Karya Pramoedya Ananta Toer Diangkat ke Pentas Teater

Agustinus Shindu Alpito    •    30 Mei 2016 19:02 WIB
kultur
Karya Pramoedya Ananta Toer Diangkat ke Pentas Teater
(Foto: Metrotvnews.com/ Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Karya begawan sastra asal Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, akan diadaptasi ke dalam pementasan teater oleh Titimangsa Foundation dan Yayasan Titian Penerus Bangsa.

Pentas dengan nama Bunga Penutup Abad itu akan dipentaskan pada 25 & 26 Agustus 2016 di Gedung Kesenian Jakarta.

Wawan Sofwan, sutradara pentas ini menjelaskan bahwa Bunga Penutup Abad merupakan secuplik kisah yang diceritakan Pram dalam rangkaian karya Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

"Ketika Happy Salma kontak saya mau mengangkat karya Pram, saya bingung mau novel yang mana. Happy tetap pengin mementaskan Nyai Ontosoroh. Lantas, Nyai Ontosoroh yang mana? Saya sudah bolak-balik ratusan kali Bumi Manusia. Lalu ketika saya melangkah ke Anak Semua Bangsa, saya terpikirkan judul Bunga Penutup Abad. Ada surat yang selalu dikirimkan Panji Darman dalam perjalanan Surabaya ke Amsterdam hingga Annelies meninggal. Bunga Penutup Abad diambil dari sebagian Anak Semua Bangsa dan Bumi Manusia," kata Wawan dalam jumpa pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2016).

Happy Salma, sosok yang menggagas pentas ini, bukan kali pertama ini memerankan karakter bentukan Pram. Dia pernah memerankan Nyai Ontosoroh sebelumnya, peran yang sama akan dibawakan Happy di Bunga Penutup Abad.

Aktor dan aktris top lain yang terlibat dalam pentas ini adalah Lukman Sardi yang berperan sebagai Jean Marais, Chelsea Islan sebagai Annelies, dan Reza Rahadian sebagai Minke.

"Saya percaya sosok Pram belum ada yang menggantikan, dia satu-satunya orang  Indonesia yang bisa menembus nominasi Nobel berkali-kali. Sebanyak kurang lebih 200 bukunya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Di Universitas Sorbonne, Prancis, buku Pram jadi bacaan wajib mahasiswa sastra untuk mengenal modernitas Asia," kata Happy.

Keempat karakter di atas akan disuguhkan kedalaman dialog selama kurang-lebih 2,5 jam di atas panggung. Bagi Lukman, Reza, dan Chelsea, bermain teater tentu memberi tantangan tersendiri. Mereka dijadwalkan mengikuti proses latihan sebanyak 40 kali sebelum tampil.

"Buat saya, tentu kebebasan dalam berakting adalah di panggung teater. Buat para aktor, bermain teater itu seperti misi pribadi untuk melatih akting. Bagaimana melatih artikulasi dan gerak tubuh," kata Lukman.

Pram lahir di Blora pada 1925. Dia sempat mengalami pengasingan ke Pulau Buru sebagai dampak dari peristiwa 1965. Pram meninggal pada 30 April 2006 di Jakarta.


(DEV)

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

5 days Ago

Meski melaju dengan Regina, Geisha tidak ingin menghapus bayang-bayang Momo. Lantas, ke mana ar…

BERITA LAINNYA