Di Balik Lirik Nakal Jamrud

Agustinus Shindu Alpito    •    14 November 2018 11:28 WIB
indonesia musik
Di Balik Lirik Nakal Jamrud
Krisyanto, vokalis Jamrud, saat tampil di Sycnrhonize Fest 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Dari lagu ulang tahun, hamil di luar nikah, balada dikejar anjing, penggrebekan di kamar mandi, hingga lagu tentang muntaber, Jamrud punya semuanya! Bisa dibayangkan bagaimana grup ini begitu piawai mengolah beragam peristiwa sehari-hari jadi sebuah lagu.

Jamrud menulis lagu dengan gaya bercerita. Kita seperti diajak masuk dalam kisah yang mereka bangun. Seperti yang terjadi pada lagu Surti Tejo, Dokter Suster atau Telat 3 Bulan. Di samping itu, gaya bahasa Jamrud mudah dipahami, tidak jarang mereka menggunakan bahasa slang yang membuat pendengarnya tidak berjarak dari segi bahasa. Hasilnya, lagu-lagu Jamrud selalu berhasil mengundang senyum simpul, bukan karena mereka melucu dalam lagu, tapi kita yang dihadapkan pada realita keseharian dan mungkin saja kita sedang menertawakan diri sendiri karena mengalami apa yang dikisahkan Jamrud pada lagunya.

Salah satu lagu menarik dari Jamrud adalah Asal British. Sebuah lagu yang dalam istilah hari ini, bercerita tentang fenomena "Bahasa Jaksel." 

"Bahasa Jaksel" Merujuk pada penggunaan bahasa Inggris yang sering diselipkan di antara bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Fenomena ini lazim ditemui dalam berbagai lingkar pergaulan di kota-kota besar. Kata "Jaksel" sendiri berarti "Jakarta Selatan" daerah yang disebut-sebut sebagai barometer pergaulan anak Jakarta. 

Menariknya, Jamrud telah sadar atas fenomena bahasa itu 18 tahun lalu. Asal British dirilis dalam album Ningrat, tahun 2000. Album yang sama dengan hit Pelangi di Matamu dan Surti Tejo. Ningrat bahkan dinobatkan sebagai album rock terlaris pada masanya (versi AMI tahun 2001). Penjualannya menembus dua juta kopi. 

Dalam lagu itu, Krisyanto, sang vokalis yang dikenal dengan suara serak, terdengar melafalkan lirik campuran bahasa Inggris-Indonesia, diselingi dengan suara auman yang terdengar mengejek. Itulah Jamrud, selalu berhasil memadukan ragam fenomena sosial yang ada - meski terkadang tabu - jadi sebuah lagu eksentrik yang menggelitik dan punya balutan humor.


Azis MS saat Jamrud tampil di Synchronize Fest 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

2 Oktober 2018, saya menghubungi Azis Mangasi Siagian, gitaris Jamrud. Azis sosok sentral yang berpengaruh atas lahirnya lagu-lagu Jamrud, baik yang bertema manis seperti Pelangi di Matamu, lagu cabul seperti Surti Tejo dan tentu saja Asal British.

Saya menghubungi Azis sekitar pukul 10:30 WIB, mengutarakan keinginan wawancara via telepon. 

"Sejam lagi deh, Mas, baru bangun," balas Azis diikuti emoji tertawa.

Sejam berlalu, kami benar-benar tersambung via telepon. Cukup canggung bagi saya untuk mewawancarai sosok yang jadi bagian dari masa kecil saya. Masih ingat betul peristiwa 18 tahun silam ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, berjalan kaki ke sebuah toko kaset dan membeli album Ningrat. Kini, sang empunya album berada di ujung sambungan telepon.

Awalnya, saya hanya ingin mengulik soal lagu Asal British. Sebuah lagu yang masih relevan dikaitkan dengan fenomena sosial hari ini. Namun, rencana saya meleset. Kami berbicara lebih jauh dari itu. Tanpa terasa, nyaris satu jam waktu berlalu. 

Azis tidak menempatkan diri sebagai bintang rock. Hingga kami dapat ngobrol dengan cair. Dia jauh dari kesan star syndrome. Pembawaan Azis santai, meladeni pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang. Berbeda dari citranya yang garang saat di atas pangung. Bahkan, pada akhir wawancara Azis sempat mengajak saya untuk bertemu seluruh personel Jamrud saat mereka hadir di Synchronize Festival 2018. Sayang, kesempatan itu tak terwujud.

Selama 50 menit Azis blak-blakan bercerita tentang lagu-lagu yang pernah ditulisnya, termasuk lagu kritik pada rezim orde baru yang selalu gagal diterjemahkan penggemarnya. Selain itu, dia juga menjelaskan bagaimana perubahan terjadi pada dirinya dan berusaha untuk tidak memaksakan diri menulis lirik frontal seperti saat muda dulu.


Jamrud telah menangkap fenomena "Bahasa Jaksel" sejak 18 tahun lalu. Bagaimana Azis menerjemahkan fenomena itu ke dalam lagu?

Aku sempat tinggal di Bali, kursus bahasa Inggris, aku lihat mereka pakai bahasa Inggris campur-campur. Di kota, penggunaan bahasa Inggris tanpa kita sadari jadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Kalau di Bali lebih jelas. Mereka coba komunikasi dengan wisatawan memang dengan bahasa Inggris.

Lagu itu spontan apa yang saya tangkap apa yang saya tuangkan, saya enggak mau terlalu ngarang soal fenomena, atau keadaan sosial yang ada. Jadi, hampir 100 persen lagu saya itu apa adanya yang saya lihat dan terjadi, potret masyarakat saat itu saja saya tuangkan ke lagu. Seperti cerita dalam lagu Telat 3 Bulan, Surti Tejo itu ada dan terjadi di masyarakat. 

Masih ingat momen ketika menulis lagu Asal British?

Posisi saya saat menulis lagu itu sudah di Cimahi, saya menerawang pengalaman waktu di Bali. Karena pada saat itu, band sedang sulit cari tema lagu, aransemen. Misal bikin lagu percintaan terus, orang pasti bosan, untuk m enghindari itu saya menggali lagi saya pernah alami apa saja. Lagu soal muntaber saja saya pernah tulis.

Lagu Asal British seperti mengejek mereka yang suka mencampuraduk bahasa Inggris dan Indonesia. Bahkan vokalis Krisyanto terdengar mengaum di beberapa bagian, sangat meledek. Apakah memang demikian?

Itu emang sindiran, orang yang sok ngomong Inggris tapi yang benar hanya penekanan nya di akhir saja, di ujung saja. Kemudian ada auman, itu hanya bercanda tapi sesuai fenomena yang ada.

Jamrud punya ciri lagu-lagu bercerita. Bahkan punya susunan dramaturgi yang baik. Bagaimana proses penulisan lagu Jamrud?

Sebelum saya masuk ke lirik, saya bikin bagan utamanya. Kayak Surti Tejo, saya pengin bikin lagu cinta dengan setting di kampung, kemudian saya pilih nama yang kampung, lalu saya pikirkan kondisinya, ada sawah, sarung. Dalam durasi empat menit, sebisa mungkin satu cerita tersampaikan.

Jamrud besar di era 90-an, tapi dalam beberapa penampilan kalian, penonton banyak dari generasi millenial. Bagaimana Jamrud melakukan regenerasi penggemar?

Penggemar Jamrud sendiri banyak teenager. 10 meter sampai 20 meter barikade depan (dalam konser Jamrud) itu remaja, ada regenerasi penggemar. Waktu kami bikin lagu, mungkin mereka belum lahir. Waktu kami bikin lagu, sebenarnya tidak diproyeksikan untuk panjang. termasuk lagu pop seperti Pelangi di Matamu, saya awalnya juga enggak tahu lagu itu diterima apa enggak. Termasuk lagu Selamat Ulang Tahun. Ngalir saja. saya tidak pernah berpikir lagu ini akan sampai berapa lama (dikenal). Mungkin itu seperti siklus saja.

Tertarik menulis lagu soal kondisi politik hari ini?

Soal politik saya kurang tertarik, sebenarya di tiap album ada lagu tentang sosial politik. Tapi, mungkin karena lagunya terlalu dalam jadi orang tidak paham. Contoh, lagu Berakit Rakit, itu lagu yang dalam banget, tapi orang membacanya soal narkoba. Berarti orang-orang enggak ngerti

Dalam lagu Berakit Rakit itu ada lirik, "Tapi aku tak bisa nyanyi di rumah sendiri, tubuh pasti luka atau jadi berita. Dijemput dan menghilang."

Maksud saya, itu nyanyi adalah berkoar-koar, mahasiswa yang demo, dijemput dan menghilang. Kan itu jelas soal "Petrus" di zaman Orde Baru. Tapi pendengar kami enggak sampai ke situ, orang mikirnya lagu soal sabu-sabu. Orang bilang lagu itu soal bahaya drugs. Padahal "sabu-sabu" itu cuma istilah zaman itu. Itu kritik saya untuk zaman itu, baru nyanyi sedikit tahu-tahu menghilang.

Tapi tidak masalah, persepsi orang bebas. Bukan karena lagunya berat, tetapi orang tidak menangkap karena kamuflase liriknya. Kalau lagu Telat 3 Bulan atau Surti Tejo yang ada "fuck you-nya" orang langsung nangkep.



Azis MS (depan) dan Krisyanto (belakang) saat Jamrud tampil di Synchronize Fest 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)


Apakah ada contoh lagu lain yang menunjukkan Jamrud adalah band yang kerap menyorot keadaan sosial-politik?

Ada banyak, tiap album kritik sosial ada. Beberapa bulan lalu ada Jammers (sebutan penggemar Jamrud) yang upload ulang lagu Anjink, itu lebih ngeri lagi.
 
Aku enggak kuat bacanya (lirik Anjink) karena terlalu kasar, dulu waktu bikin aku acuh, tapi 20 tahun kemudian manusia kan berubah aku risih melihat liriknya. Lagu itu tentang "dijemput," kalau dulu yang jemput misterius, sekarang yang jemput KPK. Rupanya ada Jammers yang sadar lagu itu soal korupsi.

Saat ini Azis berusia 50 tahun. Apakah masih menulis lirik nakal seperti waktu muda dulu?

Kalau sekarang kayaknya ada beda. Dulu bisa absurd, sekarang banyak pertimbangan. Bukan petimbangan ke luar, tapi ke dalam (keluarga). Malu dong nulis lirik vulgar tiba-tiba anak bilang, "Ngapain sih, Pa!" Kalau masyarakat umum sih pengin yang vulgar, kalau gue mikirnya, iya itu 20 tahun lalu, tapi manusia kan berubah. Sekarang merasa kayak enggak pantes nulis lirik nakal dengan usia seperti sekarang. Di album baru, ada lirik nakal tetapi bahasanya lebih halus. Lebih kepada proses hidup saja.

Untuk menangkap ragam peristiwa sosial, apakah Azis turut berkecimpung dan memantau ragam perkembangan via media sosial?

Masih, tetap (mengamati fenomena sosial). Semua hal kepantau, apalagi masa-masa mau nulis album, sebelum nulis lirik saya banyak tanya hal apa yang sedang ramai.

Mengikuti perkembangan musik rock Indonesia sekarang?

So far so good. Saya melihat yang independen. Termasuk kami, sekarang kami independen, keluar dari manajemen. Kami ingin kami menentukan di mana kami main, karena itu lagu kami, bukan diatur lagi.

Kalau musik rock hari ini, sistemnya saja berbeda, tujuannya sama. Kalau band underground dari musikalitas lebih bagus dari mainstream atau jebolan perusahaan rekaman besar. Tapi di sisi lain ada underground yang asal untuk lucu-lucuan. Itu sah-sah saja. Yang aku perhatikan yang seperti itu (main musik asal-asalan) cepat hilang.

Kalau dengerin banget musik sekarang enggak. Tapi, biasanya saya lihat kalau pas ada band main di festival yang sama. Kalau Burgerkill atau DeadSquad itu skill bisa dipertanggungjawabkan, bukan terkenal karena keberuntungan. Beberapa kali juga lihat Barasuara, Fourtwnty, dunia mereka begitu. Saya tidak ada masalah dengan musikalitas mereka, saya hanya melihat kreativitasnya, agar lebih bervariasi musik di Indonesia. (Supaya) bukan melulu musik Melayu dan musik cengeng.

Apakah Azis melihat ada band penerus Jamrud, dalam arti grup yang memiliki gaya penulisan lirik seperti Jamrud?

Mungkin mereka tahu diri, kecuali mau pakai bahasa kasar sekalian di atas Jamrud. Tapi, enggak mungkin kalau terlalu kasar, masyarakat engga bisa terima.



Krisyanto dengan megafon andalannya saat tampil di Synchronize Fest 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Jamrud telah berusia 34 tahun. Grup ini juga mengalami berbagai dinamika, termasuk vokalis Krisyanto yang sempat keluar dan pada akhirnya kembali lagi. Menurut Azis, apa kunci menjaga keutuhan sebuah band?

Umum saja, yang pertama antar personel harus sama-sama menghargai. Meskipun ada leader, tapi bukan berarti leader sewenang-wenang. Hargai masukan personel lain, harus jelas arah musik bagaimana, lirik bagaimana. Karena band-band yang enggak jelas, baru satu album dua album, ribut soal jenis musiknya. Itu berarti salah di komitmen awal. Berarti dalam membentuk band tidak jelas mau seperti apa.

Saat Jamrud tampil di Soundrenaline 2016, Krisyanto terlihat lebih kalem dengan menyarankan penonton mereka yang masih sekolah dan bekerja untuk pulang sebelum tengah malam (saat itu Jamrud tampil pada Minggu, tengah malam menuju Senin). Tapi Azis justru menyanggah saran Krisyanto. Saat itu kalian seperti menyiratkan dua karakter yang kontras berbeda. Apakah bentuk komunikasi di atas panggung itu merepresentasikan perbedaan di tubuh Jamrud saat ini?

Kalau mau jujur, keadaan sehari-hari kami seperti itu, kalau sudah jalan tur pasti ada yang di-bully dan nge-bully. Kadang-kadang itu terbawa di atas panggung, karena kami kadang enggak sadar saking sudah sehari-hari bareng. Itu sebenarnya guyon internal. Itu mengalir saja karena sehari-hari kami begitu.

Belakangan Jamrud terdengar lebih elektronik - menggunakan sequencer untuk isian-isian elektronik - apakah cara itu dilakukan agar kalian menjadi relevan dengan tren musik hari ini?

Sequencer itu tidak bisa dihilangkan kalau bawa materi album awal sampai pertengahan karena di tiap lagu suka ada aransemen string, brass section, kalau kami enggak masukin suara trumpet jadi aneh. Pernah dulu pake pemain trumpet asli tapi enggak kena, dari gayanya sudah beda juga dari Jamrud.

Lalu, soal lagu-lagu Jamrud yang diaransemen ulang dan terdengar lebih elektronik?

Semua mengikuti lagu aslinya, kami sempat mengubah beberapa aransemen termasuk lagu Putri untuk album The Best. Bukan saja untuk kepentingan di panggung tapi kami pernah punya album yang banyak elektronik kebutuhan sesuai album saja.

Mengapa Jamrud nekat memasukkan unsur elektronik pada musik rock kalian yang sudah paten?

Sempat bikin lagu yang elektronik, Most Wanted, singel yang masuk album The Best. Pakai drum machine, ya elektronik lah. Dulu aku main rock, waktu SKA keluar (tren), aku bikin juga lagu SKA judulnya Dokter Suster. Itu karena pengaruh lingkungan sekitar, sekarang booming EDM, ya memang kenyataan industri musik dunia seperti itu, kami merespons.

Ada keinginan kolaborasi dengan musisi tertentu yang belum terwujud?

Enggak ada, aku dulu ingin sama orkestra, tapi karena sudah makin umum aku mundur.

Sempat ada usul untuk bikin konser farewell Log Zhelebour dari dunia showbiz, usul itu adalah kami konser pakai orkestra. Tapi, semua band besar sudah pernah, Slank pernah Gigi pernah, padahal aku dulu pengen mendahului.



Azis MS dengan gitar akustik untuk lagu-lagu "pelan" seperti Pelangi di Matamu, saat Jamrud tampil di Synchronize Fest 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Siapa musisi yang paling Azis MS kagumi?

Yang jelas God Bless. Aku belajar musik dengan dengar lagu God Bless. 

Tapi yang aku kagumi secara personal enggak ada. Kalau di God Bless kan memang isinya legenda, hebat, aransemen musiknya hebat. Kalau musisi yang baru-baru, aku enggak nyimak sampai ke dalam, kalo main bareng saja aku dengerin, kalaupun aku enggak tertarik aku enggak dengarkan.

Jamrud sudah cukup lama tanpa album baru, kapan rencana kalian merilis album baru?

Lagi tarik ulur, dulu sempat rilis 10 hari kami tarik lagi karena ada urusan sama manajemen. Kami rencana rilis ulang lagi dengan tambahan 1 sampai 2 lagu baru kasian yang sudah beli kalau setahun kemudian mereka beli lagi dengan lagu sama, kasihan juga.
 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA