Adrian Yunan Merajut Asa

Agustinus Shindu Alpito    •    22 Juni 2017 15:41 WIB
indonesia musik
Adrian Yunan Merajut Asa
Adrian Yunan (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ruang di dalam Paviliun 28 penuh sesak pada sebuah Minggu sore di awal bulan Juni. Seorang lelaki dengan topi flat duduk di bagian depan, bernyanyi sembari bermain gitar. Sebelumnya dia lebih dulu dikenal sebagai bassist dari grup pop-minimalis Efek Rumah Kaca. Tapi sore itu, dia hadir untuk perkara lain.

Dia adalah Adrian Yunan. Sore itu Adrian membagikan kisah lewat lagu yang terangkum dalam album debutnya, Sintas. Sebuah kisah tentang harapan, kenyataan, ketakutan, haru, dan penyakit yang menggerogoti indra penglihatannya. Adrian didiagnosa terserang behcet's disease yang menyerang kesehatan matanya hingga mengalami masalah penglihatan sampai detik ini.

Sore itu, aksi panggung Adrian begitu membius, menghadirkan nuansa kelam yang harmoni. Juga histeria yang sunyi. Sintas seperti sebuah perjalanan bagi Adrian dalam mengarungi segala yang membuatnya hampir menyerah.

"Tadinya gue bikin (lagu-lagu di dalam album ini) buat ERK (Efek Rumah Kaca). Gue dulu enggak pernah berniat membuat album solo. Dengan kondisi fisik gue, kalau sehat untuk ERK. Terus ketika gue istirahat dari ERK, gue banyak waktu luang. Gue merasakan situasi harus mencari pelarian dari kondisi gue waktu itu. Ternyata paling gue rasa bisa menetralkan gue, bikin lagu. Gue enggak pikir untuk apa. Setiap hari bisa menghabiskan beberapa jam untuk main gitar membuat lagu," kata Adrian.

Masalah kesehatan yang dialami membuat mental Adrian ikut tertekan. Selama berbulan-bulan dia bergulat dengan dirinya sendiri tentang apa yang dialami dan bagaimana dia harus menjalani itu semua. Namun harapannya lebih kuat dari sakit yang menyerangnya. Adrian bangkit melawan lewat sesuatu yang dia yakini sebagai jalan keluar apa yang dihadapinya, musik.

"Saat di titik terendah, gue sempat beberapa bulan di tempat tidur doang. Tiba-tiba gue mimpi yang enggak jelas, tetapi setelah bangun gue berpikir gue akan menjadi orang yang kalah atau gue bangkit. Kalau gue memilih kalah gampang banget, tinggal pasrah. Tetapi gue enggak memilih itu. Gue harus mengalihkan pikiran gue jadi sesuatu. Akhirnya gue berpikir ini bisa menjadi hikmah kalau jadi lagu."

Perlahan, Adrian merajut harapan. Dia beranjak dari tempat tidur, memegang gitar, merangkai kata dan nada. Di situlah Adrian menemukan secercah kedamaian dari berbagai persoalan yang dihadapi. Setiap harinya Adrian bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan menulis lagu. Sang istri menjadi tumpuan penglihatan Adrian untuk mewujudkan berbagai gagasan musiknya. Perlahan, istri Adrian belajar mengoperasikan perangkat lunak untuk merekam musik. Sesuatu yang disebut Adrian sebagai perjuangan luar biasa.

"Hampir semua (rekaman) mulai dari bass, gitar, keyboard, vokal, gue bikin di rumah. Dengan alat yang ada. Dibantu istri. Ngulik bareng-bareng. Istri gue terpaksa belajar, tetapi demi membantu gue dia akhirnya belajar software Nuendo untuk merekam. Dia bukan orang musik. Dia jadi belajar double, dia belajar mendengarkan apa yang gue dengar. Mulai dari Fiona Appe, Ian Brown," kisah Adrian.

Adrian sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan istrinya, terlebih momen itu terjadi ketika sang istri baru melahirkan anak pertama mereka. Di sela-sela mengurus anak, istri Adrian juga bertindak sebagai "teknisi rekaman" dadakan. Perasaan Adrian soal istrinya terekam dalam lagu Terminal Laut yang berada di urutan nomor empat dalam album Sintas.

"Dia (istri) benar-benar fight. Ada satu lagu untuk dia, judulnya Terminal Laut, cerita tentang waktu kondisi (mata) gue menurun di tahun 2013. Kami seperti desperate, kami juga belum dikasih anak. Kami waktu itu berpikir pasrah saja deh, kalau enggak punya anak kami jalan-jalan saja, melihat pantai. Terus kami akhirnya kami jalan-jalan, ke (pantai) Ancol, ha-ha-ha. Tapi itu (sudah) membuat dia senang banget," kenang Adrian.

Sang istri yang berada tidak jauh dari area perbincangan kami tampaknya mendengar apa yang dikisahkan Adrian, lantas menyahut dengan canda, "Ke Bali." Suasana menjadi cair, sekaligus haru mengingat bagaimana Adrian dengan segala yang dilewatinya masih memendam harapan yang besar, untuk keluarga dan segala yang terus berhembus di pikirannya. Adrian dan sang istri pernah merangkai mimpi bersama, membayangkan plesir bersama keluarga. Meski tempat-tempat indah yang jauh di sana belum terjamah, keduanya tetap menikmati anugerah kebersamaan meski baru mencapainya di pantai-pantai paling mudah dijangkau. Dengan asa yang terus menyala, rasanya pencapaian cita hanya soal waktu.

Momen kebersamaan Adrian dan sang istri terabadikan dalam lirik, "Beryanyilah tentang tempat yang jauh. Sebelum ombak menelan suaramu." Juga lirik haru, "Sebelum karang menyurutkan niatmu, sebelum pasir mengaburkan pandanganmu."

Personal

"Gue sangat dekat dengan ibu, dan gue enggak bisa membayangkan kalau suatu saat ibu gue lupa sama gue," kata Adrian sebelum membawakan lagu Alzheimer, sore itu.

Apa yang dihadirkan Adrian dalam Sintas adalah sesuatu yang sangat dekat dalam kehidupannya. Kontras bila dibandingkan karya-karya Efek Rumah Kaca yang dikenal menyuarakan jeritan sosial.

"Ada dua hal (soal karya yang personal), pertama menurut gue menarik dibuat diferensiasi antara proyek solo dan ERK. ERK seperti itu dan gue bikin lagu-lagu personal. ERK selama ini secara mengalir terkondisikan (membuat personel berpikir) akan memberi pesan (sosial) apalagi?. Kedua, pada prosesnya album ini banyak dibuat di rumah. dulu gue merasa di rumah tempat istirahat setelah melakukan aktivitas di luar. Ternyata, sewaktu kondisi kesehatan gue memaksa gue harus di rumah, dan ternyata di rumah sangat banyak inspirasi. Dulu gue kurang peka."


Adrian Yunan (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Seperti yang dikatakan Adrian, album Sintas se-personal itu. Lagu Mainan contohnya. Lagu itu lahir karena Adrian tidak sengaja merusak mainan milik anaknya. Namun, sang anak justru berbesar hati memaklumi peristiwa si ayah yang tidak sengaja merusak mainannya. Adrian tersentuh atas kejadian itu. Menurutnya, seharusnya si anak marah. Rasa haru itu dituang Adrian dalam penggalan lirik, "Lihatlah betapa bodohnya aku merusak mainan anakku. Sadarlah dia kumpulkan pecahannya satu per satu."

Sisi personal Adrian juga tampak dari karakter di sampul album. Guratan gambar berbagai ekspresi wajah dipilih Adrian untuk menggambarkan ragam emosi yang dilaluinya dalam keseharian.

"Gambar ini (terinspirasi) perjalanan dari hari ke hari gue, yang menggambarkan kondisi perasaan gue. Gue terbayang logo Srimulat. Terus gue ngobrol sama Poppie Airil, terus Poppie mencari ilustrator."

Adrian mengakui bahwa Sintas memberinya sedikit kelegaan. Di penghujung sesi wawancara, Adrian sejenak dia melayangkan pikiran ke belakang, saat dirinya pertama kali memupuk harapan untuk bangkit dari keterpurukannya. Momen itu dia kenang dalam singel Tak Ada Histeria. Sebuah lagu yang juga mewakili perasaannya ketika album Sintas berhasil dirilis.

"Gue menulis lagu itu (Tak Ada Histeria) ketika mental gue masih nge-drop. Gue berharap cara pandang gue ke depan lebih positif, apa yang gue alami adalah nikmat dari Tuhan. Gue saat ini tetap 'tak ada histeria' Gue merayakannya bukan sebagai sesuatu hal yang maksimal gue lakukan. gue bersyukur merilis album ini dan gue berharap album ini membawa hikmah untuk gue."

"Sintas menggambarkan proses gue dari yang benar-benar pada kondisi terendah sampai gue menemukan titik balik. Gue percaya semua yang gue lewati itu tanda cintanya Tuhan. Pasti ada hikmahnya. bagaimana gue melewati hari demi hari, satu demi satu," kata Adrian.

Tanpa terasa, malam telah menjemput. Histeria kecil di awal Juni itu berangsur pergi. Namun, satu hal yang pasti. Sore itu adalah sejarah bagi Adrian, juga musik Indonesia. Bahwa musik telah menyelamatkan dan Adrian memilih jalan sebagai penyintas, merajut asa.


 


(ELG)

Tanggapan Payung Teduh Soal Perubahan Musikalitas

Tanggapan Payung Teduh Soal Perubahan Musikalitas

1 day Ago

Ada yang bilang, ‘Mas lagu lo jelek banget, asli!’ Gue bilang saja, ‘Makasih,…

BERITA LAINNYA