Sinetron, Dicaci Tapi Dinanti

Coki Lubis    •    13 April 2016 13:39 WIB
sinetron
Sinetron, Dicaci Tapi Dinanti
Komik strip ini mengisahkan kecenderungan satu dekade terakhir di masyarakat yang memilih nama bagi putra dan putrinya berdasar tokoh sinetron.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kelompok pendukung garis keras ternyata bukan hanya dimiliki kandidat pilkada dan pilpres. Sinetron pun memiliki 'massa ideologis'-nya yang sengit memperjuangkan eksistensinya melalui media sosial.

Hampir setiap sinetron yang sedang tayang, di saat yang sama, satu atau dua frasa terkait menjadi trending topic. Begitulah kira-kira kekuatan penggemar sinetron di Indonesia, yang mampu mendominasi linimasa media sosial. Tak hanya itu, sinetroners biasanya pasang badan ketika sinetron kegemarannya saat dikritik.

Apalagi, belakangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sering di-mention soal konten sinetron yang dianggap negatif. Bahkan muncul petisi menghentikan tayangan sinetron tidak bermutu.

Jelas hal ini menjadi ancaman serius bagi penikmat sinetron yang dikritik. Sinetroners marah dan meneriakan 'save' atau 'support' sinetron kegemarannya, karena tidak rela tayangan kesayangannya berakhir.

Sepanjang awal pekan ini ini pertempuran itu pecah di media sosial, antara netizen pengkritik sinetron dengan para pendukung garis kerasnya. Dua tagar saling bertolakbelakang muncul di puncak Trending Topic Twitter Indonesia.

Yang menjadi sorotan, mengapa di tengah kritik tajam terhadap konten sinetron, masih banyak yang ingin tayangan hiburan ini dipertahankan?

Ya, lepas dari persoalan mendidik atau tidak mendidik, tidak realistis dan sebagainya, dalam perspektif lain, ada persoalan selera dibalik fenomena ini. Artinya, boleh jadi memang begitulah cerminan kebanyakan selera penonton sinetron kita.

Meminjam istilah Iwan Awaluddin Yusuf - penulis dan dosen komunikasi UII, paling tidak, asumsi ini menunjukkan, tayangan yang ingin ditonton kebanyakan orang justru sesuatu yang berada di luar keseharian mereka. Sesuatu yang berada di awang-awang yang membebaskan diri dari kondisi atau persoalan hidup sehari-hari, terutama kondisi ekonomi.

Sederhananya, kehadiran sinetron bisa menjadi placebo, obat sementara untuk melupakan rasa muak atas kondisi kehidupan yang morat-marit.

Belum lagi kemasan sinetron yang identik dengan cerita panjang, alur berputar-putar dan memiliki puluhan, ratusan bahkan ada yang ribuan episode dengan intrik dan dramatisasinya. Ceritanya jadi bertele-tele bahkan melenceng jauh dari tema utama yang digambarkan dalam judulnya. Tapi rupanya itu kenikmatannya nonton sinetron.

Jadi, jangan coba-coba hentikan sinetron.
 


(LHE)