Musik Unggul, Teknologi Streaming Maju, Tapi Infrastruktur Internet Buruk!

Purba Wirastama    •    26 April 2018 13:32 WIB
indonesia musikmusik indonesia
Musik Unggul, Teknologi Streaming Maju, Tapi Infrastruktur Internet Buruk!
Ilustrasi streaming musik (Foto: Shutterstock)

Saat budaya rilisan fisik sampai ujung senja, kita melewati beberapa era musik internet seperti Winamp dan "Stafaband", MySpace, iTunes, YouTube, 4Shared, 8Tracks, SoundCloud, radio streaming, serta penyedia musik lain baik legal dan ilegal. Kini sejumlah platform baru seperti Spotify, Joox, Deezer, dan Langit Musik telah berkembang dan kita masuk era baru yang tampak menjanjikan karena musik legal menjadi jauh lebih mudah diakses.

Tak hanya pendengar musik yang untung atas kemajuan ini, tetapi juga para musisi karena lingkup sasaran distribusi lebih besar. Apalagi bagi yang merintis karier musik mandiri tanpa dukungan label besar. Namun saluran baru ini sulit maksimal jika infrastruktur internet kita belum bisa menyediakan kecepatan akses merata, yang rata-rata juga jauh di bawah sejumlah negara Asia.

Masalah ini dikeluhkan salah satunya oleh Wendi Putranto, pengamat musik dan manajer grup Seringai. Menurut Wendi, karya musik Indonesia sebetulnya sudah termasuk unggul di kawasan Asia Tenggara. Namun kelemahan akses internet menjadi hambatan dalam distribusi musik yang lebih luas. Padahal, karya musik dari musisi Indonesia cukup unggul jika bersaing di tingkat regional.

"Kualitas musisi Indonesia itu hanya selevel di bawah Jepang. Dari segi kualitas, talenta, penulisan lagu, penampilan, penciptaan, band-band Indonesia jauh lebih unggul dari negara serumpun di sekitar kita. Itu sudah terbukti. Kita boleh berbangga negara kita tidak hanya menjadi pasar yang besar, tetapi juga punya karya besar," kata Wendi dalam diskusi tentang distribusi musik grup independen di Yesterday Backyard, Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Rabu, 25 April 2018.

"Kita masih agak tertinggal di masalah platform digital karena masalah dengan koneksi internet di sini yang masih selambat keong. Kalau dibanding negara sekitar, ya kita lumayan tertinggal. Namun dari sisi kreativitas, talenta musik, dan performa, kita unggul," lanjut Wendi.

Seringai termasuk grup musik yang baru saja menikmati kembali keuntungan distribusi digital via internet. Setelah lima tahun absen dari layanan streaming karena masalah dengan pihak agregator (pengepul karya musik untuk dikirim ke sejumlah layanan streaming), mereka memasukkan kembali rekaman mereka ke Joox dan akan menyusulkan ke penyedia lain setelah kontrak eksklusif selesai. Pemuatan katalog ini juga dalam rangka menyambut perilisan album terbaru pada pertengahan 2018.

"(Streaming) menolong banget ya. Gue merasakan jaman dulu kami susah payah mendistribusikan materi dari kami. Sekarang dengan mudahnya terdistribusi," kata Edy Khemod, drummer Seringai, saat ditemui di kesempatan yang sama.

Menurut Khemod, layanan streaming baru terasa sangat populer dalam tiga tahun terakhir. Namun hal itu punya pengaruh besar terhadap budaya orang mendengarkan musik. Dia merasa generasi yang masih aktif menyimak media massa bisa beradaptasi dengan cepat. Tidak sedikit penggemar yang menanyakan ketersedian musik Seringai di katalog streaming.

"Dulu gue enggak kepikiran masuk Spotify karena kami old school yang terbiasa merilis fisik. Namun ya memang (pilihannya) death or die," ungkap Khemod, yang aktif bersama Seringai dalam kancah musik cadas sejak 2002.

"Kami generasi menolak tua," lanjutnya tertawa, "ternyata enggak bisa ya (hanya rilisan fisik). Generasi sekarang memang cepat banget adaptasi. Perubahan pola mendengar, semuanya sudah di streaming. Dua hingga tiga tahun terakhir kami rasakan."


Menimbang Untung Rugi

Wendi berpendapat pada umumnya, tujuan utama bermusik adalah menyebarluaskan karya musik seluas-luasnya sehingga karya bisa didengar dan dinikmati. Ini mengapa dia tidak sepakat dengan prinsip teguh, bahwa menikmati musik paling keren tetaplah lewat fisik. Menurutnya, musisi tak seharusnya mempersulit penggemar dan pendengar untuk menikmati karya mereka.

"Memang ada aktivitas baru yang sedang naik daun, namanya digging vinyl, tapi coba kasih opsi juga untuk penggemar kalian, untuk lebih mudah mengakses musik kalian, yaitu lakukan digitalisasi terhadap CD, vinyl, dan kaset yang memang pernah dirilis oleh band kalian pada era lampau. Kadang-kadang band ini malas. Banyak yang menganggap, 'Sudahlah, musik paling cool adalah kalau lo denger (dengan) vinyl'," tutur Wendi.

"Jangan persulit orang yang ingin mendengar karya itu dengan hal yang sebenarnya simpel," imbuhnya.



Ilustrasi aktivitas digging vinyl (Foto: Shutterstock)

Namun apakah sistem sewa berlangganan dari layanan streaming mampu memberi pemasukan komersial sebesar saat rilisan fisik berjaya? Ini adalah pertanyaan mendasar yang sudah menjadi bahasan penting dalam beberapa tahun terakhir, terutama di lingkup internasional.

Distribusi musik digital secara umum bisa dibagi menjadi dua sistem, yaitu sewa atau unduhan. Layanan streaming yang kita bicarakan, termasuk Langit Musik, adalah sistem sewa. Sistem unduhan disediakan oleh platform yang lebih tua, misalnya Apple iTunes dan Amazon. Belakangan Apple dan Amazon juga membuka opsi streaming.

Taylor Swift dan Radiohead pernah menarik musik mereka dari katalog Spotify karena merasa layanan ini tidak memberikan apresiasi layak bagi para artis. Pertama soal pemasukan komersial yang terlalu kecil dan kedua soal skema pengguna gratisan yang tetap bisa mendengarkan musik. Dalam perjalanan, mereka bergabung kembali kendati Thom Yorke misalnya, tetap tidak suka dengan sistem bagi hasil tersebut.

Dalam sistem bagi hasil untuk streaming, bagian untuk artis dihitung lewat satuan pay per stream (pps) atau setiap lagu diputar. Menurut data The Trichordist awal 2018, dilansir dari Digital Music News, nilai paling besar untuk musisi AS datang dari Xbox Music (sudah tutup) yaitu USD0,0273 per stream. Napster berada di tempat kedua dan disusul Tidal, Apple Music dengan USD0,00783, Amazon dengan USD0,0074, Deezer dengan USD0,00624, Google Play Music dengan USD0,00611, dan Spotify dengan USD0,00397.

Setelah itu, mengekor di bawahnya 22 layanan streaming lain termasuk Pandora dan YouTube. Data untuk Joox tidak tercatat dalam daftar 30 layanan ini karena tidak masuk ke pasar AS. Namun menurut Girindra Prabowo Okky, GM Content Department untuk Tecent Indonesia (pemilik Joox), platform mereka tidak hanya menawarkan sistem pps, tetapi juga flat fee atau biaya tetap khusus bagi musisi independen dalam program tertentu.

"Untuk royalti, khusus skema yang kami tawarkan ke teman-teman indie kali ini bersifat flat fee. Mereka mendapatkan sesuatu dari kami dan kami mendapatkan produk dari teman-teman. Nanti ada diskusi mau berapa, mau gimana," ucap Okky tanpa menyebut kisaran nilainya.

Sistem bagi hasil semacam ini pernah mendapat kritik dari sejumlah kalangan. Salah satunya kalangan yang membuat Resonate.is. Mereka menawarkan sistem royalti stream to own, yaitu gabungan antara streaming dan unduhan tetapi tanpa biaya langganan. Jika pengguna hanya memutar lagu satu hingga sembilan kali, mereka hanya akan membayar sepersekian dolar. Jika lagu sudah diputar hingga sembilan kali, pengguna bisa mengunduh lagu secara legal. Sistem ini memberi lebih banyak royalti bagi artis, tetapi sayangnya platform Resonate masih sepi sejak dimulai pada 2015.

Sistem pps jelas memberi keuntungan bagi musisi dengan karya-karya populer yang diputar puluhan juta kali. Apalagi jika artis favorit dipromosikan ulang oleh platform. Ada pula cara mendongkrak angka putar dengan agak curang, yaitu lewat para kurator yang menjadi joki playlist populer.

Sebagai gambaran untuk Spotify, jika ada satu lagu diputar hingga 100 ribu kali, musisinya akan mendapat bagian USD397 atau Rp5,5 juta. Jika sejuta kali, tinggal dikalikan 10. Standar nilai ini memang lebih kecil dari lainnya, tetapi market share Spotify paling besar hingga mencapai setengah populasi.

Khemod Seringai mengaku bahwa sejak awal mereka tidak mencari keuntungan komersial dari penjualan lagu atau album rekaman. Karena itu, distribusi digital via streaming tidak dijadikan pos pemasukan utama, tetapi untuk memenuhi kebutuhan "didengarkan".

"Seringai itu, secara mental, selalu keuntungan itu nomor sekian. Kami enggak pernah perlakukan rilisan menjadi sesuatu benefit (uang), tetapi lebih kayak untuk 'kami bersuara, lu dengarkan'. Kalau enggak, kami enggak akan genre ini. Gue akan (bersenandung) 'la la la hei cantik', dapat duit banyak. Dengan sekarang kami ada di streaming, semakin banyak orang dengar pesan kami, ya semakin bagus," ungkapnya.



Gitaris Ricky Siahaan (kiri) dan vokalis Arian 13 (kanan) (Foto: Shindu Alpito)


Kendati begitu, dia tidak menampik bahwa royalti dari streaming memang terhitung kecil. Namun Khemod menemukan alasan personal untuk berkompromi dengan model bisnis baru ini.

"Masalah nilai (uang) bisa diperdebatkan tetapi masuk akal. Maksudnya gini, mereka juga kasih banyak fitur gratis. Jadi, enggak melulu yang mereka lakukan adalah orientasi komersial (...). Lo bisa streaming gratis karena lo disubsidi biaya promo. Jadi ketika lo (musisi) dapatnya enggak gede-gede amat daripada lo rilis fisik, ya masuk akal. Jadi ya memang gue enggak berburu di sini," ungkapnya.

Namun bukan berarti lapak digital streaming tidak bisa menjadi ladang penghasilan yang besar. Khemod memberi contoh Dipha Barus, yang punya tujuh sampai belasan lagu di saluran streaming dan ratusan ribu pendengar bulanan. Salah satu lagunya, All Good, kini telah menembus angka putar 11 juta.

"Kalau misal materi lo kayak gitu, lo akan dapat keuntungan gede. Namun lo bandingkan, apakah zaman sekarang orang akan membeli singel dalam bentuk fisik sebanyak 10 juta? Kan enggak. Jadi sebenarnya ya pertimbangan menyesuaikan zaman juga. Menurut gue, fair saja sih."

Manfaat non-komersial yang didapat Seringai dari distribusi digital streaming terbukti untuk salah satu lagu mereka yang berjudul Sang Lelaki. Lagu ini digarap bersama vokalis Jill (Step Forward) dan Amira (Madonna of the Rocks). Lagu ini, yang awalnya hanya dirilis dalam piringan hitam, bicara soal kekerasan domestik. Sekarang lagu itu telah dirilis lewat layanan streaming.

"Gue senang banget karena orang jadi bisa dengar lagu yang memang pesannya bagus, tetapi jarang didengar. Nah itu yang gue kerasa banget. Bukan cuma back catalogue, tetapi lagu-lagu yang B-sides, orang juga bisa dengar," tukasnya.


Membangun Ekosistem Digital

Transisi dari budaya media yang tercetak ke digital masih berjalan dan tampaknya tidak akan terelakkan. Bagi industri musik, sistem sewa lewat streaming sejauh ini menjadi primadona yang menjanjikan. Kendati lebih rumit di belakang layar, tetapi mudah dalam penggunaan praktis.

Namun di Indonesia, persoalannya masih sangat mendasar. Mulai dari pendataan dan pengarsipan secara digital (termasuk segala metadata), bajak-membajak, dan stabilitas jaringan internet. Hal ini turut diamini oleh Wendi dan Girindra. Padahal, karya musik dari Indonesia sangat bisa bersaing di kancah internasional. Hal ini dibuktikan lewat sejumlah musisi yang telah mengadakan tur musik di beberapa negara.

Girindra mengaku bahwa kompetitor bisnis mereka sekarang adalah kawan untuk membangun ekosistem.

"Untuk kompetitor, kami anggap semua bentuk distribusi digital itu menciptakan ekosistem penyuka musik yang sehat. Satu-satunya yang kami anggap musuh adalah bajakan, seperti rapidshare atau situs unduhan mana yang besok sudah enggak ada karena diblokir. Musuh kita saat ini juga adalah kekuatan sinyal dan data plan," ujar Girindra.

Bagi Wendi, layanan streaming yang memberi opsi selain kartu kredit akan bisa berkembang lebih besar bagi masyarakat Indonesia sekarang. Apalagi jika ada pilihan "gratis" tetapi dengan iklan.

"Kayaknya ini adalah model bisnis yang coock. Kita tidak membeli musik tetapi kita hanya menyewa dan tidak menggerogoti memori penyimpanan ponsel. Ini benar-benar solusi tepat untuk Indonesia dan yang jelas free meal karena orang Indonesia suka sekali gratis," tukas Wendi.


 


(ASA)