Barasuara: Tur adalah Ujian Bagi Grup Musik

Agustinus Shindu Alpito    •    03 Mei 2016 14:31 WIB
barasuara band
Barasuara: Tur adalah Ujian Bagi Grup Musik
Barasuara melakukan gladi resik (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Menggelar tur konser grup musik di Indonesia bukan perkara mudah. Jika di Eropa atau Amerika tur grup musik biasa dilakukan dengan bus, cara itu tidak sepenuhnya efektif di Indonesia, mengingat kota-kota di Indonesia tersebar di berbagai pulau.

Kendala yang ada bukan hanya soal aksesibilitas, tetapi juga soal sarana dan prasarana. Tidak semua kota di Indonesia memiliki gedung pertunjukkan yang ideal. Ini berarti pekerjaan grup musik yang akan menggelar konser bertambah, harus menyiapkan peralatan guna menyajikan pertunjukan yang maksimal.

Metrotvnews.com mendapat kesempatan untuk ikut dalam salah satu rangkaian tur Barasuara di Yogyakarta. Menyaksikan bagaimana sebuah grup musik menapaki kota demi kota untuk memperdengarkan musik mereka ke khalayak luas.

Senin (2/5/2016), sekitar pukul 11:00, Metrotvnews.com tiba di hotel tempat Barasuara dan kru tinggal selama di Yogyakarta. Lobi hotel yang letaknya kurang dari satu kilometer dari Tugu Yogyakarta itu ramai oleh kru Barasuara.

Mereka sedang sibuk-sibuknya. Pasalnya, secara mendadak lokasi konser pindah dari Jogja Bay ke Liquid Bar & Kitchen. Para kru harus mengurus segala keperluan teknis dan non-teknis dari perpindahan itu. Padahal, konser akan dimulai dalam waktu kurang dari 12 jam lagi.

"Gue kurang istirahat karena baru tahu semalam kalau venue konser pindah. Tim kami lalu mengurus semuanya sampai tidak tidur," kata Iga Massardi, vokalis dan gitaris Barasuara di lobi hotel.

Dalam tur bertajuk Taifun Tour 2016, Barasuara menerapkan tradisi tur tradisional; menggunakan bus dan membawa seluruh peralatan sendiri. Tentu ini bukan hal yang mudah dan murah.

(Foto: Bis yang digunakan Barasuara untuk Taifun Tour 2016/MTVN/Shindu)

Barasuara melaju dengan menyewa bus untuk memboyong kru dan personel band, plus satu mobil boks yang berisi ragam kebutuhan pentas, mulai dari amplifier, set drum, mixer audio, bahkan mixer lampu.

Membawa peralatan teknis secara lengkap sangat penting untuk mengantisipasi minimnya peralatan yang mendukung pertunjukan di kota-kota yang akan mereka singgahi.

Persiapan tidak berhenti sampai di persoalan teknis. Perjalanan darat berjam-jam menggunakan moda transporatasi bus butuh kesiapan fisik tersendiri. Terlebih bagi mereka yang tidak biasa naik bus.

"Pokoknya, empat kursi di belakang itu punya gue, gue mau tidur!" pekik drummer Marco Steffiano, sesaat setelah menapaki tangga masuk bus. Marco tidak biasa menggunakan bus untuk perjalanan jarak jauh, sehingga dia memilih posisi tidur terbaik agar tidak mabuk perjalanan.


(Foto: Marco Steffiano saat gladi resik konser)

Keceriaan para personel Barasuara masih terlihat jelas di hari perdana tur mereka. Ulah sang bassist, Gerald Situmorang, salah satu dari sumber keriaan mereka.

Gerald termasuk musisi yang eksentrik dalam berperilaku dan berpenampilan. Misal, gaya busananya, dari hotel menuju lokasi konser. Gerald memadukan celana pendek, kaus kaki setinggi betis, sepatu kulit, dan jaket. Meski beberapa kali tampak diledek rekan-rekannya, Gerald tetap cuek.


(Foto: Gerald Situmorang dengan gaya eksentriknya tengah berkoordinasi dengan salah satu kru panggung)

Yogyakarta memiliki kesan tersendiri bagi Barasuara, sehingga jadi alasan bagi mereka untuk memulai tur dari kota ini. Seperti penampilan-penampilan mereka sebelumnya di Yogyakarta, konser tur mereka sukses besar. Lebih dari 800 tiket terjual.

"Ini benar-benar di luar ekspektasi. Gue enggak menyangka bakal sold-out dan energi penonton yang sebesar itu. Sebagai kota pembuka Taifun Tour, ini sangat berkesan. Sangat-sangat berkesan," ungkap Iga usai penampilannya.

Barasuara masih akan menjalani konser di lima kota tersisa, yaitu Malang (4 Mei 2016), Surabaya (6 Mei 2016),  Solo (10 Mei 2016), Bandung (13 Mei 2016), dan Jakarta (15 Mei 2016).


Makna Tur

Mendapat kesempatan menggelar tur tentu pengalaman spesial bagi sebuah band. Terlebih bagi band yang terhitung baru. Bagi Iga massardi, penggagas Barasuara, tur adalah sebuah momen untuk menguji daya tahan band, baik secara mental, emosi, dan kekompakan.

“Tur itu sebuah tes, sebuah ujian. Apakah band itu akan terus bersama atau tidak. Banyak band lain yang ketika tur justru bubar karena tidak kuat dengan tekanannya," katanya.

Iga melanjutkan, merasa beruntung bahwa Barasuara terdiri dari para personel yang sudah dewasa, secara mental. Sehingga masing-masing mampu berkompromi dengan ego dan menghindari perpecahan.

"Kalau dulu, di band-band gue sebelumnya, umur gue masih 23, 24 tahun. Kalau sekarang gue lebih dewasa, teman-teman yang lain juga sudah dewasa. Mereka sudah punya bekal masing-masing. Alhamdullilah kita sudah pemanasan, manggung di beberapa tempat di luar kota. Kalau tekanan saat ini rasanya enggak, kalau capai kami bilang capai. Kami mikir, oke kami cuma enam orang (personel Barasuara), tetapi di belakang kita ada puluhan orang yang ikut mengurus dan bekerja di tur ini. Kalau kita fucked up, pasti akan memengaruhi mereka," terangnya.


(Foto: Iga Massardi sedang memasang senar dan mengatur pickup gitar sebelum konser/MTV/Shindu)

Ucapan Iga bukan tanpa dasar. Sudah terlalu banyak contoh grup musik yang bubar atau pecah saat menjalani tur. Salah satu kisah perpecahan grup musik saat tur yang paling dramatis adalah hengkangnya Zayn Malik dari One Direction pada tahun lalu.

Bagi grup musik internasional, tur adalah pekerjaan sehari-hari. Mereka bisa tanpa henti menyambangi negara demi negara selama satu tahun penuh. Harus jauh dari keluarga dan orang-orang terkasih, membuat mereka mengalami tekanan mental dan emosi yang cukup besar.


(Foto: Vokalis Asteriska sedang berdandan jelang naik pentas)

Berdasarkan catatan Metrotvnews.com, setidaknya dalam dua tahun terakhir, grup musik di Indonesia mulai sering menggelar tur. Antara lain Radio of Rock Tour yang pernah digelar RURUradio dalam dua tahun ini dengan melibatkan grup musik independen, Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, hingga tur yang digelar grup musik besar, salah satunya Musikimia.

Musikimia saat ini sedang menggelar tur menyambangi 16 kota, yang akan berakhir di Yogyakarta pada 28 Mei mendatang.


(ELG)