Irama Nusantara Telah Melakukan Pengarsipan Digital 3.000 Piringan HItam

Cecylia Rura    •    20 Desember 2017 10:37 WIB
Irama Nusantara Telah Melakukan Pengarsipan Digital 3.000 Piringan HItam
Jumpa pers Irama Nusantara dan Badan Ekonomi Kreatif (Foto: Cecylia Rura/Metrotvnews)

Jakarta: Indonesia memiliki musikus dengan karya yang cemerlang. Sebelum dimudahkan dengan teknologi digital, lagu-lagu para musisi di zaman dulu seperti sejak era 1920-an disimpan dalam beberapa medium piringan hitam atau vinyl dan shellac. Medium ini tentu akan cepat rapuh jika tidak mendapatkan perlakuan khusus.

Melestarikan musik Indonesia, sekelompok pemuda dari Irama Nusantara mengumpulkan setidaknya 3.000 vinyl dan telah didigitalisasi. Hingga kini sudah ada sekitar 2.000 vinyl yang diunggah ke situs resmi iramanusantara.org dan dapat dinikmati oleh penikmat musik.

"Selama tiga tahun kita punya 1.000 rilisan lebih. Dalam setahun sekarang kita bisa nambah 1.000 rilisan," ungkap Alvin Yunanta dari Irama Nusantara dalam acara diskusi panel Lagu Baru dari Masa Lalu di Auditorium M. Jusuf Ronodipuro Gedung RRI Jakarta Pusat, Selasa, 19 Desember 2017.

Selama tiga tahun sejak 2013-2016, Irama Nusantara mampu mengumpulkan sebanyak 1.120 vinyl. Kemudian saat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Radio Republik Indonesia (RRI) membukakan pintu untuk membantu Irama Nusantara, rilisan tersebut bertambah 1.031 vinyl. Jumlah tersebut masih dikumpulkan dari tiga kantor RRI yakni Bandung, Yogyakarta dan Jakarta. Belum dari beberapa kantor daerah RRI yang mencapai puluhan di pelosok negeri. Jika ditotal hingga kini perilisan vinyl sudah mencapai 2.151 rilisan yang telah diunggah ke situs resmi untuk pengarsipan lagu-lagu Indonesia dari era 1920-an hingga 1980-an.

Genre yang dikumpulkan pun beragam sehingga dikatakan oeh David Tarigan dari Irama Nusantara, sangat sulit untuk diklasifikasikan. Beberapa genre yang bisa disebutkan di antaranya pop dan keroncong.

Pengarsipan ini selain untuk melestarikan lagu-lagu Indonesia, dilakukan juga sebagai antisipasi perlindungan dari klaim kepemilikan oleh pihak negara lain. Sehingga Indonesia memiliki bukti kuat untuk mempertahankan indentitas musik Indonesia.

Dari segi ekonomi, pasar musik pun memiliki lingkar yang cukup besar.

"Musik adalah 1 dari 16 subsektor prioritas Bekraf. Berpotensi besar secara ekonomi dan mampu memberikan multiplayer effect," ujar Ricky Pesik, Wakil Kepala Bekraf di kesempatan yang sama.

"Ini adalah pasar yang besar bagi kita sendiri. Pasar musik itu termasuk besar, kerugian termasuk pembajakan konon kehilangan Rp 10 triliun."

Melalui anak-anak muda yang cukup 'gila' ini, Indonesia dapat terbantu menata ekosistem industri yang lebih baik. Sekaligus, memiliki dokumentasi yang baik terhadap aset yang dimiliki negara.

Selain sebagai acara diskusi, tepat pada hari kemarin dilakukan penyerahan data hasil digitalisasi Irama Nusantara dan Bekraf kepada RRI. Kerjasama ini diharapkan dapat menjadi tonggak baru kelanjutan kerjasama dari berbagai pihak yang lebih luas. Sehingga tidak hanya untuk pengarsipan musik populer Indonesia melainkan penggalian lebih jauh terhadap nilai kekayaan musik Indonesia.

Irama Nusantara terbentuk dari sekelompok pemuda yang peduli terhadap karya musik populer Indonesia. Selain sebagai pekerja dan penikmat musik, David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunanta, Norman Illyas, Mayumi Haryoto serta Dian 'Onno' Wulandari awalnya melakukan pengarsipan dokumentasi tembang kenangan secara mandiri, sebelum dibukakan pintu oleh Bekraf. Tujuannya agar kenangan Indonesia tempo dulu tidak hilang begitu saja dan dapat dinikmati lintas generasi.

Menggagas sebuah gerakan pengarsipan musik populer sejak 2013, mereka tidak hanya mengumpulkan piringan hitam namun melakukan digitalisasi serta membuat salinan digital sampul album yang juga sarat nilai seni melalui situs iramanusantara.org.


(ASA)

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

4 days Ago

Yon dan Koes Plus meninggalkan segudang warisan bagi generasi setelah mereka. Semasa jayanya, K…

BERITA LAINNYA