Mengenal Sisi Musikalitas Jenderal Hoegeng

Agustinus Shindu Alpito    •    10 Maret 2017 15:01 WIB
indonesia musik
Mengenal Sisi Musikalitas Jenderal Hoegeng
Hoegeng semasa hidup (Foto: Dok. MI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Imam Santoso merupakan sosok legendaris dalam sejarah Indonesia. Pria yang menjabat sebagai Kapolri pada 1968-1971 itu dikenal sebagai sosok yang jujur, tegas, bersahaja, dan anti-korupsi.

Namun siapa sangka bahwa sang jenderal adalah penggemar berat musik. Pak Hoegeng, bukan hanya berjasa terhadap institusi Kepolisian di negeri ini, tetapi juga berkontribusi  terhadap dunia musik.

Sejak duduk di bangku MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwiijs) - setingkat SMP - Hoegeng muda sudah aktif bermusik. Kala itu, dia memiliki grup musik Hawaiian bernama Herrie Trappers yang jika diterjemahkan berarti “Tukang Recok.” Grup yang digawangi oleh Hoegeng muda itu sesekali tampil di Societet Delectatio di Pekalongan, Jawa Tengah.

Bakat dan kecintaan musik Hoegeng terus berlanjut. Ketika Hoegeng studi di Yogyakarta, dia juga membentuk grup musik dan sempat bermain di Societet, yang tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Pada waktu itu, dia mendapat honor 25 gulden.

Nama Pak Hoegeng semakin kesohor saat membentuk grup The Hawaiian Seniors. Grup itu dia jalani sekaligus berkarier di Kepolisian. Kecintaan pada musik dan seni membawa Pak Hoegeng pada pengalaman-pengalaman tak terduga dalam hidupnya.


Hoegeng semasa hidup (Foto: Dok. MI)

Pada suatu masa, Pak Hoegeng aktif menjadi pengisi suara sandiwara radio di Radio ALDO (Angkatan Laut, Darat, dan Oedara), yang berpusat di Yogyakarta. Dari keaktifan itu, Pak Hoegeng bertemu cinta sejatinya, Ibu Merry Roeslani, yang kala itu juga menjadi penyiar radio.

Keduanya berpasangan dalam memerankan sandiwara radio Saidjah dan Adinda. Hubungan mereka berlanjut, dan berujung di pelaminan, pada 31 Oktober 1946.

"Hobi suami saya dan saya cocok sekali, kami mencintai musik. lukis. Dan kami berdua ke arah sana,” ungkap Ibu Merry soal bagaimana kisah cinta tumbuh di antara dirinya dan Pak Hoegeng.


Ibu Merry dan anaknya (Foto: Dok. MI)

Perjalanan musik Pak Hoegeng dibahas dalam sebuah diskusi yang digelar Kata Pahlawan, sebuah gerakan wujud kolaborasi Musik Bagus Day, Demokreatif, Irama Nusantara, Yayasan Musik Indonesia, dan Yamaha Musik Pacific Place.  Kata Pahlawan fokus pada narasi sejarah para perintis Republik Indonesia.

Diskusi mengenai sosok Pak Hoegeng digelar dalam acara Kata Pahlawan yang menjadi bagian dari festival musik bulanan, Musik Bagus Day, di Cilandak Town Square, Kamis (9/3/2017). Dalam diskusi itu, hadir pula Ibu Merry, Glenn Fredly, peneliti musik David Tarigan, hingga Bob Tutupoly.

"Beliau dikenal media internasional sebagai The Singing General. Hobi beliau saat masih aktif jadi Kapolri, di luar tugasnya punya band namanya The Hawaiian Seniors. Beliau sempat punya acara di TVRI, The Hawaiian Seniors, acara itu bertahan satu dekade. Beliau asdalah pelopor berkembangnya musik Hawaian di Indonesia,” kata Glenn menjelaskan sosok Pak Hoegeng.

Dalam diskusi itu, Glenn juga menuturkan bahwa acara musik yang digagas Pak Hoegeng kala itu sangat populer, hingga "terpaksa" dihentikan oleh rezim Orde Baru.


(Ilustrasi Pak Hoegeng oleh Demokreatif)

Dalam narasi teks yang dirilis Kata Pahlawan, acara The Hawaiian Seniors dianggap tidak mencerminkan musik asli Indonesia. Sebuah alasan yang terdengar "dibuat-buat." Pak Hoegeng sempat bertanya bagaimana dengan musik pop atau dangdut yang juga bukan berasal dari Indonesia. Namun dirinya tidak pernah mendapat jawaban yang jelas.

"Dikira kalau saya nongol dan menyanyi di televisi, saya bisa mempengaruhi orang-orang, sering heran kok sampai sekarang saya masih hidup. Buat saya, ini larangan yang menggelikan," kata Pak Hoegeng, seperti tertulis dalam narasi singkat soal sosok Pak Hoegeng yang dirilis Kata Pahlawan.

Lewat TVRI, Pak Hoegeng menyebarluaskan musik Hawaiian, yang disebutnya sebagai musik Irama Lautan Teduh. Beberapa pihak menganggap, sebenarnya musik Hawaiian merupakan musik asli Maluku. Namun sayangnya, belum ada penelitian valid tentang pernyataan itu.

"Hawaiian ini bisa dibilang sangat dekat dengan orang-orang di wilayah Timur Indonesia. Musik ini disebut Hoegeng sebagai Irama Lautan Teduh. Secara geografi dan kultural sangat dekat dengan Indonesia bagian Timur terutama Maluku. Malah jadi budaya di sana," lanjut Glenn.

Bing Leiwakabessy, musisi Hawaiian sekaligus maestro gitar steel mengatakan bahwa musik Hawaiian jika diruntut, justru berakar dari Maluku. Hal ini membuktikan bahwa terdapat sejarah musik yang kuat di tanah Maluku.

"Musik Hawaiian itu berasal dari Maluku, itu musik dari Maluku. Waktu dulu, zaman orang Eropa mencari cengkeh dan pala (rempah-rempah), orang Eropa datang ke Ambon. Orang-orang Ambon lihat orang Eropa bermain musik, tetapi tidak mengikuti (jenis musik dan cara orang Eropa bermain musik), tetapi kami bikin instrumen musik sendiri, dari bambu dengan senar dari pohon aren," kata Bing yang sudah menginjak usia 94 tahun.


Bing Leiwakabessy (Foto: Antara)

Franki Raden, akademisi yang menempuh gelar doktor bidang etnomusikologi di University of Wisconsin, Amerika Serikat, turut hadir dalam diskusi itu. Dia memberi pendapat bahwa bukan tidak mungkin jika asal musik Hawaiian berakar dari kultur Maluku. Namun, dibutuhkan penelitian serius terkait klaim itu. Franki juga menyayangkan mimimnya penelitian musik di Indonesia, sehingga membuat fakta-fakta seputar sejarah musik bias dan tak terawat.

Lebih lanjut, Glenn Fredly mengungkapkan bahwa terdapat rencana untuk membangun Hoegeng Culture Center di kota Ambon, untuk mengobservasi dan merawat musik Hawaiian yang dulu sempat populer di kalangan musisi Ambon.

Pendirian Hoegeng Culture Center di kota Ambon sejalan dengan jargon kota Ambon, “City of Music.” Diharapkan dalam empat tahun ke depan, UNESCO dapat mengakui jargon itu lewat sebuah keputusan resmi.

“‘City of Music’ di Ambon hanya sebagai episentrum. Bukan berarti hanya milik Ambon, tetapi itu simbol tentang Indonesia hari ini. Ambon sebagai episentrum di Timur. Saya membayangkan musisi-musisi melakukan aktivitas bermusik di kota Ambon. Buat generasi hari ini maupun ke depan,” kata Glenn.

Dalam kelanjutannya, langkah Pak Hoegeng tidak berhenti pada The Hawaiian Seniors, dia sempat mendirikan Yayasan Musik Indonesia, sebuah wadah yang turut melahirkan bintang-bintang di dunia musik era 1980-an.

Pak Hoegeng tutup usia pada 14 Juli 2004, di usia 82 tahun. The Singing General itu telah membuka satu khazanah musik yang akan lebih terhormat bila kita rawat bersama.

 


(ELG)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

3 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA