Memudarnya Filosofi Batik

Putu Radar Bahurekso    •    15 Mei 2016 09:11 WIB
batik
Memudarnya Filosofi Batik
(Foto: Metrotvnews.com/ Putu Radar Bahurekso)

Metrotvnews.com, Jakarta: Batik merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan kain tradisional ini sudah sejak zaman kerajaan Hindu Budha.

Keberadaan batik terus berkembang dan menyebar melalui perpindahan penduduk, entah itu melalui perdagangan, bencana alam, maupun perang. Sejarah panjang batik membuatnya memiliki nilai filosofis yang tinggi.
 
Dalam cerita klasik, batik dibuat untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Zaman dahulu, masyarakat percaya bahwa wakil Tuhan adalah raja. Tak heran jika batik selalu dipersembahkan untuk raja.

Perkembangan batik kian meluas seiring zaman yang semakin maju, teknologi yang semakin modern, serta masyarakat yang semakin mengenal sistem pasar. Jika sebelumnya hanya ada batik tulis, kemudian muncul batik cap, sablon, hingga printing.

“Batik tulis adalah proses membatik yang paling tua, Batik tulis buatan tangan. Bahan-bahan dan prosesnya juga masih sangat tradisional,” jelas Daromi, seniman batik asal Yogyakarta saat diwawancara di Museum Nasional, Jakarta pada Sabtu (14/05/2016).

Nilai batik tulis cukup tinggi, mengingat pembuatannya yang sulit. Sebagai contoh, untuk membuat batik tulis halus, diperlukan waktu setidaknya dua bulan, sementara untuk membuat batik kasar, diperlukan waktu berhari-hari.

Berbeda dengan batik printing yang pembuatannya lebih cepat, biaya produksi lebih murah, dan hasil yang lebih banyak. Namun jika dibandingkan secara desain, batik printing memiliki motif sederhana dan pasaran.

Perkembangan batik printing membuat keberadaan para pembatik tradisional berkurang jumlahnya. Namun, di lain sisi produksi batik justru meningkat.

“Secara produksi industri, batik itu meningkat. Tapi secara nilai filosofis dan spiritual justru menurun,” ujar Budi Mulyawan, seorang peneliti dan pengriset batik.

Saat ini, para pengusaha batik muda lebih tertarik menjalani usaha batik printing. Tentunya karena secara ekonomi industri batik printing lebih menguntungkan. Usaha batik tulis saat ini lebih banyak ditekuni oleh orang tua.

“Yang mengerjakan batik tulis itu kebanyakan ibu-ibu yang sudah sepuh. Yang muda pemikirannya lebih ekonomis, membuat batik dengan motif yang lebih mudah, produksi cepat, dengan biaya produksi yang lebih murah,” ujar Mitra Satria, pengamat perkembangan batik.

Ini adalah sebuah dilema dalam dunia budaya Indonesia terutama dalam hal batik. Menyejahterakan diri dalam hal ekonomi bukan hal yang salah, Namun, ada yang dikorbankan dari pilihan terhadap faktor ekonomi ini, yakni memudarnya kearifan lokal dalam batik sebagai sebuah produk budaya yang dianggap luhur.

“Kemunculan batik printing tidak bisa ditolak, ini adalah sebuah perkembangan zaman. Batik tulis juga tidak mampu memenuhi kebutuhan industri pasar, dan batik tulis juga harganya mahal,” kata Budi, menutup. pembicaraan.


(DEV)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA