Seni dan Sastra sebagai Ruang Kebebasan Berekspresi

Putu Radar Bahurekso    •    28 Mei 2016 18:23 WIB
senisastra
Seni dan Sastra sebagai Ruang Kebebasan Berekspresi
Nirwan Dewanto (Foto: Metrotvnews/Putu)

Metrotvnews.com, Jakarta: "Merdeka!", sebuah jargon sakral yang sering diucapkan masyarakat pada masa penjajahan. Sekitar setengah abad kemudian, kembali muncul jargon yang berkembang di masyarakat, "Reformasi."

Berbagai bentuk perlawanan beserta seluruh jargonnya merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap penindasan HAM, terutama dalam hal kebebasan berekspresi, kebebasan berpikir, dan juga kebebasan berpendapat.

Masyarakat membentuk barisan di jalan untuk menuntut haknya, berjalan beriringan menuju kantor pemerintah. Sebuah pemandangan tak asing, dan hingga kini masih sering terjadi.

Di sisi lain, dalam bentuk yang lebih tenang terdapat juga sebuah perlawanan. Perlawanan yang mungkin tidak dianggap heroik. Sebuah ekspresi, pendapat, dalam bentuk karya seni maupun karya sastra.

Karya seni dan karya sastra merupakan sebuah medium yang mampu memberikan ruang untuk berekspresi dan juga berpendapat. Medium yang selalu mampu menyalurkan salah satu dari Hak Asasi Manusia.

Pada akhir masa Orde Baru di tahun 90-an, moralitas menjadi salah satu isu yang sering diangkat oleh karya seni. Ini sebagai bentuk anggapan dimana pada saat itu keadaan pemerintahan sudah tidak lagi bermoral.

"Pada tahun 90-an itu ada hubungan yang kuat antara seni rupa dan moralitas. Hubungan yang kuat antara estetika dan moral," ucap Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan dan Dosen Seni Rupa ITB, saat ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Hingga kini, seni dan sastra masih menjadi medium untuk mengungkapkan kegelisahan. Terutama saat para wakil rakyat dianggap tidak bisa dipercaya.


Bambang Sugiharto (Foto: Metrotvnews.com/Putu)

"Seni umumnya akan terus menerus menjadi penjaga yang akan mengamati keadaan masyarakat. Setiap ada kebebasan yang terancam, dunia seni selalu bisa menjadi seperti 'lampu kuning' untuk memperingatkan masyarakat. Inilah yang saya katakan bahwa seni adalah nurani dari kultur," tutur Bambang Sugiharto.

Nirwan Dewanto, yang merupakan seorang sastrawan juga ikut menimpali mengenai hal ini. Menurutnya, seni sebagai produk kebudayaan dalam peradaban umat manusia menjadi cermin dari perkembangan peradaban umat manusia itu sendiri.

"Kebebasan berpikir dan berpendapat adalah Hak Asasi Manusia. Tanpa itu kita tidak punya masyarakat yang sehat. Nah peran seni dan karya sastra adalah salah satu produk kebudayaan dalam sejarah umat manusia. Kemajuan peradaban umat manusia tercermin di dalam itu, dalam arti itu maka seni dan karya tulis mempertajam kemampuan kebebasan berpendapat," ucap Nirwan Dewanto.
 
Keberpihakan Karya

Jika melihat sejarahnya, pada masa masyarakat mengalami tekanan dan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia-nya, di situlah perlawanan dan keberpihakan selalu muncul.

Begitupun dengan seni dan sastra. Pada masa masyarakat mengalami tekanan dan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia akan muncul karya-karya yang berpihak terhadap kemanusiaan.

"Tekanan dalam kehidupan manusia memunculkan seni yang berpihak, sehingga seni keluar dari zona eksoterisnya atau zona khusus yang hanya dimengerti oleh orang tertentu. Contohnya adalah munculnya seni bersifat politis pada masa Orde Baru," jelas Bambang Sugiharto.

Dalam sebuah rezim otoriter, segala sesuatu harus tunduk di bawah rezim. Tak terkecuali dengan ilmu pengetahuan yang juga sering kali berpihak kepada kelompok penguasa. Namun, karya seni dan sastra tetap mampu berpihak kepada masyarakat yang mengalami penindasan.

“Seni juga memiliki fungsi untuk membahasakan kembali sesuatu yang tidak bisa diungkapkan oleh ilmu pengetahuan. Kesenian dan karya sastra menantang kita dengan ide-ide baru dan juga bentuk-bentuk baru, sehingga kita tidak berhenti mencipta dan bermasyarakat,” ucap Nirwan Dewanto.

“Pada masa yang jelas ada lawannya seperti itu seni yang berpihak muncul. Seperti rezim pada masa Orde Baru, dan juga kolonialisasi pada zaman penjajahan,” lanjut Bambang Sugiharto.

Sunardi, Dosen Filsafat Universitas Sanata Dharma, ikut menambahkan, “Masalah karya seni politis yang kita lakukan itu behasil atau tidak secara politis itu masalah belakangan. Meskipun aksi ini tidak heroik tapi kita punya space untuk berpendapat.”
 
Ketakutan Terhadap Paham Kiri dan Proses Degradasi Intelektual

Akhir-akhir ini banyak diberitakan mengenai pembubaran seminar dan juga festival karena dianggap mengandung paham aliran kiri. Tak hanya pembubaran, bahkan ada ancaman mengenai pembakaran dan pemusnahan terhadap seluruh produk budaya yang dianggap mengandung unsur komunisme.

Mengenai isu ini, Bambang Sugiharto dan Nirwan Dewanto sebagai salah seorang pelaku dunia seni dan sastra ikut menanggapi. Mereka berdua memiliki pendapat yang sama mengenai hal ini.

“Buat saya itu adalah isu konyol yang dibuat-buat. Karena sudah jelas-jelas negara-negara yang mempraktikan komunisme itu gagal seperti contohnya Uni Soviet yang bubar, Cina juga sistem ekonominya sudah tidak komunisme,” tutur Bambang Sugiharto.

Nirwan Dewanto juga menanggapi, “Buku enggak boleh dimusnahkan. Buku itu kan produk budaya dan produk ilmu. Sebuah paham tidak bisa disingkirkan dengan cara memusnahkan buku. Kalau ada sebuah paham yang berbahaya, ya orang harus tahu dulu apa bahannya. Tapi sebuah produk kebudayaan harus ditunjukan dan diperlakukan sebagai produk kebudayaan.”

“Membakar buku itu untuk apa? Zaman sekarang sudah ada e-book kok,” lanjut Nirwan Dewanto.

Ketakutan ini menurut mereka berdua adalah ketakutan yang tidak beralasan. Dan hal ini menjadi ancaman terhadap perkembangan dunia seni dan sastra.

Bagaimana sebuah produk budaya tidak diperlakukan layaknya produk budaya. Jika hal ini berlanjut justru ditakutkan akan menjadi sebuah pembodohan di masyarakat. Masyarakat dibiarkan takut terhadap hal yang irasional.

"Lagi pula yang namanya mempelajari pemikiran lain itu biasa sekali, saya malah mencurigai ini adalah isu yang dikembangkan untuk tujuan tertentu. Karena ini adalah ketakutan yang konyol. Kalau ketakutan ini terus terjadi ke depannya, saya bisa katakan bahwa masyarakat kita mengalami de-intelektualisasi, dibikin bodoh oleh isu seperti itu," tutur Bambang Sugiharto.

"Di zaman modern kini juga justru kita bisa melihat suatu hal yang aneh. Misalnya begitu banyak kepentingan yang irasional menggunakan medium yang sangat rasional. Seperti contohnya menggunakan teknologi untuk melakukan kejahatan atau menebar ketakutan,” pungkas Bambang.


(ELG)

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

4 days Ago

Yon dan Koes Plus meninggalkan segudang warisan bagi generasi setelah mereka. Semasa jayanya, K…

BERITA LAINNYA