Kunto Aji Bercerita tentang Album Terbaik 2018, Mantra Mantra

Agustinus Shindu Alpito    •    01 Januari 2019 09:00 WIB
indonesia musik
Kunto Aji Bercerita tentang Album Terbaik 2018, Mantra Mantra
Kunto Aji (Foto: Dok. Kunto Aji)

Kami menempatkan album kedua Kunto Aji, Mantra Mantra, pada posisi pertama daftar tahunan Album Indonesia Terbaik untuk tahun 2018. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, hampir semua media yang merilis daftar album lokal terbaik 2018 seolah "sepakat" untuk posisi pertama, yaitu Mantra Mantra.

Mantra Mantra dirilis pada semester kedua 2018. Materi yang ada pada album itu seperti membayar lunas penantian panjang semua pihak. Track pertama, Sulung, hingga track kesembilan, Bungsu, seperti sebuah kesatuan utuh. Bernas. Aransemen yang dihadirkan pun eksploratif. Kunto benar-benar beranjak dari apa yang dilakukannya pada album debut Generation Y (2015).

Jelang akhir 2018, saya menemui Kunto di sela-sela aktivitas padatnya. Dia secara gamblang menceritakan proses lahirnya Mantra Mantra. Satu hal yang dapat simpulkan dari wawancara itu, Kunto melalui proses panjang untuk sampai pada di titik yang kita dengar sekarang.

Seperti album-album besar lain, kisah-kisah dramatis dan luar biasa mengikuti di belakangnya. Begitu pula yang terjadi pada Mantra Mantra. Berikut hasil percakapan saya dengan Kunto Aji.




Sebelum Mantra Mantra dirilis, Kunto kerap membocorkan konsep album ini terkait dengan kesehatan mental. Tapi, ternyata tidak semua materi dalam album terkait dengan hal itu. Bagaimana sebenarnya Kunto dalam merancang konsep album ini?

Mental health adalah tema besar, tema itu awalnya enggak ingin gue share, karena hanya ada di kepala gue. Ketakutan gue ketika gue bilang mental health, gue takut orang akan menganggap album ini berat banget. 

Setelah dikeluarkan, lagu-lagu di album ini relate dengan tema besarnya. Mungkin karena dibuka dengan Sulung yang memberi afirmasi positif. Gue sempat takut orang bisa tangkap atau enggak. tapi ternyata justru itu kena banget.

Misal kenapa ada lagu Topik Semalam (secara tema terdengar cukup menyimpang dari isu kesehatan mental), karena itu topik yang paling mengganggu dalam hidup gue pas usia 25 tahun, waktu itu ditanya mau nikah enggak, kalau enggak disudahi saja (hubungan dengan pacar saat itu - yang kini menjadi istri Kunto). Gue pacaran sudah lama. Itu sempat membuat gue stres.


Bicara kesehatan mental, apakah Kunto sendiri cukup dekat dengan isu itu?

Cukup dalam arti, gue sendiri punya masalah. Orang terdekat gue juga ada (yang mengalami masalah kesehatan mental). Kami bolak-balik ke psikolog karena ada masalah itu. Sebenarnya gue enggak pengin mengungkapkan, karena intinya bukan masalah itu. Tapi, gue pengin kasih tahu kalau semua orang punya masalah yang tidak diketahui orang lain, yang bisa mengendap. Pikiran kita kompleks. trauma masa kecil atau 20 tahun lalu bisa saja keluar lagi saat ini waktu lo lagi stres. Gila, pikiran manusia serumit itu.

Seperti pikiran untuk bunuh diri itu bahaya, tetapi untuk proses ke situ, ada pra-depresi, depresi, dan masyarakat kita belum aware soal itu. Gue sempat dengar pemerintah pernah membuat hotline untuk konsultasi masalah kesehatan mental, tapi akhirnya ditutup karena tidak banyak yang konsultasi. Orang masih tabu soal kesehatan mental.


Momen apa dalam hidup Kunto yang turut memberi pondasi dalam berkarya, lebih-lebih jika dikaitkan dengan album ini?

Gue ada pengalaman spiritual, gue pernah dekat dengan kematian. Gue mengalami penyumbatan batu empedu, empedunya mengalir semua ke darah, wajah gue kuning. Gue sempat mengalami masa itu, akhirnya jadi pengalaman spiritual yang cukup kental. Itu yang akhirnya mendorong gue membuat album ini.


Hal spiritual apa yang pada akhirnya Kunto yakini dari peristiwa itu?

Gue percaya kekuatan di luar nalar manusia dan gue membuka diri sama pseudo-sains, seperti solffegio frequencies.

Itu titik terendah gue, uang gue habis untuk berobat. uang tabungan yang tadinya untuk bikin album pertama akhirnya habis untuk rumah sakit. Gue nginap di bangsal-bangsal gitu, di rumah sakit negeri di daerah Tangerang. Itu titik nol gue. 

Akhirnya, uang gue hanya cukup untuk bikin singel, Terlalu Lama Sendiri. Itupun rekaman di Jogja, di studio rumahan.


Kunto melakukan lompatan musikal yang cukup besar, dari album Generation Y ke album Mantra Mantra. Apa yang sebenarnya ingin Kunto capai?

Gue enggak ingin keinginan musikal gue pudar. Gue selalu mencari sesuatu yang buat gue menarik, gue selalu punya insting untuk mendobrak sesuatu, menciptakan sesuatu yang baru, bukan cuma musik. 

Gue cukup aneh, contohnya waktu dulu gue SMA jadi ketua OSIS. SMA gue suka tawuran, terus gue pernah bikin proposal untuk melegalkan "tawuran." Poinnya, bukan berarti tawuran boleh, tetapi yang suka berkelahi misal dikumpulkan, yang mau berantem di atas ring saja.

Seperti yang gue temui ketika masuk dunia musik, orang selalu bilang mau ikut pasar atau idealis. Tetapi gue berpikir mengapa tidak dua-duanya, progresif.


Bagaimana proses penciptaan lagu-lagu dalam album Mantra Mantra?

Kalau bikin lagu, ada tiga pilihan. Lirik dulu, notasi dulu atau dua-duanya. Gue memakai ketiga metode itu. Di album ini gue enggak menyentuh gitar akustik sama sekali dalam menulis lagu. 

Gue bikin lagu-lagu di album ini dengan gitar elektrik, gue ingin dapat feel-nya. Arahnya ke situ, gue ngobrol dengan produser-produser. Sharing kira-kira instrumen apa saja yang bisa untuk mewujudkan musik yang gue inginkan di album ini.


Beredar cerita bahwa album ini dirilis mundur dari target. Apa yang membuat Kunto memakan waktu lama dalam mengerjakannya?

Banyak, sih. Akhirnya gue membuka diri, album ini kompleks banget, gue mengajak produser itu upaya untuk membuka diri gue. Gue sebenarnya orang yang sangat tertutup. Apalagi sama karya, gue menjaga banget.

Kompleks banget yang terjadi. Gue terlalu overthink, itu yang membuat lama.  Tadinya malah mau melibatkan sembilan produser, satu lagu satu produser. Tetapi deadline tidak memungkinkan.

Workshop untuk satu lagu bisa satu atau dua bulan, gue sempat enggak enak dengan produser karena gue membuang waktu mereka banget. Gue berterimakasih mereka sabar untuk mendengarkan gue, yang jelas "bolanya" ada di gue yang menghambat ini jadi lama adalah gue.


Saluran musik YouTube Sound From The Corner pernah merilis video pendapat para musisi berpengaruh terkait musik Indonesia pada hari ini. Salah satu yang mendapat pujian adalah lagu Jakarta Jakarta. Pujian itu bahkan terlontar dari Raja Dangdut Rhoma Irama. Bagaimana rasanya mendapat apresiasi dari Rhoma Irama?

Alhamdullilah, mungkin karena lagu itu diperdengarkan di urutan ke-lima, jadi mereka bilang bagus-bagus saja, ha-ha-ha. Ya senang, karena dia enggak tahu gue kan (jadi terkesan objektif). Itu sebuah kehormatan


Album Mantra Mantra jadi pembuktian bahwa Kunto mampu keluar dari pola penulisan lirik dan gaya bahasa yang tipikal. Seperti lirik "Lidahku yang lancang" pada lagu Konon Katanya. Rasanya gaya penulisan seperti itu sangat berbeda dari lirik-lirik pada album Generation Y. Tidak semua penulis lagu mampu keluar dari "jebakan" pola penulisan lirik yang seragam. Bagaimana cara Kunto melakukannya?

Jadi sebenernya album pertama itu lebih luas. Album pertama itu gue bikin untuk semua segmen. Album pertama ada tujuannya. Setiap lagu itu ada percobaan segmen. Misal lagu Ekspektasi itu buat segmen tertentu. 

Terus tiba-tiba gue rilis Mercusuar yang menurut gue itu cukup poetic lirknya dan gue merasa lumayan bisa nulis lagu poetic. Mercusuar sebenarnya tidak berada pada "kolam" lagu-lagu di album Generation Y. Cara penulisan gue itu sudah terbagi di album pertama sebenarnya dan ketika di album kedua, mungkin turunannya lebih dekat ke Mercusuar ini tadi.

Sebagai penulis gue tidak pernah terpatok untuk menulis seperti ini-itu. Gue berbicara sama lagunya. Kayak mau ditulis bagimana, mau diterjemahkan seperti apa?


Kunto bergabung dengan label Juni Records dan kemudian bekerjasama untuk merilis album kedua ini. Apakah bergabung dengan label musik masih relevan untuk karier Kunto?

Gue malah justru pengin menyekolahkan ilmu gue. Menyekolahkan tim gue untuk itu. Daripada gue gegabah untuk bikin PT atau gegabah bikin ini-itu, jadi gue belajar dulu. 

Toh kontrak gue satu album sama mereka. Awalnya gue enggak ada kebutuhan untuk label. Bisa jalan sendiri, cuma gue jadi penasaran dengan tawarannya Boim (Ardyanto Pratono, CEO Juni Records). Jadi kami setara, bukan lo under gue, gue under lo. Gue pengin belajar. Akhirnya dari yang gue enggak ada kebutuhan (bergabung dengan label) sama sekali, jadi 'Ya sudah yuk jalan.' 

Selain itu gue juga pengin memperlebar kaki-kaki bisnis tim gue dulu sih. Karena gue merasa belum cukup mampu. Kita sama-sama "babat hutan" bareng-bareng.


Kunto tampak konsisten menulis lagu berbahasa Indonesia. Apakah itu murni bagian dari proses kreatif atau strategi pasar?

Sebenarnya yang pertama gue belum cukup percaya diri tulis bahasa Inggris. Bahasa Indonesia sendiri itu susah. Tulis lagu bahasa Indonesia kalo poetic takut terlalu poetic, kalo enggak poetic takut terlalu jadi kacangan. Tantangan itu saja gue belum kelar.

Tapi, suatu saat gue pengin banget sih tulis pakai bahasa Inggris. 





Di luar sana, banyak sekali musisi muda yang berjuang untuk membuktikan karya mereka atau berusaha menembus industri. Bisa diceritakan bagaimana perjuangan Kunto menaklukkan industri?

Lucunya gue selalu dikasih kehidupan yang naik-turun drastis. Oke, gue masuk Indonesian Idol pada saat itu, masuk TV. Dan gue enggak menang. Gue turun (secara karier). Akhirnya gue muncul dengan Terlalu Lama Sendiri. Gue berjuang, gue struggled dengan yang namanya one hit wonder, itu susah sekali. 

Bahkan gue harus mengalahkan lagu gue sendiri. Akhirnya gue mikir, gue ngapain ya ngalahin singel sendiri (untuk membuktikan bukan penyanyi one hit wonder). Walaupun itu tidak secara langsung, ya gue berusaha untuk ngalahin. Sampai akhirnya gue jadi manusia yang lebih dewasa di situ, untuk ‘Ya sudah bikin karya bagus saja satu album’ dan itu target pencapaian lagi. 

Gue belum pernah merasakan orang mendegarkan satu album gue secara utuh, enggak cuma 1 lagu saja. Itu impian gue banget. Gue ingin orang mengenal gue utuh dan yang bikin terharunya adalah album ini yang gue pengenin dari dulu yang belum tercapai. Baru tercapai sekarang, ketika gue pengin membuat sesuatu yang di atas skill gue. Sesuatu yang gue pikirkan dengan matang.

Dulu sempat sakit (batu empedu) itu, enggak ada uang, dan lain-lain. Gue sempat coba nge-MC, main film. tapi dalam rangka ngumpulin pundi-pundi gue untuk di musik. Saat gue sakit itu, uang gue habis. Gue juga pasrah. Kalau emang "dipanggil" ya terserah Tuhan. Enggak sembuh juga enggak apa-apa. Toh, gue sudah enggak punya apa-apa juga. Cuma ada cewek gue yang nungguin mau nikah apa enggak. Ya, akhirnya gue dikasih jalan. Oh, ya hidup itu ya memang kayak gitu dan itu jadi bagaimana gue menulis lagu. Gue nulis lagu juga naik-turun. 


Bisa dijelaskan soal proses dari "tidak punya apa-apa" itu sampai akhirnya mulai punya harapan lagi untuk terus berkarya?

Jadi, gue tanda tangan singel Terlalu Lama Sendiri untuk (rilis via) iTunes itu di rumah sakit. Maksud gue, ya elah cuma singel. Dan bagaimana mau promo, orang gue terbaring di rumah sakit. Enggak ada harapan apa-apa. Gue tahu lagu ini bisa sukses, lagu ini kuat, tapi gue kan enggak tahu lagu ini kuat sejauh apa? 


Apa yang membuat Terlalu Lama Sendiri akhirnya "pecah" dan menyelamatkan karier Kunto saat itu?

Yang bikin pecah pertama sosial media. Waktu itu gue punya duit berapa sih untuk promosi? Cuma satu per seratus duit promo label mungkin. Gue waktu itu enggak ada label. Gue benar-benar minta tolong satu orang music director radio. Gue kasih lagu itu ke dia. Dengan eksistensi gue yang enggak seberapa saat itu, yang penting gue bisa manggung-manggung dan ngumpulin duit buat album. 

Dan gue diberi keberuntungan dimana percepatannya lumayan, dalam 9 bulan lagu gue ada di semua acara TV, berada di peak. Acara TV apapun ada gue waktu itu dan image-nya gue juga dapat. Itu hal yang lucu juga. Gue dulu itu sempat down, sempet marah, orang-orang dulu sudah lupa gue pernah di Indonesian Idol.

Ternyata malah justru itu (skenario alam semesta) biar orang lupa dulu dengan image "idol" gue, kemudian baru gue muncul lagi dengan image yang baru. Kayak reborn. Gue kayak sudah dikasih jalan gitu lho. Walaupun gue enggak menang, tapi gue juga enggak menjual cerita kesedihan gitu (waktu di Indonesian Idol). 


Siapa musisi Indonesia paling Kunto kagumi?

Almarhum Chrisye. Secara attitude dari luar juga bagus banget. Orangnya juga kalem. Enggak pernah ada gosip-gosip miring. Fokusnya di musik. Bikin karya bagus-bagus, bikin band juga keren.


Apakah Kunto tipikal musisi yang percaya substansi terlarang punya pengaruh besar dalam proses kreatif?

Gue enggak menggunakan itu sama sekali - drugs dan lain-lain. Yang jelas dalam mencapai titik trance, gue enggak harus kayak gitu. 

Banyak teman-teman gue yang bilang, ‘lo enggak mabuk aja gini, gimana lo mabuk.’ Karena mungkin gue orangnya cukup ekspresif. Gue ambivert, saat ketemu orang ya gue ketemu. Tapi kalau lagi enggak pengin ketemu orang ya gue enggak ketemu orang. 

Mungkin titik trance gue tipis banget ya, jadi gue cuma butuh konsentrasi. Kalau orang-orang meditasi, ya gue sholat dan mungkin gue fokus. Itu saja sih.


Eksplorasi Kunto pada pseudo-sains di album ini apakah memberi pengalaman-pengalaman unik? 

Sebenarnya ada pengalaman yang cukup klenik yang dialami oleh produser-produser gue. Yangg pertama mengalami itu si Petra Sihombing.  Hasil rekaman gue yang dia simpan diacak-acak. Track-nya diacak-acak. Terus tiba-tiba ada bunyi-bunyi aneh di situ.

Pas gue cerita ke produser lain, ada yang enggak percaya dan dia juga mengalami hal sama malamnya. Dia malamnya kayak melihat orang seliweran, dia enggak pernah alami itu sebelumnya. Terus tiba-tiba ada tambahan suara snare gitu di track rekaman. Sayangnya langsung dihapus. 

Gue berdekatan dengan hal seperti itu. keluarga besar gue ada yang kejawen. Terus istri gue juga bisa lihat. Cukup sensitif.


Menurut Kunto mengapa hal-hal di luar logika itu terjadi dalam proses pembuatan Mantra Mantra?

Mungkin karena solffegio frequencies itu. Memang tidak di semua lagu, seperti Konon Katanya jelas enggak (solffegio frequencies) dan emang akhirnya album ini jadi utuh banget. Sangat hidup. Bernyawa. Orang dengar juga dari awal sampe akhir, dari Sulung sampai Bungsu. Album ini beyond expectation. secara berkaya gue puas banget. 

 


(ASA)