3 Lagu yang Berubah Mencekam Setelah Dijadikan Soundtrack Film

Purba Wirastama    •    11 April 2017 07:00 WIB
musik indonesia
3 Lagu yang Berubah Mencekam Setelah Dijadikan Soundtrack Film
Sampul album Bing Slamet & Lilis Suryani yang menyanyikan ulang Genjer-genjer.

Metrotvnews.com, Jakarta: Film, kata kritikus Roger Ebert, merupakan jendela yang dapat mengantar penonton melihat dunia dari sudut pandang yang lain. Begitu juga dengan musik.

Film dan musik tak bisa dipisahkan. Mereka disebut sebagai medium seni paling kuat dalam menumbuhkan empati maupun pemikiran baru. Artinya, ada perspektif dan emosi ditularkan kepada penonton melalui gambar dan suara.

Lewat film, sebuah musik bisa memeroleh stigma. Seperti tiga lagu berikut ini, yang berhasil dilabeli stigma negatif akibat terserap nuansa film.

1. Genjer-genjer

Komunisme dan PKI (Partai Komunis Indonesia) menjadi isu yang mencekam pada masa orde baru, tak terkecuali lagu Genjer-genjer. Menurut cerita sejarah, PKI memang kerap menggunakannya untuk menarik simpati rakyat lantaran lagu ini mewakili penderitaan rakyat bawah yang hanya sanggup makan daun genjer.

Dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984) arahan Arifin C Noer, lagu ini menjadi musik latar dalam adegan penyiksaan para jenderal. Setelah  adegan para jenderal disiksa, ratusan warga di luar rumah bernyanyi dengan gembira.

(Baca: Genjer-genjer, Nasib Lagu Rakyat di Tangan Politik)

Stigma negatif semakin kuat setelah pelarangan lagu Genjer-genjer pada masa orde baru. Nyanyian lagu disebut-sebut mengundang ingatan generasi kelahiran orba kepada nuansa kelam PKI, yang dianggap kejam dan tak beradab.

Padahal sesungguhnya, lirik asli lagu daerah Banyuwangi ini jauh dari kesan kejam. Seniman angklung bernama M. Arif menulis liriknya dalam bahasa Osing (bahasa yang dituturkan di daerah Banyuwangi), yang kurang lebih bercerita tentang seorang ibu yang memetik daun genjer (Limnocharis flava) di rawa-rawa untuk dijual dan dimasak. Berikut lagu Genjer-genjer yang dipopulerkan oleh Lilis Suryani.




2. Lingsir Wengi

Lagu cinta ini mendadak dianggap berkorelasi dengan cerita horor urban setelah diaransemen ulang untuk film Kuntilanak (2006). Katanya, menyanyikan lagu berbahasa Jawa ini akan mengundang kuntilanak datang.

Dalam film arahan Rizal Mantovani tersebut, Lingsir Wengi memang menjadi mencekam. Vokal perempuan bernada tinggi, pelan, menyayat, serta bertempo pelan, menambah nuansa horor yang telah dibangun secara visual.

Padahal, lirik asli yang konon ciptaan Sunan Kalijaga ini bercerita tentang seseorang yang sedang jatuh cinta dan mengingat pujaannya saat malam sebelum tidur. Musik yang lebih dulu populer pun beraliran keroncong dan cocok menjadi lagu karaoke.




3. Boneka Abdi

Yang terakhir ini cukup menggelikan. Setelah dinyanyikan ulang oleh musisi Sarasvati (nama panggung Risa Saraswati) dengan tempo lebih lambat diiringi dentingan minimalis piano, lagu anak-anak Boneka Abdi menjadi mencekam.

Apalagi setelah film Danur: I Can See Ghost (2017) menggunakannya sebagai salah satu lagu tema. Cerita yang berkembang, jika lagu dinyanyikan, para hantu sahabat Risa dalam film Danur akan datang. Meskipun Risa telah menegaskan bahwa mereka baik, toh sebagian penonton tetap membayangkan sesuatu yang seram.

Padahal, lagu ini adalah versi bahasa Sunda untuk Hänschen Klein, lagu daerah anak-anak Jerman yang sudah mendunia. Lirik memang berbeda dengan asli, tetapi lagunya tetap menunjukkan keceriaan dengan nada-nada mayor. Versi bahasa Inggrisnya yang berjudul Little Hans pun sangat ceria.




(DEV)

Giring Nidji Keputusan Vakum dan Visi Politik

Giring Nidji Keputusan Vakum dan Visi Politik

4 days Ago

Setelah lima belas tahun Bersama Nidji, Giring Ganesha mengambil keputusan besar untuk vakum.

BERITA LAINNYA