-mbak yang pijat kalau aku sedang menulis lagu. Pas selesai pijat, aku bilang sudah selesai bikin lagunya dan dia bingung, ‘Loh, kapan bikin lagunya?”  karena aku memang enggak pakai alat musik," kisah Roby antusias.

Dalam menulis lagu, Geisha cenderung lebih hati-hati. Mereka tidak ingin kisah suram dalam lirik menimpa di kehidupan nyata. Percaya atau tidak, hal itu pernah mereka alami.

“Aku takut kemakan lirik sendiri. Aku salah satu orang yang percaya kalimat itu doa, apalagi jadi lagu dan dinyanyikan berkali-kali. Sesuatu yang kita katakan itu bisa menjadi nyata,” ujar sang vokalis, Momo.


Geisha (Foto: metrotvnews/shindu)

“Aku sering banget (lirik dalam lagu) menjadi kejadian, biasanya itu terjadi ke vokalis atau pencipta lagu. Biasanya aku yang mengingatkan ke anak-anak. Kami juga harus memikirkan bagaimana pendengar mengimplementasikan lagu itu. Saya suka bilang ke Roby untuk liriknya dibenerin misal ada yang terlalu negatif.”

Menurut Momo dan Roby, lagu Lumpuhkan Ingatanku tidak termasuk dalam lagu yang memiliki lirik negatif. Sehingga mereka merasa aman membawakan lagu itu berulang-ulang.

"Menurutku Lumpuhkan Ingatanku itu liriknya aman, positif, untuk melupakan masa lalu. Tetapi karena itu lagu patah hati aku menyanyikannya seperti sedang patah hati,” papar Momo.

Saat disinggung soal lagu yang memiliki cerita berkesan dalam penulisannya, Roby menceritakan kisah di balik lagu Tak Seimbang yang dibawakan Geisha bersama Iwan Fals dalam album Satu yang dirilis pada 2015.

“Lagu Tak Seimbang itu ditulis karena aku punya saudara perempuan, dia sakit dan aku nemenin dia di rumah sakit, beberapa hari kemudian dia meninggal. Aku ada di depan dia, aku enggak bisa menunjukkan rasa kehilangan, karena ada yang lebih sedih dari aku, suami dia.”

“Aku enggak mau terlihat paling sedih, aku justru ingin merangkul suaminya yang merasa sedih. Di situ mood posisinya kacau banget, kebetulan ada deadline bikin lagu Iwan Fals. Aku akhirnya keluar dari ruangan itu dan nulis di handphone lima menit, sudah termasuk lirik dan notasi.”

Di YouTube, Tak Seimbang mendapat respons positif. Video itu saat artikel ini diunggah sudah ditonton 10,9 juta kali, dan mendapat lebih dari 25 ribu tanda suka.




Berbekal Mimpi Menaklukkan Industri

Adalah lazim bagi anak band memiliki mimpi tampil di hadapan puluhan ribu penggemar, masuk label besar, dan meraih popularitas. Sayang tidak semua yang bermimpi demikian berkesempatan merasakannya jadi nyata.

Geisha yang dahulu bernama Jingga, memiliki mimpi itu. Mereka adalah para anak muda Pekanbaru, Riau, yang merasa Jakarta mampu mewujudkan mimpi-mimpi itu. Di Riau, Jingga seperti macan panggung. Mereka melahap segala festival dan kompetisi band yang ada. Tak peduli apa genre yang dilombakan. Menariknya, Jingga nyaris selalu keluar sebagai juara.

“Momo dulu menyanyikan Metallica, nge-jazz, rock, R&B, kita pernah juara (bermacam-macam genre), rock pernah juara, nge-jazz juga juara.”

“Kasarnya kalah di festival musik itu kami bisa dihitung jari,” kisah Roby.


Geisha (Foto: metrotvnews/shindu)

Keberanian Jingga lah yang membuat mereka nekat ke Jakarta, menyewa sebuah rumah kontrakan dari hasil tabungan uang hadiah menang festival musik.

“Dulu gue enggak tahu Ciledug itu masuk Tangerang, gue pikir itu Jakarta, gue sadar pas lagi pasang antena TV di atas, gue lihat kanan-kiri kok enggak ada gedung-gedung tinggi kayak Jakarta yang gue lihat di televisi, ternyata gue di Tangerang,” kenang Roby sembari tertawa.

Momo sebagai satu-satunya perempuan dalam grup ini punya dinamika yang lebih menantang. Sebagai bungsu dan satu-satunya anak perempuan, dia diharapkan orangtua fokus menyelesaikan studi. Daripada sibuk nge-band yang dianggap tidak memberi kepastian masa depan. Namun Momo tidak menyerah, mimpi yang menyelamatkannya.

“Dulu bolak-balik Jakarta - Pekanbaru dalam kondisi aku dimarahi terus. Orangtua bingung juga aku ke Jakarta terus ngapain karena kami belum membuktikan apa-apa juga. Bukan aku enggak menghargai orangtua, tetapi waktu aku dimarahi ya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Karena kalau aku jelaskan juga tentang apa yang aku kerjakan itu akan percuma. Aku coba bertanggungjawab saja orangtua sudah menguliahkan aku, ya aku selesaikan.”

Singkat cerita, para personel Jingga ini diterima oleh Musica Studio’s, namun mereka harus berganti nama. Akhirnya, nama Geisha dipilih melalui diskusi antara para personel dan pihak label. Waktu itu, Geisha hanya diberi waktu satu minggu oleh Musica untuk menyelesaikan rekaman album pertama mereka yang akhirnya dirilis pada 2009.

“Satu hari kami rekaman dua lagu (untuk album debut). Sampai akhirnya kami tipes semua,” kata Momo.

14 tahun bukan waktu sebentar bagi Geisha. Mereka melalui lika-liku yang bahkan pelik, salah satu yang cukup membekas adalah ketika Roby terjerat kasus narkoba sebanyak dua kali. Namun saat mereka goyah, mereka dikuatkan oleh mimpi masa muda yang membawa mereka berjalan sejauh ini.

“Kami selalu diingatkan kalau kami ini keluarga. Kalau dibilang perjalanan kami ini mulus-mulus saja itu bullshit banget sih, emang banyak lika-likunya. Tapi kami selalu diingatkan bahwa kami saling menjaga, bahwa kami ini satu keluarga, saling support satu sama lain dan kita harus terus berkarya,” tukas Roby.



 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA