Konser Katy Perry Sepi, Pengaturan Formasi Penonton Berubah

Purba Wirastama    •    15 April 2018 20:16 WIB
katy perry
Konser Katy Perry Sepi, Pengaturan Formasi Penonton Berubah
Konser solo Katy Perry di ICE BSD Tangerang semalam, Sabtu, 14 April 2018 tidak mendapat sambutan cukup antusias dari khalayak Indonesia. (Foto: Youtube)

Jakarta: Konser solo Katy Perry di ICE BSD Tangerang semalam, Sabtu, 14 April 2018 tidak mendapat sambutan cukup antusias dari khalayak Indonesia. Selain banyak tiket tidak terjual, area penonton kelas festival persis di depan panggung dipenuhi penonton dari kelas lain karena sepi.

Promotor AEG Presents dan InTour Live menjual enam kelas tiket seharga Rp900 ribu hingga Rp5 juta. Penonton kelas Festival A berdiri paling depan di sekitar lidah panggung. Lalu di belakangnya, terpisah pagar dan pintu penghubung, berdiri para penonton Festival B.

Kelas termahal Platinum berada di tribun samping kanan-kiri kelas A dan B. Kelas termahal keempat Gold juga berada di tribun samping yang terletak lebih jauh. Lalu dua termurah, Silver dan Bronze, duduk jauh di depan panggung setelah kelas A dan B.

"Sekitar 10 menit sebelum mulai, A sepi. Terus penonton B mulai ribut (ingin maju). Kelas B lumayan (lebih ramai), tetapi juga sepi," kata Pandu, salah satu penonton di area A, kepada Medcom.id saat dihubungi lewat telepon, Minggu, 15 April.

Pandu datang bersama kawan-kawannya dari Jakarta dengan tiket komplimen dari salah satu sponsor. Begitu acara hampir dimulai, dia melihat area A baru terisi sedikit, tidak sampai 400 orang penonton. Area B lebih banyak sekitar 800 orang. Keduanya tampak relatif sepi karena aula yang sangat luas. Area paling ramai adalah dua kelas termurah jauh di depan panggung.

"Kayak lomba 17-an, cuma segelintir. Duduk di lidah panggung juga bisa, sepi banget," ujar Pandu.

Menurut Pandu, pintu ke area A akhirnya dibuka bagi penonton kelas B supaya area depan panggung penuh. Seandainya area depan ini tidak dipenuhi, Katy akan naik panggung dan melihat bahwa area di hadapannya sepi.

"Beberapa orang lokal mulai memasukkan beberapa orang media dari B ke A. Tiket B komplimen boleh masuk ke A. Lalu orang-orang B yang tidak bisa masuk mulai (ribut lagi). Akhirnya pintu dibuka lagi,  langsung (orang-orang merangsek masuk), terus langsung ditutup. Orang-orang dari tim Katy Perry langsung berjaga, marah-marah di frontline Indonesia," lanjut Pandu, yang mengaku duduk lesehan di dekat pagar pembatas A dan B.

Setelah sempat tidak terkontrol, tim dari manajemen Katy mengambil alih pemindahan kelas penonton. Mereka berdiskusi berapa orang dari kelas B yang hendak ditambahkan ke area depan panggung. Satu per satu, penonton kelas B masuk ke area A. Tim Katy menghitung orang-orang yang masuk hingga area depan tampak penuh.

Patrice dan Ajeng, dua penonton dari Jakarta, duduk di tribun penonton Gold. Mereka mendapat tiket komplimen alias gratis dari teman mereka. Saat melihat area Festival A sepi dan bisa diisi pemegang tiket area lain, mereka juga turun dari tribun hendak ke depan. Panitia yang berjaga di pintu melarang. Mereka pun kembali duduk di tribun Gold.

Begitu pertunjukan setengah jalan, mereka melihat bahwa area A tetap belum ramai. Mereka turun dan mencoba masuk ke sana lagi. Saat itu, Katy sedang membawakan lagu Chained to the Rythm, sebelum dia membawakan Power yang sempat mengalami masalah tata suara panggung.

"Pas tengah-tengah gitu, kok masih sepi. Terus coba-coba, kami turun, langsung (bisa masuk). Kami didiamkan saja, enggak ada yang jaga. Ini gimana kok festival sepi banget. Bukan sepi sih, tapi aulanya itu satu, tapi enggak penuh," tutur Ajeng kepada Medcom.id saat dihubungi terpisah.

Penonton lain di tribun Gold, Janu, melihat bahwa penjagaan antar kelas kurang ketat.

"Masih abu-abu boleh (masuk) apa enggak, jadi orang-orang nyelonong. Kadang kalau rombongan gitu sulit membedakan, dia festival atau tribun. Tanda-tandanya aja yang kurang," jelas Janu.

Sumber kami yang lain menyebut bahwa ada masalah lain terkait pembagian area penonton. Menurut dia, pemetaan awal berbeda dengan realisasi pemetaan di lokasi. Dia juga menyebut bahwa harga tiket pertunjukan ini terlalu mahal untuk ukuran konser solo.

"Tiketnya kemahalan, jadi yang beli jarang. Masak calo menawarkan tiket harga Rp3 juta jadi Rp200 ribu," katanya kepada Medcom.id

"Tiket asli! Malah ada juga Rp50 ribu," imbuhnya.

Pertunjukan semalam adalah panggung terakhir Katy di Asia dalam rangkaian tur musik dunia Witness, yang dimulai sejak September 2017. Ini adalah kedatangan Katy ketiga di Indonesia setelah edisi 2012 dan 2015.

 


(DEV)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

1 day Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA