Guruh Soekarnoputra Prihatin Generasi Muda Tak Kenal Musik Keroncong

Cecylia Rura    •    29 Maret 2018 14:32 WIB
musik keroncong
Guruh Soekarnoputra Prihatin Generasi Muda Tak Kenal Musik Keroncong
Guruh Soekarnoputra (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Seniman dan budayawan Guruh Soekarnoputra tampak sedikit menghela napas ketika berbicara soal musik keroncong di Indonesia. Menurutnya, warisan musik khas Indonesia tersebut sudah sepatutnya diketahui oleh generasi muda. Namun, hal itu menurut Guruh belum tercermin pada generasi muda sekarang.

"Generasi muda sekarang banyak yang kurang mengenal dan itu memprihatinkan. Banyak anak muda, generasi muda penerus yang tidak mengenal Indonesia dan ke-Indonesia-annya. Tidak mengenal tentang budaya Indonesia. Tidak mengenal sejarah Indonesia. Itulah keadaan kita," papar seniman yang ikut bertumbuh bersama musik keroncong Indonesia tersebut kepada Medcom.id di Jakarta, Kamis, 29 Maret 2018.

Guruh pun menyarankan agar pemerintah yang memiliki peran penting mampu memberikan edukasi seputar musik keroncong. Sehingga, generasi penerus dapat tetap menjaga warisan budaya Indonesia. Bukan hanya berkumpul untuk membentuk sebuah grup band, tetapi perkumpulan musik keroncong.

"Sebenarnya yang paling kompeten di sini adalah pemerintah. Bagaimana caranya lewat segala aparatnya mungkin stasiun televisi dan terus membina para musisi atau anak-anak muda, kalau mau membentuk kumpulan musik tidak hanya band saja tapi bikinlah grup keroncong," katanya lagi.

Selain mendapatkan binaan, perlu adanya minat untuk mengedukasi diri sendiri tentang apa itu musik keroncong sebelum terjun dalam dunia musik khas budaya Indonesia tersebut.

"Harus ke pemuda, anak-anak muda itu diimbau untuk bikin keroncong dan sebelum itu banyak mengenal apa itu keroncong," kata Guruh.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Waldjinah juga merasa peran pemerintah sangat penting untuk menyelamatkan keroncong. Waldjinah melihat ada potensi besar dari generasi muda sebagai penerus tradisi, namun sayang instrumen dan ekosistem yang ada tidak mendukung mereka untuk dapat hidup melalui musik keroncong. Contoh nyatanya, media dan industri tidak memandang keroncong sebagai musik yang menjanjikan secara komersial.

"Sekarang itu banyak kemajuan. Anak-anak muda sekarang suka keroncong. Di Solo saya sudah mengadakan (sekolah keroncong), dari SD, SMP, SMA. Itu diberi seleksi tentang lagu-lagu keroncong. Pengikutnya 165 di Solo."

"Mestinya dari pejabat-pejabat (pemerintah) itu harus ikut campur tangan."

"Umpamanya TV, (kalau) sering banyak dikeluarkan siaran TV keroncong asli. Masih banyak yang suka," kata Waldjinah kepada Medcom.id.

Artikel tentang berbagai persoalan yang dihadapi keroncong pada saat ini dapat dibaca di artikel Agar Regenerasi Keroncong Mengalir Sampai Jauh.

 


(ASA)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA