20 Tahun Marjinal, Berdikari dan Bermasyarakat

Agustinus Shindu Alpito    •    04 Januari 2017 11:55 WIB
punk
20 Tahun Marjinal, Berdikari dan Bermasyarakat
Logo Marjinal di tembok halaman Markas Marjinal Taring Babi (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekiranya ada pola pikir yang tidak tepat jika Anda masih menilai “punk” sebagai bagian dari masyarakat yang meresahkan. Lepas dari soal rambut berdiri, pakaian serba hitam, sepatu boot, anting, tindik, tato, atau pemuda yang dianggap sebagai punk berkeliaran di jalan raya dan mengamen di angkutan kota, punk adalah sikap. Kesadaran dalam bersikap, juga menyikapi lingkungan sosial.

Tidak mudah menjadi punk di Indonesia. Sejarah mencatat hal itu, di Aceh pada tahun 2011, ramai diberitakan para penganut punk - yang terlihat dari gaya berpakaian -diburu polisi. Tidak lain karena mereka dianggap pembangkang, meresahkan, dan harus "dinormalkan." Namun, kita harus melihat persoalan ini secara lebih luas, juga dengan membuka diri terhadap informasi yang benar tentang apa, siapa, dan bagaimana punk.

Pada 22 Desember 2016, sebuah kolektif musik yang menganut paham punk, Marjinal, resmi berdiri selama 20 tahun. Sebuah perjalanan mengejutkan bagi kelompok bawah tanah yang kerap dipandang sebelah mata. Lebih mengagumkannya lagi, Marjinal tidak semata berkarya dalam musik. Mereka hadir langsung ke tengah masyarakat, menebar virus swadaya dan berdikari secara nyata, lewat komunitas bernama Taring Babi.

Terletak di gang sempit Setiabudi kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Marjinal menjalankan segala aktivitasnya. Mulai dari berbagi ilmu, rekaman, menyablon, hingga menemani anak-anak belajar. Rumah yang menjadi markas Taring Babi itu jauh dari kesan mewah, namun telah melahirkan banyak ilmu bagi yang bertandang.

Metrotvnews.com menemui Bob, bassist Marjinal, di markas mereka, pada awal Januari 2016. Dalam obrolan menyenangkan itu, Bob menceritakan bagaimana momen 20 tahun ini bagi Marjinal.


Bob dan Mike Marjinal (Foto: Metrotvnews/Shindu)


Dua pemuda asing tampak santai di teras rumah kecil itu. Sebelum Bob memperkenalkan, saya hanya mengira dua pria itu warga sekitar Gang Setiabudi, yang memang sudah biasa nongkrong di markas Marjinal Taring Babi.

Samar-samar, terdengar Bob berbicara menggunakan bahasa Inggris, dengan salah satu dari pemuda itu. Sadar saya bertanya dalam hati, Bob segera memperkenalkan bahwa rekannya itu adalah tamu dari Jepang, yang sudah lebih satu pekan tinggal di markas Marjinal Taring Babi.

Belum reda rasa penasaran saya, seorang pria asing lainnya berbicara dalam bahasa Melayu. "Dia dari Pahang," jelas Bob singkat.

Bagi warga sekitar, atau siapa saja yang biasa berkunjung ke markas Marjinal Taring Babi, tidak asing lagi dengan situasi di atas. Markas Marjinal Taring Babi memang biasa jadi rujukan para punkers dari berbagai belahan dunia. Ragam hal yang mereka lakukan di sana, mulai dari penelitian, sekedar ngobrol, hingga ada yang menginap selama berbulan-bulan untuk merasakan langsung menjadi bagian dari komunitas Taring Babi. Dari situ terjadi pertukaran ilmu dan informasi. Marjinal tidak segan berbagi ilmu cukil kayu, sablon, atau mentato.

"Mereka berdua (penggemar dari Jepang dan Malaysia) datang sejak kami ulang tahun, ikut acara yang di Bogor juga," jelas Bob di sela-sela perbincangan.

"Biasanya kami selenggarakan acara ulang tahun di sini, tetapi kami punya teman yang memiliki tempat, Joglo Keadilan, letaknya di Bogor, jadinya kami coba rayakan di sana. Tidak hanya launching album, tetapi ada diskusi dan pemutaran film, ada workshop dan ada pengobatan gratis dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia),” papar Bob soal acara ulang tahun Marjinal ke-20, yang digelar pada 22 Desember 2016.

Marjinal menandai usia dua dekade dengan merilis album berjudul Anti Facist And Racist Action. Album itu berisi 11 materi, yang diambil dari tiga album pertama mereka.


Amplop album Anti Fascist And Racist Action, dengan logo 20 tahun Marjinal (Foto: Metrotvnews/Shindu)

“Kami take ulang (11 lagu pilihan dari tiga album pertama). Karena kami coba melihat situasi negeri ini, relevan antara persoalan yang kita angkat di tahun 1999 dulu. Tentang kekuasaan, rasisme, SARA.”

Masalah SARA belakangan memang hangat diberitakan media, terlebih dalam masa kampanye pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Namun, Marjinal selalu punya cara dalam menyikapi kisruh sosial yang terjadi.

“Banyak tema yang ingin kami angkat, kami belum lama ini datang ke lokasi penggusuran, kami ingin angkat tema itu, juga soal reklamasi, masalah Kendeng,” lanjut Bob.

Menyimak materi lagu Marjinal, memang tampak serius. Mereka kritis, lugas, lantang, juga ada aura galak. Di sisi lain, para penggawa Marjinal, juga komunitas Taring Babi, punya sikap yang sangat kontras. Kelembutan. Hal itu tampak dari gaya komunikasi Marjinal dengan warga sekitar.



Daftar lagu Album Anti Fascist And Racist Action (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Dalam lawatan Metrotvnews.com kali ini, hal itu tercermin dari sikap Bob dalam menyapa ibu-ibu tetangga. Juga cara meladeni anak-anak yang ingin mampir ke markas Marjinal Taring Babi, sekadar untuk menghabiskan sore.

“Biasanya kami bikin acara 22 Desember di sini (rumah Marjinal Taring Babi), kami masak sama-sama dengan ibu-ibu siang hari, lalu malam harinya kami makan bersama dengan warga, dengan tokoh masyarakat, sekaligus kami sungkem ke ibu-ibu karena 22 Desember bertepatan dengan Hari Ibu. Orangtua kami juga dekat dengan warga di sini,” kata Bob.

Pola interaksi yang terjadi antara Marjinal, komunitas Taring Babi, dan lingkungan sekitar cukup unik.  Pemandangan pemuda dengan rambut tegap berdiri, badan penuh tato,  bercengkrama dengan ibu-ibu tua yang mengenakan daster sembari mengawasi cucunya bermain adalah hal lumrah. Marjinal Taring Babi sudah lekat bermasyarakat dengan warga Gang Setiabudi, tanpa lagi dilihat sebagai pemuda “tidak jelas” dengan atribut yang dicap aneh.

“Masyarakat sendiri, mereka merasa terhibur dengan kami tinggal di sini. Ada anak-anak belajar musik, gambar, dan mereka terkontrol. Ketika ibu-ibu sekitar mendengar berita bahwa rumah ini (markas Marjinal Taring Babi) akan dijual oleh pemiliknya, ibu-ibu itu justru merespons, 'Kami mendoakan agar rumah itu enggak laku, lakunya ke Om-Om (Marjinal) saja,'” kisah Bob sembari tertawa.

Bukan berarti Marjinal mampu membaur dengan masyarakat tempat mereka tinggal tanpa kendala. Tak kenal, maka tak sayang. Itulah peribahasa yang tepat menggambarkan kehadiran Marjinal Taring Babi di Jagakarsa. Mereka sudah melewati masa-masa dianggap sebagai “alien” sampai ketulusan dan waktu yang membuktikan. Lucunya, Bob yang juga berprofesi sebagai seniman tato, seniman visual, bisa mendadak jadi desainer undangan sunatan demi warga Gang Setiabudi.

“Kami selalu melibatkan diri dalam aktivitas di perkampungan sini. Mulai dari ada acara pernikahan kami bantu dekorasi, desain undangannya, sampai rumah kami untuk tempat masak-masak. Termasuk bikin undangan sunatan, tetapi tetap dengan style underground, ha-ha-ha,” seloroh Bob.

Bertahan

Selama 20 tahun eksis, Marjinal berjalan bukan tanpa halangan. Bob mengenang satu kejadian yang cukup pelik dialami Marjinal, yang cukup menguji keberadaan mereka.

“Tahun 2007, ketika kami diliput televisi swasta, respons yang terbangun di komunitas, mereka marah, mengaitkan dengan wacana punk anti-media. Efeknya sampai ke ekonomi hancur, kita enggak bisa jualan kaus, enggak main di panggung-panggung lagi.”

“Sebelum ditayangkan kami sudah riset, efek di masyarakat seperti apa, di komunitas seperti apa. Kami pilih masyarakat, kami ingin berbagi tentang kita, apa yang kami lakukan, apa yang kami kerjakan. Minimal ada informasi sedikit mengapa kami hidup seperti ini.”

Beruntung bagi Marjinal, situasi itu tidak menghentikan langkah mereka. Marjinal mendapatkan kembali kepercayaan dari komunitas, dan terus berjalan hingga saat ini.

“Masyarakat lebih pintar dengan perkembangan teknologi, Banyak pintu-pintu terbuka, tidak hanya di scene underground, kami saat ini bisa main di majelis taklim, gedung DPR, di kantor KPK. Kita menjadi punya referensi yang sebelumnya kita enggak pernah tahu.”

Perjuangan Marjinal masih jauh dari kata selesai. Atau bahkan, mereka memperjuangkan sesuatu yang memang bukan untuk kata selesai. Persoalan demi persoalan baru bermunculan, ketidakadilan semakin menjadi, dan itu berarti tantangan penganut punk semakin nyata. Bara semangat Marjinal masih hidup meski waktu terus menguji.  


Bob Marjinal dan sampul album Anti Fascist And Racist Action (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Di usia ke-20 ini, Marjinal punya rencana untuk memiliki markas Marjinal Taring Babi secara utuh. Selama 13 tahun, Marjinal mengontrak rumah yang mereka jadikan markas dan wadah berbagi ilmu.

“Sekarang kami berencana mendapatkan rumah ini, kami berencana ingin menggalang dana untuk membeli rumah ini. Kami selama ini mengontrak rumah. Jika kami sudah memiliki rumah ini, kami tidak perlu was-was untuk pindah-pindah lagi, adaptasi dengan lingkungan sekitar lagi. Kami di sini sejak 2003, sewa per tiga bulan. Per bulan biaya sewa Rp1,5 juta di luar listrik dan air.”

Sebelum pamit, penggemar Marjinal asal Malaysia yang ikut bergabung dalam diskusi kami mengeluarkan anekdot. “Orang Malaysia menyebut Marjinal adalah ‘pemakan baterai.’ Mereka tur 15 kota di Malaysia dalam waktu satu bulan. Mereka sangat kuat, tidak kelelahan, tidak sakit,” kata penggemar itu dengan antusias.

Barangkali, istilah “pemakan baterai” memang tepat disematkan kepada Marjinal. Mereka bukan saja kuat menjalani rentetan tur dalam waktu singkat, namun juga semangat mereka yang tidak sedikit pun kendor dalam memperjuangkan apa yang mereka sebut “No Class, No Border!”

 


(ELG)