Yon Koeswoyo

Penyanyi Tua, Balada Legenda Pop

Coki Lubis    •    22 September 2016 11:35 WIB
indonesia musik
Penyanyi Tua, Balada Legenda Pop
Yon Koeswoyo. (Foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Rumah berhalaman luas di Jalan Salak, Pamulang, Tangerang Selatan itu sepintas tampak kurang terurus. Namun, hamparan rumput dan rindangnya pepohonan masih mampu hadirkan kenyamanan, sekadar menjadi tempat istirahat dan menciptakan karya-karya indah penghuninya, Yon Koeswoyo, vokalis sekaligus gitaris grup musik legendaris Koes Plus.

Setibanya di rumah tersebut, kami disambut  Ulung Gariyas Koeswoyo alias Gerry, putra sulung Yon. "Baru saja bapak (Yon) tertidur, habis minum obat. Baru kemarin pulang dari Rumah Sakit, masih sangat lemah," ujarnya kepada metrotvnews.com, Jumat (16/2/2016) pagi. Musisi bernama asli Koesyono Koeswoyo ini akan menginjak usia 76 tahun pada 27 September 2016 nanti. Ia baru saja menjalani perawatan di Rumah Sakit Medika BSD, Serpong akibat penyakit jantung yang dideritanya. Ini adalah perawatan yang kedua dalam dua bulan terakhir. "Tak banyak yang mengetahui, sudah empat hari dirawat," kata Gerry.

Tapi, yang memprihatinkan dari kabar ini, biaya perawatan Yon sebagian besar didapat dari keringanan tangan beberapa fans Koes Plus. "Alhamdulillah dibantu. Kami belum sempat mengurus BPJS," kata Gerry.

Baca: Ini Hari Koes Plus Nasional

kenyataan ini menjadi ironi bagi sang penyanyi yang menjadi ikon legenda musik pop Indonesia tersebut. Kondisi tanpa penghasilan dari personil Koes Plus ini tentu berbanding terbalik dengan musisi di era yang sama di luar negeri. Sebut saja Paul McCartney dan Ringo Star dari The Beatles, atau Mick Jagger si pentolan The Rolling Stones. Boleh dibilang, mereka tidak memiliki persoalan kesejahteraan, justru kaya raya dan bahkan ada yang memiliki jet pribadi.

Terlepas lagu yang populer dan menjelajah ke seantero dunia, lagu Beatles dan Rolling Stones di masa lampau hingga detik ini masih mengalirkan uang ke rekening masing-masing personelnya. Karya mereka aman di bawah regulasi hak cipta yang membuahkan royalti dalam setiap hits yang dijual perusahaan rekaman (label) maupun diputar di perusahaan komersil lainnya.

Inilah bedanya, di Indonesia, tidak pernah ada aturan baku yang mengatur royalti dari penjualan. Karya musisi "dibeli-putus" oleh perusahaan rekaman, selanjutnya, rekaman asli (master) adalah milik label dan berhak digandakan serta dipasarkan kapan saja.


Yon Koeswoyo. (Foto: Media Indonesia/Adam Dwi)

Bangga rekaman

David Tarigan, pemerhati musik yang juga inisiator Irama Nusantara, gerakan swadaya pengarsipan musik Indonesia, mengatakan, hubungan musisi dengan label di Indonesia sangat berbeda dengan Amerika, Eropa atau mayoritas negara Asia lain yang ikut Bern Convention (konvensi hak cipta internasional).

Setelah merdeka hingga berpuluh tahun kemudian, Indonesia tidak ikut Bern Convention dan tidak mengatur persoalan royalti di dunia musik. Karenanya, perusahaan rekaman dapat membuat aturan main sendiri dengan musisi, bahkan sama sekali tidak ada perjanjian.

"Tidak ada yang bisa disalahkan, karena hingga akhir 1960-an saja industri musik belum terbentuk. Recording (label) saja cuma ada berapa?" kata David kepada metrotvnews.com, Rabu (14/6/2016).

Di era vynil itu, ia melanjutkan, tidak semua orang dapat membeli piringan hitam. Karena terhitung mahal bagi kalangan ekonomi bawah. Alhasil, pembeli kepingan musik itu tidak banyak. "Ya sudah, karena sedikit pembeli maka dibuat kerjasama yang masuk akal bagi label, sistem flat pay atau beli-putus," ujar David.

Saat itu, mendapat tawaran untuk merekam karyanya di atas piringan hitam sudah sebuah kehormatan bagi musisi. Dengan begitu, musisi memiliki kesempatan lebih dikenal dan berpotensi datangkan tawaran pentas (gigs).

Jadi, harapannya bukan jumlah rekaman yang terbeli, kesempatan naik panggung yang menjadi tumpuan penghasilan musisi. "Tawaran (rekaman) diambil, sistemnya beli putus. Master-nya milik label," kata David.

Saat kaset dengan teknologi pita kecilnya mendarat di akhir 1960-an dan meledak di awal 1970-an, eksistensi piringan hitam lambat laun tenggelam. Perusahaan rekaman mulai menggandakan karya musisi yang sudah dibelinya dalam bentuk kaset.

Harganya yang jauh lebih terjangkau membuat kaset laku keras. "Meledak, jutaan keping bisa terjual dari satu musisi saja. Saat inilah industri musik tumbuh," ucap David.

Sayangnya, kala industri musik mulai bergeliat, pemerintah tidak membuat regulasi terkait karya musisi dan bisnis musik. Tradisi lama perjanjian ala kekeluargaan masih berlanjut. Hasilnya, banyak bermunculan rasa curiga musisi terhadap label, dianggap tidak transparan antara keuntungan yang didapat dengan flat pay yang ditawarkan.  "Karena tidak ada standarnya itu akhirnya jadi masalah, intinya berantakan sejak masa awal kaset," kata David.

Baca: January Christy, Pionir Pop Jazz di Industri Musik Indonesia


 

Karut marut

Salah satu persengketaan musisi dengan label yang mencuat ke permukaan adalah antara grup musik Bimbo dengan PT Remaco, salah satu perusahaan rekaman raksasa di Indonesia.

Remaco, yang merekam karya-karya Bimbo tentu memiliki hak atas master setiap lagunya. Pada 1979, Remaco melakukan penggandaan ulang karya-karya Bimbo di kurun 1973-1978 dan memasarkannya dalam bentuk kaset.

Sam, Acil dan Jaka selaku trio bersaudara dari grup Bimbo, merasa kecewa. Pasalnya, Remaco melakukannya tanpa sepengetahuan dan izin mereka. Lagu-lagu hits Bimbo sepanjang 73-79 itu beredar dipasar dalam satu bundel album baru.

Bimbo juga kecewa dengan foto mereka yang bergaya cowboy di album tersebut, karena dinilai tidak mencerminkan karakter dan isi lagu-lagunya. Selain itu, Bimbo juga mempermasalahkan hak edar album tersebut yang telah dialihkan Remaco ke pihak lain.

Akhirnya, pada 1999, Bimbo menggugat Remaco ke pengadilan. Namun, grup yang meledak di era 1970-an itu terpaksa harus puas dengan hasil persidangan yang memenangkan Remaco. "Karena kita (Indonesia) tidak ada standar regulasi, terutama seni hiburan. Padahal payung hukum itu perlu untuk memproteksi seniman dan karyanya," ucap manajer Bimbo, Luthfi, dalam perrbincangan dengan metrotvnews.com, Kamis (15/9/2016) lalu.

Meski sekarang sudah ada regulasi tentang hak kekayaan intelektual ditambah UU Nomor 28/2014 tentang hak terkait, namun dirasa belum cukup untuk memproteksi seniman. Luthfi, yang saat ini menjabat Sekretaris Jendral Ikatan Manajer Artis Indonesia (Imarindo), menilai  Indonesia perlu undang-undang khusus yang mengatur industri seni. Undang-undang ini bakal menjadi landasan hukum perlindungan tenaga kerja seninya sekaligus regulasi bisnis bidang seni budaya.

"Sebenarnya sudah ada pembicaraan bersama Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), tapi belum jalan. Ya, setidaknya sudah ada yang menginisiasi, memulai," kata Luthfi.

Sapi perah

Pengamat musik Indonesia, Denny Sakrie, pada 2011 pernah menulis bahwa meledaknya album Koes Plus Volume 8 dan Volume 9 pada 1973, yang terjual jutaan keping, membuktikan bahwa band yang dikomandoi si jenius Toni Koeswoyo itu adalah komoditas yang menuai untung.

Menurut jurnalis senior yang meninggal dunia pada Januari 2013 ini, masa-masa itu tawaran pentas yang diterima Koes Plus datang bertubi-tubi. Sementara, Eugene Timothy, pimpinan Remaco, perusahaan rekaman yang menggarap Koes Plus saat itu, mengusulkan agar Toni dan Yon serta personel band lainnya agar lebih banyak berkutat di studio untuk membuat banyak album, dibanding memenuhi tawaran gigs.

Permintaan itu dipenuhi Toni. Pada 1974 Koes Plus pun menoreh sejarah industri musik, dalam setahun merilis 22 album. Artinya, rata-rata sebulan menghasilkan 2 album. Pada tahun ini, beragam genre ciptaan Koes Plus meledak di pasar. Mulai dari pop melayu, pop jawa, pop keroncong, pop anak-anak, pop religi, pop qasidah, folk songs, hard beat hingga instrumental.

Selain digandrungi, Koes Plus juga mendapat kritikan. Koes Plus menjadi sapi perah Remaco sepanjang 1973 hingga 1976. "Koes Plus memang menjadi anak emas Remaco. Ini lumrah karena Koes Plus sendiri adalah tambang emas bagi Remaco," tulis Denny dalam blog pribadinya.

Berakhirnya dasawarsa 70-an, Koes Plus meredup, terjadi pergeseran selera musik pop. Menurut Denny, penikmat musik mulai teralih ke penyanyi solo seperti Chrisye, Keenan Nasution, Faris RM. Belum lagi menyeruaknya penyanyi-penyanyi wanita di bawah karya Rinto Harahap seperti, Diana Nasution, Iis Soegianto, Christine Pandjaitan, Betharia Sonata, Nia Daniaty, dan lain-lain.

Walaupun demikian, Koes Plus masih beraksi dan tetap merilis album meski tak lagi harus bersama Remaco. "Mereka masih tetap merilis album lewat berbagai label rekaman," tulis mantan penyiar radio itu.


Yon Koeswoyo 2011.(Foto: Antara)

Harta karun

Informasi yang diperoleh berdasarkan penelusuran metrotvnews.com,  Remaco yang merupakan perusahaan rekaman legendaris itu hingga kini masih eksis dan dikendalikan oleh Sheila Timothy, produser film yang juga putri Almarhum Eugene Timothy, pendiri Remaco. Dari studio Remaco, selain Koes Plus, banyak karya emas musisi lawas bermunculan. Antara lain Bimbo, yang pernah bersengketa soal royalti dengan Remaco. Ada pula Bob Tutupoly, Elvy Sukaesih, Bing Slamet, Benyamin, Eddy Silitonga, Enteng Tanamal, Erni Djohan, Panbers, The Mercy's, D'Lloyd, Muchsin & Titik Sandhora, dan lain-lain. Bahkan termasuk Rhoma Irama, yang juga pernah bersengketa dengan Remaco.

Berdasarkan catatan pribadi Denny Sakrie pada 2013, masih banyak master rekaman lagu musisi lawas Indonesia di Remaco yang kini berlokasi di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat itu. Bahkan, ia sempat di ajak Lala, sapaan Sheila Timothy, masuk ke kantor Remaco.

"Pita-pita rekaman itu teronggok dengan seutas tali raffia yang membelit kotak pitanya," kata Denny dalam tulisan berjudul Membongkar Harta Karun Remaco itu.

Hingga laporan ini dipublikasikan, upaya metrotvnews.com menghubungi dan mendapat konfirmasi Lala tidak mendapat respons. Meski begitu, publik boleh merasa tenang, setidaknya ribuan harta karun intelektual itu masih ada di negeri ini dan masih ada kemungkinan untuk bisa dirilis kembali.

Berburu kebijaksanaan

Menurut Luthfi, dulu label memegang kuasa penuh atas master rekaman musisi. Pada dekade 1960-1970 dan sebelumnya, pengetahuan seniman soal royalti boleh dibilang tidak ada. Musisi ditawari rekaman, dibayar, selanjutnya kaset yang laku berapapun jumlahnya sudah bukan urusan artis.

Bila kasetnya meledak di pasaran, yang ada hanya kebaikan hati label sebagai produser, bila beruntung dikasih rumah, mobil, atau bonus yang sifatnya suka rela. Jadi, bukan standar regulasi bisnis.

"Dulu itu rekaman seperti bentuk lain show, aspek komersial yang menghasilkan. Kontrak rekaman seperti sekarang belum familiar, apalagi klausul-klausul yang standar dan fair, itu sangat jauh. Pakai kuitansi saja sudah untung," kata Luthfi.

Jadi, ia menambahkan, bila penjualannya meledak, yang bisa diharapkan adalah kebijaksanaan label sebagai pemroduksi.

Gerry pun bercerita, sekali waktu di tahun 1990-an, putra-putri personel Koes Plus sempat mendatangi Eugene Timothy, pemilik Remaco. Saat itu mereka menceritakan permasalahan ekonomi yang menimpa keluarga besar Koes Plus kepada Eugene, dengan harapan mendapatkan kebijaksanaan berupa royalti.

Usaha tersebut gagal. Sang produser mengatakan tidak bisa memberikan kebijaksanaan berupa royalti. Alasannya masuk akal, karena, sejak 1960-an tidak ada perjanjian soal royalti penjualan antara Koes Plus dan Remaco. Namun, kata Gerry, mereka mendapatkan kebaikan lain dari Eugene, yakni, masing-masing anak diberikan amplop berisi uang. "Ini untuk membeli buku, untuk sekolah," kata Gerry meniru ucapan mendiang Eugene Timothy.

Bagi Gerry, keluarga besarnya sama sekali tidak pernah mau pusing memikirkan persoalan "siapa membesarkan siapa". Entah Koes Plus yang membesarkan nama Remaco atau sebaliknya, ia tak mempermasalahkannya. Tetapi yang pasti, kata dia, dahulu antara musisi dan produser adalah sebuah tim, bekerja bersama-sama mencapai sukses.

Suatu yang ditegaskan Yon kepada Gerry adalah soal nilai besar yang sulit dihitung dengan materi. Yakni, sumbangsih keluarga Koeswoyo dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan untuk negeri Indonesia melalui musik. "Saat ini ayah saya dan oom Yok (Koesroyo Koeswoyo - personel Koes Plus, pemain bass) tidak ada penghasilan, tidak punya pensiun, ini sudah jalan Tuhan. Ayah saya mengatakan kita pasrah saja dan tetap ibadah," ujarnya.

Harapannya, menurut Gerry, semoga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang individu-individunya mudah melupakan sejarah.


(FIT)