Menggenggam Dunia Lewat Musik

Wanda Indana    •    22 Maret 2017 12:28 WIB
indonesia musik
Menggenggam Dunia Lewat Musik
Konser bertajuk First Impression di Institut Seni Indonesia Denpasar, Bali, untuk memperingati Hari Musik Nasional 2017. (ANTARA/Fikri Yusuf)

Metrotvnews.com, Jakarta: Agustus 2008, jerit-pekik ratusan musisi Malaysia makin memekak. Lebih dari 700 musisi lokal memprotes membeludaknya pemutaran lagu-lagu Indonesia di negeri Petronas itu. Pendek kata, lagu tanah air meneror belantika musik Malaysia.

'Malaysia di malam hari mirip Jakarta. Semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dini hari,'' keluh musisi senior Malaysia, Amy Search. Lantas saja, pelantun Isabella ini, jadi uring-uringan ketika menengok orang-orang Malaysia lebih gandrung menyanyikan lagu Indonesia ketimbang lagu-lagu lokal. Awam tahu, industri musik Malaysia mulai temaram awal 2000-an. Musiknya dianggap kuno, cengeng, monoton, dan menjemukan. Sebaliknya, lagu-lagu Indonesia yang membawa nuansa baru mendominasi tangga musik populer di negeri jiran. Lagu Indonesia dianggap lebih segar, variatif dan inspiratif.

Ratusan musisi Malaysia yang tergabung dalam Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan), akhirnya menuntut kerajaan membatasi peredaran dan pemutaran lagu-lagu Indonesia di semua stasiun radio. Karyawan menemui Menteri Tenaga, Air, dan Komunikasi Malaysia Shaziman Abu Mansor untuk menyampaikan petisi tentang aturan kuota lagu-lagu Indonesia. Petisi itu meminta pemutaran lagu-lagu di radio yang dibawakan penyanyi Malaysia mendapatkan kuota sebesar 90%, sisanya untuk lagu-lagu Indonesia dan asing.

Boleh jadi, musisi Malaysia takut kalah bersaing. Tapi, apapun itu, musik sejatinya merupakan sekumpulan nada-nada indah yang bisa dinikmati bersama, bukan untuk persaingan. Apalagi jadi benih pemecah.

Kehadiran musik Indonesia di Malaysia sudah pasti membawa misi lain, yakni, sebagai sarana distribusi kebudayaan. Musik dipercaya memegang peranan esensial dalam menyebarkan kebudayaan. Tengok saja, orang Malaysia kini sudah terkondisi memakai kata yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata seperti ‘pacar’, ‘luwes’, ‘banget’, ‘keren’,‘kapan’ dan lain-lain, lazim digunakan di kalangan anak muda.

Dalam Teori dan Metoda Antropologi Budaya(1990), Pakar Antropologi kawakan Carol Ember dan Malvin Ember,menjelaskan, kebudayaan bisa memengaruhi pola pikir dan pola pergaulan di lingkungan masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan bisa membentuk ciri kepribadian individu.

Di era globalisasi, rasanya sudah tidak relevan lagi jika menafsirkan kebudayaan dari sudut pandang ontologi. Kebudayaan era kontemporer, bukan lagi soal melestarikan benda-benda purbakala, menjaga tradisi atau nilai-nilai leluhur. Makna kebudayaan dewasa ini merupakan jati diri atau identitas suatu bangsa.

Masih terngiang, ketika perang dingin dimulai pada 1945, Amerika Serikat getol melakukan diplomasi budaya melalui media musik. Diplomasi budaya diniatkan untuk membangun citra positif negeri Paman Sam. Maklum, selama perang dunia pertama dan kedua, Amerika Serikat dicap sebagai negara doyan perang. AS ingin dikenal sebagai negeri yang cinta damai.

AS tak main-main soal ini, diplomasi kebudayaan makin dilantangkan. Tahun 1954, Presiden AS ke-34Dwight Eisenhower, mengutus para pakar musik ke berbagai negara untuk menyebarkan musik melalui kedok emergency fund. Eisenhower juga membentuk American National Theatre and Academy (ANTA) yang di dalamnya terdapat divisi khusus membidangi musik, yakni Music Advisory Panel.

Program diplomasi kebudayaan yang dilakukan AS terbukti tokcer. Sambil menyelam minum air, AS juga memanfaatkan ANTA buat menyebarkan paham ideologinya. Sulit dibantah, industri musik dunia kini berkiblat ke barat, utamanya Amerika Serikat. Musisi boleh dianggap jempolan kalau sudah bisa menembus pasar musik Hollywood.

Perang kebudayaan

Dulu, satu negara mengandalkan perang untuk mengusai negara lain. Sekarang, satu negara mengandalkan kebudayaan untuk menjajah bangsa lain.

Sosiologi agama, Imam Ali Khamenei, dalam Perang Kebudayaan (2005), mengungkapkan, perang kebudayaan menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang menyerang secara halus prinsip dasar dan unsur kebudayaan bangsa lain. Perang kebudayaan berlangsung diam-diam, tak kelihatan, jadi tidak membangkitkan kegaduhan dan membetot perhatian.

Pada akhirnya, negara yang memenangkan perang kebudayan, adalah negara yang yang akan menguasai dunia. Amerika Serikat sudah membuktikan itu, melalui musik.

Gempuran musik asing

Pada dekade 60-an, Presiden Soekarno juga sudah berupaya membendung masuknya musik-musik barat. Soekarno yang memiliki darah seni yang tinggi, menciptakan genre musik Lenso, terinspirasi dari kebudayaan Maluku. Soekarno ingin irama lenso menjadi corak musik Indonesia yang akan melawan dominasi musik barat yang lagi hits di masa itu.

Soekarno mengajak musisi kondang seperti Gesang, Titiek Puspa, Bing SlametRita Zahara,Nien Lesmana,Jack Lesmana, dan lainnya, untuk menggarap album bergenre musik lenso. Soekarno juga ikut menciptakan satu lagu berjudul Bersuka Ria.  Pada 14 April 1965, album lenso pun dirilis bertajuk Bersuka Ria Dengan Irama Lenso.

Beranjak ke dekade 70 hingga 80-an, musisi seperti Koes Plus dan Panbers dan musisi lainnya, mulai lahir dengan mengusung genre rock n roll yang hits pada masa itu. Kendati memilih genre musik rock, musisi sekelas Koes Plus tak segan memberikan sentuhan etnik dalam setiap karya-karyanya. Keindonesiannya lebih terasa. Koes Plus sempat membuat album seperti Tul Jaenak dan Ojo Nelongso dengan mengusung aliran Pop Jawa. Band yang digawangi Yon Koeswoyo ini, juga tak malu-malu membuat lagu berirama melayu seperti lagu Mengapa, lagu keroncong seperti Cinta Mulia dan Penyanyi Tua.

Panbers pun demikian. Di dalam Album Vol. I, mereka bernyali menyisipkan satu lagu Batak berjudul Masihol Ahu. Tak disangka, sentuhan irama batak mendapat sambutan positif hingga skala nasional. Sejak saat itu, Panbers menjadi pionir lagu-lagu batak dan menjadi panutan bagi para musisi Batak di industri musik rekaman.

Melongok generasi milineal saat ini, gampang diterka kalau pasar musik dalam negeri sudah dijangkiti musik-musik bangsa barat. Buktinya, lihat saja pergaulan jaman sekarang, sudah kebarat-baratan. Jamak pemuda meniru gaya hidup barat, mulai dari cara berpakaian, bersosialisasi, berbahasa, dan sebagainya. Bisa dibilang, orang Indonesia sudah mulai terbaratkan (westernized).

Tak cukup sampai di situ, korean wave atau gelombang musik Korea Selatan mulai merasuk ke pasar musik Indonesia awal 2000. Musik Korea yang popular disebut K-Pop atau Korean Pop meledak pada 2011. Sejak saat itu, demam K-Pop gesit menjalar ke pelosok negeri.

K-Pop selalu menyajikan format boyband dan girlband yang umumnya memiliki jumlah personil yang banyak, dengan balutan irama musik modern. Artis K-Pop dipastikan lihai berjoget dan memiliki wajah rupawan dan segar. K-Pop selalu memukau para peminat lewat tarian yang padu. Sebagai pemain baru, Korea Selatan sukses menyebar-luaskan pengaruh kebudayaannya melalui musik.

Membangkitkan kembali

Presiden Joko Widodo mafhum, tak hanya sekadar bentuk kesenian, musik juga memiliki peran dalam menyebarkan pengaruh kebudayaan. Pada acara peringatan Hari Musik Nasional kemarin, Jokowi bertekad mendorong pertumbuhan industri musik nasional menjadi alat diplomasi di kancah internasional. Ia punmengungkit kesuksesan industri musik di Korea Selatan yang mampu menjadikan K-pop mendunia.

"Saya bertanya kepada Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye bahwa mereka membutuhkan waktu 13 tahun. Saya melihat bagaimana mereka menyiapkan manajemen, promosinya, panggung, lighting, penontonnya, memang rapi sekali," ujar Jokowi di hadapan 200 musisi tanah air saat membuka Musyawarah Nasional VII Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) dan Peringatan Hari Musik Nasional 2017 di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi menyatakan, industri musik nasional harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jokowi ingin musik Indonesia mendominasi semua tempat, ruang, dan kalangan di Tanah Air, bukan dari Barat atau negara lain. Dia juga berjanji menyiapkan aturan agar lagu-lagu karya anak bangsa dipasang di setiap lembaga penyiaran, seperti radio, televisi, hingga tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan setiap 9 Maret yang ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.Menurutnya, cara itu juga untuk membendung derasnya infiltrasi kebudayaan asing.

"Saya setuju agar pada Hari Musik Nasional, penuh dari pagi hingga tengah malam itu, radio, televisi, departemen, kafe, dan lainnya menyiarkan lagu nasional. Tidak tahu lewat keppres atau apa, nanti biar diurus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Pak Triawan Munaf," ujar Jokowi.
Musisi tradisional asal Bali, I Wayan Balawan, 43, ikut meluapkan harapannya pada musik nasional. Raja gitar ini merasa, nasib musisi tradisional kondisinya memprihatinkan dan harus diperhatikan. Pemerintah juga mampu mendukung musisi tradisional.

Bagaimanapun, musik nasional lahir dari musik tradisonal. Jadi, menurut Balawan, Hari Musik Nasional memiliki pengertian yang luas, bukan semata-mata ajang kumpul musisi yang sudah terkenal dan melupakan musisi tradisional yang menjadi pahlawan bagi musik Tanah Air di kancah internasional.

"Banyak musikus tradisional dari Sabang sampai Merauke yang membutuhkan dukungan dan perhatian pemerintah, pahlawan musik juga banyak," kata Balawan saat berbincang kepada Metrotvnews.com di kediamannya, Jalan Pacar, Denpasar.

Kalau boleh didengar, Balawan punya impian, saat peringatan Hari Musik Nasionalpemerintah memberikan sosialisasi terhadap musik tradisional agar tidak punah dengan siaran bermutu tentang musik tradisional kepada masyarakat. Dengan begitu, Indonesia memiliki karakteristik di dunia musik, tidak harus mengikuti aliran musik luar negeri yang saat ini tengah digandrungi masyarakat.

"Kalau bisa seharian diadakan siaran khusus musik tradisional. Kita harus mengemas sedemikian rupa musik Indonesia agar diterima masyarakat dunia. Dikasih ruang untuk musisi tradisional," pungkas Balawan.
Hal senada diutarakan musisi yang juga Co-Founder Rick Hanes, gitar lokal yang saat ini telah mendunia, Doddy Hernanto. Pria yang akrab disapa Mr. D itu mengamini perlunya mengangkat kembali  musikalisasi beraroma etnis.

“Indonesia itu kaya akan budaya. Instrumennya juga pentaton, gamelan kalo dikulik, itu sesuatu yang unik, tidak akan habis. Belum lagi instrumen tradisional lain, seperti Kalimantan, dan lain-lain, itu keren,” ujar Doddy, Jumat, 17 Maret 2017.

Baginya, Indonesia bisa membangkitkan kembali musiknya melalui sentuhan etnis. Kenapa tidak? Pernah berjaya dengan ciri khasnya, meredup tergerus hegemoni budaya barat, dan kini perlu bangkit lagi dengan sentuhan budaya sendiri. “Ini yang sedang kami coba,” tandasnya.


(FIT)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

6 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA