Mengenal Filosofi Pembuatan Canang Sari di Bali

Putu Radar Bahurekso    •    01 Mei 2016 15:15 WIB
wisata
Mengenal Filosofi Pembuatan Canang Sari di Bali
Canang Sari (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Metrotvnews.com, Tabanan: Canang Sari merupakan sebuah perlengkapan keagamaan umat Hindu Bali untuk persembahan setiap hari. Persembahan ini dapat ditemui di area Pura (tempat ibadah), tempat sembahyang dalam rumah, hingga di jalan-jalan.

Canang merupakan bentuk dari sesajen atau persembahan yang oleh masyarakat Bali lebih akrab disebut dengan istilah banten. Istilah canang sendiri juga memiliki dua arti. Canang berarti sirih, dan canang yang berarti memohon keindahan.

"Canang itu memiliki arti sirih. Zaman dahulu sirih diberikan untuk menghormati seseorang. Sedangkan, kalau menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung, canang itu dari dua suku kata yakni "ca" yang berarti indah dan "nang" yang berarti tujuan. Jadi, canang ditujukan untuk memohon suatu yang indah," jelas Yeni, seorang krama DWE (anggota Desa Wisata Ekologis) Nyambu, saat ditemui di kawasan desa Nyambu, Tabanan, Bali, Sabtu (30/4/2016).

Dari segi bahan, canang pada bagian wadah atau tempatnya dibuat dari janur yang dibentuk kotak atau lingkaran. Dalam canang diletakkan yang namanya porosan, beralaskan daun dengan isi sirih, kapur, dan jambe (gambir atau getah yang dikeringkan).


Porosan (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

"Porosan ini memiliki perlambangan kepada sosok Trimurti dalam umat Hindu yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa," ucap Yeni.

Kemudian, pada canang juga selalu diletakkan bunga yang terdiri atas lima warna. Pemberian bunga ini juga melambangkan keindahan dalam suku kata "ca" pada canang.

Kelima warna tersebut adalah bunga berwarna putih yang diletakkan di sebelah timur canang dan menjadi perlambangan Dewa Iswara. Kemudian, bunga warna merah di bagian selatan yang melambangkan Dewa Brahma.


Pembuatan Canang Sari (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Bunga Warna kuning yang berada di bagian barat dan melambangkan Dewa Mahadewa, bunga hitam atau berwarna gelap di sisi utara yang melambangkan Dewa Wisnu, dan bunga hijau di tengah yang melambangkan Dewa Siwa.

"Bunga dalam canang ini juga menjadi simbol kebijaksanaan. Bunga dalam canang ini ada yang wangi, dan ada juga yang tidak ada wanginya. Begitu pun dengan hidup, kadang baik kadang tidak," kata Yeni.


(ROS)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

3 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA