Eksotika Seni dari Bali

Anggi Tondi Martaon    •    25 Mei 2016 11:42 WIB
idenesia
Eksotika Seni dari Bali
Sejumlah seniman mempersembahkan tari kolosal Parade Topeng pada Festival Denpasar 2015 di Denpasar, Bali, Senin, 28 Desember 2015 (Foto:Antara/Nyoman Budhiana)

Metrotvnews. Jakarta: Pulau Bali tidak hanya menyajikan pesona alam yang memanjakan mata dan jiwa. Pulau Bali juga menyuguhkan keramahan dan keelokan budaya.

Hal itu yang menggelitik Yovie Widianto dan Idenesia untuk melihat lebih dalam bagaimana masyarakat dan seni menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Pertama, Yovie mengunjungi seniman alat musik tiup Gus Teja. Gus Teja dan musik tiup, khususnya seruling, sudah bergaul sejak lama. Bahkan, seniman yang sudah mengharumkan Indonesia di berbagai pertunjukan di Asia, Eropa, hingga Amerika ini mulai gemar memainkan seruling semenjak kecil.

"Alat musik tiup seakan tak terpisahkan dari hidup. Saya sudah menyukai alat musik tiup sejak kecil," kata Gus Teja kepada Yovie, dalam Program Idenesia dengan tema Eksotika Seni dari Bali.

Kecintaan Gus Teja terhadap alat musik tiup tradisional tidak hanya pada seruling saja. Dia pun menggemari dan mempelajari alat musik dari kebudayaan negara lain.

Pria kelahiran 1982 itu mengkoleksi dan mampu memainkan dengan baik 20 alat musik tiup dari berbagai belahan dunia, seperti‎ Native America, Panflute, Acarina, Halusi, Bansuri, dan lainnya. Gus Teja mengatakan, setiap alat musik memiliki teknik berbeda saat dimainkan.

"Perbedaan seruling dengan alat musik tiup lain, yaitu seruling membutuhkan energi udara yang lebih kuat. Kalau alat musik lainnya seperti Native American, lebih halus," kata Gus Teja.

Pertemuan Yovie dengan Gus Teja ditutup dengan alunan musik menggunakan Native American. ‎Yovie terbuai dengan lembutnya alunan musik yang dimainkan oleh Gus Teja.

Setelah itu, perjalanan Yovie di pulau yang menjadi favorit wisatawan lokal dan mancanegara itu dilanjutkan dengan melihat kesenian beladiri tradisional di Mepantigan, Bali. Uniknya, kesenian tersebut dikemas ‎secara modern dan sangat atraktif.

Untuk menambah kemeriahan, Yovie pun diajak memeragakan beberapa gerakan di dalam lumpur. Keceriaan dan kehebohan terjadi setiap kali Yovie memeragakan gerakan yang dibimbing Mepantigan.

Perjalanan Yovie di Pulau Bali yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu itu ditutup dengan berbincang bersama Cok Sawitri. Cok Sawitri merupakan seniman serba bisa karena sangat cakap menulis, lihai dalam menari, dan tokoh besar teater.

Dengan banyaknya keahlian yang dimiliki Cok Sawitri, Yovie pun bertanya passion (semangat, ketertarikan) dari seni yang digelutinya. Cok Sawitri menjawab, "Passion pertama, ingin menjadi teladan manusia yang baik. Apa saja dasar kesenian untuk melatih perasaan."

Cok Sawitri mengungkapkan, dirinya selama ini selalu menerapkan prinsip untuk mengagumi karya yang dihasilkan setiap orang. Menurutnya, rasa kagum tersebut akan membuat dirinya semakin memperkaya inspirasi dalam berkarya.

"Jika seorang seniman sudah kehilangan kekaguman, sebenarnya sudah tidak bisa berkarya. Karena sudah ada keangkuhan, hilang rasa untuk berkarya," ucap Cok Sawitri.

Rasa kagum yang dipegang teguh oleh Cok Sawitri tidak memandang siapa yang membuat karya. Dirinya akan bersikap sama ketika melihat karya yang dibuat anak-anak dengan karya yang dibuat oleh seniman terkenal.

‎"Ketika saya membaca puisi anak SD, sama seriusnya dengan membaca karya seorang penyair besar yang punya karya. Ketika melihat penari pemula anak-anak yang ekspresi lucu, sama dengan menonton yang lain," ujar Cok Sawitri.

Jangan lewatkan IDEnesia episode "Eksotika Seni dari Bali" pada Kamis (26/5/2016), pukul 22.30 WIB, di Metro TV.


(ROS)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA