Penjaga Rasa Kuliner Indonesia

Anggi Tondi Martaon    •    18 Mei 2016 16:59 WIB
idenesia
Penjaga Rasa Kuliner Indonesia
Pemilik RM? Sederhana Bustamam (Foto:MI/Panca Syurkani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Cita rasa kuliner khas Indonesia tidak kalah dengan kuliner luar negeri. Terbukti, saat ini usaha kuliner tradisional masih diminati dan berkembang pesat.

Salah satu ‎bukti nyata dapat dilihat melalui usaha Rumah Makan (RM) Sederhana. Restoran yang menyajikan kuliner khas Minang itu sudah memiliki cabang di sebagian besar wilayah Indoneisa.

Pemilik RM‎ Sederhana Bustamam mengatakan, selain rasa makanan yang lezat dan memanjakan lidah, usaha yang dirintis dari bisnis kaki lima di Bendungan Hilir, Jakarta, itu berkembang karena sistem mitra. Hal itu yang membuat RM Sederhana bisa sukses seperti sekarang.

"Karena mitra, menjalin kemitraan langsung," kata Bustamam dalam Program Idenesia bertema Penjaga Rasa Kuliner Indonesia.

Tidak hanya menjaga cita rasa, menyesuaikan dengan karakteristik lidah masyarakat setempat juga menjadi kunci sukses mengembangkan usaha kuliner khas Indonesia.

Hal itu diterapkan oleh Haris, ‎penerus Gudeg Bu Tjitro.

Kata Haris, dengan menyesuaikan cita rasa dapat membuat orang dari luar daerah tetap menikmati kuliner daerah tertentu. Dia mencontohkan cita rasa Gudeg Bu Tjitro yang dijual di Jakarta.

"Kita menyesuaikan dengan lidah orang Jakarta, karena orang Jakarta tidak suka yang terlalu manis," ucap Haris.

Selain itu, Haris mencoba mengembangkan usaha gudeg yang awalnya dipasarkan di sekitar Keraton itu dalam bentuk kemasan kaleng. Dibutuhkan beberapa kali percobaan, sebelum akhirnya produk Gudeg Bu Tjitro dapat dijual dalam bentuk kemasan.

"Waktu itu uji coba sampai 10 kali proses. Pembunuhan bakteri kita pakai inkubator," jelasnya.

Sebenarnya, usaha kuliner khas Indonesia saat ini sudah sangat berkembang. Selain memiliki kekuatan cita rasa lezat, cara memproses masakan juga sangat menentukan rasa makanan tersebut.

Tak jarang, pada era modern ini banyak pengusaha kuliner masih mempertahankan cara tradisional saat mengolah makanan.

Seperti yang diterapkan Sofian, pemilik Restoran Ayam Taliwang Irama. Hingga saat ini, restoran itu masih menerapkan proses tradisional saat memasak ayam Taliwang.

"Memasak masih menggunakan cara tradisional. Tidak menggunakan oven atau lainnya. Jadi, rasanya itu masih terasa," kata Sofian.

Penerus usaha Bebek Tepi Sawah I Ketut Gede Suarjaya juga mengungkapkan bahwa penggunaan bumbu khas daerah turut menentukan cita rasa. Seluruh cabang Bebek Tepi Sawah menggunakan bumbu khas Bali.

"Yang terpenting sih bumbunya. Kalau bebek, semua sama. Bumbu dibuat di Bali semua, kemudian dikirim ke cabang-cabang," kata I Ketut Gede Suarjaya.

Meski mengalami perkembangan usaha yang cukup pesat, seluruh pengusaha tetap harus berjuang agar makanan khas Indonesia tetap menjadi pilihan utama masyarakat negeri ini.

Selain itu, penting untuk meningkatkan fasilitas wisata di suatu daerah agar makanan khas Indonesia bisa tetap eksis. Sebab, wisata dan makanan saling terikat. Tak bisa dipisahkan.

"Pemerintah harus selalu menjaga wisata Lombok. Sebab, wisata sangat berpengaruh untuk perkembangan usaha ayam Taliwang," kata Sofian.

Jangan lewatkan IDEnesia episode Penjaga Rasa Kuliner Indonesia pada Kamis (18/5/2016), pukul 22.30 WIB, di Metro TV.


(ROS)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

3 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA