Tapak Perak Powerslaves

Elang Riki Yanuar    •    10 Januari 2017 08:00 WIB
indonesia musik
Tapak Perak Powerslaves
Powerslaves (Foto: Dok. Manajemen Powerslaves)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernah menyisakan satu personel tidak membuat Powerslaves menyerah. Mereka masih tegak berdiri hingga kini. 

Tahun 2016 menjadi momen spesial bagi Powerslaves. Band asal Semarang ini merayakan ulang tahun ke-25. 
Sebagai penanda usia perak mereka, Powerslaves akan merilis album terbaru pada April 2017 . 

Powerslaves sudah merampungkan proses rekaman untuk album teranyar mereka.  Di tengah proses itu, band yang berdiri sejak 1991 ini merilis singel Sudah Jangan. 

"Album ini menjadi penting karena sebagai perayaan 25 tahun berdiri. Bisa kita katakan proses dewasanya Powerslaves dalam bermusik, dalam penulisan lirik. Kita semakin matang," kata Anwar saat berbincang dengan Metrotvnews.com, di Jakarta. 

Singel Sudah Jangan mendapat respons positif dari para Slaver, sebutan untuk penggemar Powerslaves. Lagu yang diciptakan Heydi ini memang mengambil tema dan musik yang cukup 'ramah dengan pasar.'

"Tapi albumnya nanti akan ada berbagai macam jenis musik, tapi basic-nya tetap musik rock ala Power Slaves. Ada ballad, liriknya juga ada bahasa Inggris, ada modern rock-nya seperti Nikki Sixx atau rock progresif," ujar Anwar. 



Album terbaru Powerslaves nanti juga menjadi spesial dengan kehadiran Andry, gitaris mereka yang sempat hengkang. Setelah hengkang dari Powerslaves dulu, Andry tergabung ke sejumlah band seperti Boomerang, Mahadewa dan yang proyek lainnya. Kini, Andry kembali ke 'rumah lamanya.'

"Tadinya saya mau bikin singel karena sudah biasa kerja rekaman sama dia. Saya hubungi dia minta bantuan. Terus dia ngomong, dia jenuh di luar, merasa tidak 'ketemu.' Terus ya sudah akhirnya balik lagi," ungkap Anwar menjelaskan proses awal kembalinya Andry. 

"Sebelum ada Andry kita sudah ada additional, tapi dengan kehadiran Andry mereka tidak keluar. Jadinya konsepnya gitarisnya bertiga kalau manggung. Andre di luar pun, sempat beberapa proyek bareng. Memang dia klop sama Powerslaves," lanjutnya. 

Formasi Powerslaves kini terdiri dari Heydi Ibrahim, Anwar Fatahillah, Wiwiex Soedarno, Andry Muhammad, dan Agung Yudha. Nama terakhir merupakan personel paling muda yang bergabung di Powerslaves. 


Powerslaves (Foto: Dok. Manajemen Powerslaves)

Formasi reuni inilah yang akan menyuguhkan materi terbaru bagi para Slavers. Layaknya sebuah persembahan spesial, Powerslaves menyiapkan materi yang juga istimewa. Selain mencoba memperkaya musik, mereka hendak mengajak sejumlah kolaborator di album kedelapan ini. 

"Kita ingin buat hal baru. Kita akan ada kolaborasi penyanyi rock sekarang seperti Barry Saint Loco atau yang lain. Ada penyanyi blues keren, nanti mau ajak dia. Albumnya lebih kaya. Makanya proses dewasa Powerslaves juga. Mau ajak musisi jenis musik lainnya. Nanti albumnya ada nuansa orkestra juga," urai Anwar. 


Hampir Menyerah

Tahun 2003 hingga 2004 adalah masa-masa tersulit yang dialami Anwar bersama Powerslaves. Andry memutuskan keluar yang kemudian disusul oleh Heydi. Sementara, Powerslaves sudah menandatangani kontrak untuk merekam album baru. Sendirian, Anwar lalu mencari personel lain. 

Njet, vokalis Flower masuk menggantikan Heydi. Di masa-masa terpuruk, Powerslaves mampu merilis album Gak Bisa Mati. Sayang, album ini tidak menggema. Musibah tsunami yang melanda Aceh semakin menenggelamkan Powerslaves yang baru saja merilis album.

"Momen terberat itu di album kelima. Saat itu Andry berhenti dari Powerslaves. Itu imbasnya ke yang lain bikin down. Akhirnya Heydi juga memutuskan keluar, tidak mau main musik lagi. Padahal masih ada kontrak album sama BMG. Akhirnya bikin tim baru, vokalis baru, gitaris baru. Itu masa terberat," kenang Anwar. 

"Albumnya keluar, tsunami Aceh pecah. Otomatis semua job dan promo tenggelam sama berita itu. Padahal materi album bagus juga. Kita bikin lebih ke hard rock, memang sengaja buat berbeda dari Powerslaves sebelumnya. Tapi Tuhan berkehendak lain," lanjutnya. 

Ditinggal para pendirinya ternyata berimbas juga pada 'daya tarik' Powerslaves. Jadwal manggung Powerslaves sepi karena orang lebih suka Powerslaves formasi lama. 

Anwar mengaku hampir menyerah. Dia hendak meninggalkan dunia musik yang sudah puluhan tahun dia jalani. Agung Gimbal, drumer yang sering membantu Powerslaves menghadang niat Anwar. Dia tak rela, langkah Powerslaves harus terhenti. 

"Godaannya juga banyak. Njet sama gitarisnya waktu itu juga ada masalah pribadi. Bayangin saja, kita harus mikir materi lagu, musik, sama mikirin hal-hal lain. Saking beratnya masalah yang harus dijalani, mau coba profesi lain saja. Saya sempat mau menyerah. Agung Yudha datang, dia melarang. Sayang kata dia. Ayo terus. Dia yang kasih semangat," ucapnya. 


Powerslaves (Foto: Dok. Manajemen Powerslaves)

Anwar sepakat dengan bujukan Agung. Dia mulai merakit lagi band yang dia dirikan dari kekuatan yang tersisa. Harapan itu mulai datang ketika Heydi memutuskan kembali ke Powerslaves pada 2008. Jangan Kau Mati menandakan kembalinya Heydi. 

"Alhamdulillah sudah lewat semua. Sekarang tinggal menikmati kebersamaan. Powerslaves sebagai bagian dari darah hidup saya sudah lebih dari sekadar band. Sudah seperti keluarga, tempat belajar juga. Sudah seperti keluarga," katanya. 

"Kita juga tidak pernah ada konflik saat personel keluar. Walau Andry dan Heidy tidak gabung lagi dulu, hubungannya baik-baik saja. Masalah personal juga tidak ada. Mungkin kebetulan ada masalah internal di hidup mereka. Kita sudah sama-sama dewasa," terangnya. 

Impian yang Belum Tercapai

Powerslaves tak mau berpuas diri meski sudah terbilang band rock senior di Indonesia. Banyak hal yang belum tercapai dan masih ingin mereka wujudkan. 

"Kita pengin buat konser di Jawa Tengah atau di daerah lain pas ulang tahun. Pengin juga buat buku perjalanan dari nol. Ingin main dengan orkestra, baik dalam konser atau album," urai Anwar. 

Band yang terkenal dengan lagu seperti Impian, Malam Ini tersebut ingin bertahan selama mungkin di dunia musik. Aerosmith, The Rolling Stones hingga God Bless menjadi acuan dan panutan mereka. 


Powerslaves (Foto: Dok. Manajemen Powerslaves)

"Kita ingin bermusik sampai tidak bisa bermusik. Aerosmith itu, lebih keren sekarang daripada dulu dari segi sound, vokal, musiknya juga lebih matang. Atau kalau di Indonesia seperti God Bless," katanya. 

Salah satu cara agar mampu bertahan adalah tetap menyesuaikan zaman tanpa harus kehilangan identitas diri. Dari segi musik, Powerslaves terus memperkaya referensi, termasuk band-band yang lebih muda dari mereka.  

"Kalau aku mendengarkan SUM 41, Blink 182, Avenged Sevenfold, band-band baru juga masih mengikuti. Tapi kalau Heidy mungkin tidak begitu mengikuti," ujar Anwar tertawa. 

Mereka juga mengadaptasi promosi di media sosial yang lebih banyak dipakai band-band era sekarang. Di media sosial pula mereka mempublikasikan segala aktivitasnya dan berinteraksi dengan penggemar. Lewat cara itu, Anwar yakin Powerslaves bisa bertahan hingga usia emas atau 50 tahun, bahkan lebih. 



"Kita sadar, dunia digital makin luas. Makanya kita aktif promosi di media sosial. Powerslaves tidak pernah berantem. Apalagi kalau soal musik, hampir tidak ada. Dari awal sudah saling percaya. Komunitas Slaver juga yang mendorong kita jalan terus," tutup Anwar. 

 


(ELG)

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

Sempat Terlilit Utang, Souljah Kini Menuju Dua Dasawarsa

2 weeks Ago

Memulai langkah dengan 'nekat', Souljah kini menjadi salah satu band reggae cukup diseg…

BERITA LAINNYA