Evolusi 8 Ball 'Si Lisan Nista'

Elang Riki Yanuar    •    18 Agustus 2016 17:32 WIB
Evolusi 8 Ball 'Si Lisan Nista'
8 Ball (Foto: Metrotvnews/Elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: 8 Ball sempat membuat manajemen Kangen Band mendidih. Rapper berdarah Maluku ini juga sering terlibat saling serang dengan penyanyi lain. Di kalangan pemuja Hip Hop Tanah Air, 8 Ball dijuluki 'Lisan Nista'. Mungkin karena nyanyian yang keluar dari mulutnya banyak berisi sumpah serapah.

8 Ball memang garang. Ia tak segan melahirkan karya yang isinya hanya memaki-maki. Tetapi katanya masa itu sudah berlalu. Dia mengaku tak lagi begitu.

8 Ball memulai kariernya sejak tahun 2003. Ketika kuliah di Yogyakarta, pria bernama asli M. Iqbal ini sempat bergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation (JHF) besutan Marzuki Mohamad alias Kill The DJ.

Bersama teman-temannya yang berasal dari Maluku, 8 Ball kemudian membentuk grup The Bakutumbu setelah sebelum tergabung dalam grup Siasat.

"Sempat bikin dua album tapi distribusinya tidak di Indonesia. Album ini untuk orang-orang keturunan Maluku di Belanda jadi lagu-lagunya pakai bahasa daerah (Maluku)," kata saat berbincang dengan Metrotvnews.com, di kawasan Pondok Gede, Jakarta.




8 Ball sudah jatuh hati dengan musik rap sejak kecil. Dia banyak belajar dari musisi luar negeri dan rekan-rekannya di Indonesia yang terlebih dulu berkecimpung di dunia hip hop.

"Gue suka Common, Nas, Kendrick Lamar, The Notorious B.I.G banyak mempengaruhi gue soal lirik. Cara bertutur ceritanya bagus. Dari Indonesia, Igor gue suka, Oka Antara, Ucok Homicide juga. Terus gue suka Maggie, gue klop banget sama dia," urainya.

Kemampuannya membuat lagu semakin terasah ketika memutuskan bersolo karier. Pada tahun 2007, nama 8 Ball sempat mencuat ke permukaan ketika lagunya yang menghujat Kangen band menjadi perbincangan. Label yang dulu menaungi Kangen band bahkan mengancam akan mempolisikan 8 Ball.

"Waktu itu memang lagi ramai Kangen band dan lagu gue bocor di internet. Sebenarnya lebih ke iseng. Tapi reaksi dari label mereka mau bawa ke ranah hukum. Akhirnya gue coba klarifikasi saja. Setelah itu ya sudah, menguap begitu saja masalahnya," kenangnya.

Tradisi Diss di Hip Hop

8 Ball coba memahami banyak orang bereaksi keras terhadap lagunya untuk Kangen band saat itu. Orang belum terbiasa dengan lirik-lirik yang memaki lewat lagu secara lugas. Padahal, diss atau menyerang lewat lagu memang sudah biasa 8 Ball dan rapper lain lakukan sejak dulu.

Selain menyerang Kangen band, 8 Ball pernah juga membuat lagu mengejek Yahya Zaini, anggota DPR yang dulu tersangkut kasus video porno. Agnes Monica tak luput dari ejekannya. Diss memang sering dilakukan musisi untuk menyerang atau menyindir rapper lain dengan cara berbalas lagu.

"Yang heboh di sini dulu itu ada Homicide dengan X-Calibour, Ebieth Beath A dan Hoodkilla. Saykoji juga sering diserang di forum hip hop. Waktu itu tuh seru," katanya.


Aksi panggung 8 Ball (Foto: dok. pribadi)

Bagi 8 Ball, lagu-lagu diss bukan sekadar untuk menyerang musisi lain secara pribadi. Tapi, diss juga salah satu cara melatih kemampuannya membuat lagu dan menulis lirik.

"Subkultur battle yang diadopsi di Indonesia itu dulu keren. Kita adaptasi aura rap battle sejati, bukan karena kebencian. Tapi lebih ke perang rima, perang skill. Tapi kalau sekarang makna battle itu sudah bergeser dari latihan, perang skill menjadi perang antar pribadi. Maknanya sudah bias," katanya.

8 Ball dulu sering terlibat 'perang' dengan musisi dan komunitas hip hop daerah lain. Sejak lagu diss Kangen band yang dia nyanyikan mencuat, 8 Ball mendapat 'serangan' dari rapper lain seperti grup asal Jakarta, Segitiga Pemuda, Ecko Show dan komunitas hip hop Manado dan Gorontalo. Battle 8 Ball dengan sejumlah rapper bakal kita temukan dengan mudah di Youtube.

8 Ball sebenarnya banyak mendapat lagu-lagu serangan dari sejumlah rapper. Namun, dia tak mau sembarangan memberikan balasan. Apalagi, jika kualitas lagu yang menyerangnya dianggap buruk.

"Sejak diss Kangen band naik, dan gue diss sama Ecko Show sudah banyak lagu yang menyerang gue. Gue mau balas kalau gue dapat lawan yang menarik. Yang seru, yang liriknya juga seru. Kalau gue balas, dia juga akan balas. Kalau liriknya jelek, gue malas ladenin," ujarnya.

"Waktu sama anak-anak Gorontalo itu seru. Battle-nya sudah parah. Bahkan sampai bawa-bawa ras. Sebenarnya tidak etis tapi itu seru. Sampai beberapa puluh lagu. Akhirnya berhenti sendiri karena capek," lanjutnya.


Video dari channel Youtube a world sleepless in mind

Karena sering terlibat perang lagu dan saling serang dengan musisi lain, 8 Ball kerap 'diadu' dengan rapper lain. Yang terbaru misalnya, dia kerap 'diadu' oleh salah satu penyanyi rap pendatang baru yang sedang naik daun, Young Lex.

"Sampai sekarang pun sering dipanas-panasin. Setiap ada yang share lagu, nama gue di-tag disuruh, ayo dong serang. Contohnya dengan Young Lex. Rata-rata jika Young Lex buat lagu, atau kontennya nge-diss, gue yang di-tag. Dia manggung di televisi, terus gue di-tag, 8 Ball juga pernah manggung di situ. Orang-orang ini selalu mengadu gue. Mereka butuh orang paling depan buat melawan orang yang mereka benci," jelasnya.   

Banyak yang menganggap 8 Ball hanya bisa membuat lagu yang memuat kata-kata kasar dan jorok. Padahal, 8 Ball juga membuat lagu yang bertema kaya dan variatif. Tak jarang, lirik-liriknya penuh kata-kata motivasi. Coba saja simak lagu seperti Jatuh Tak Hentikan Langkahku, Lanjutkanlah, atau Sabar. Dia bahkan pernah membuat lagu tentang Palestina dan permintaan maaf seorang anak kepada orangtuanya.  



Bagi 8 Ball, musik rap terlalu dangkal jika hanya diartikan sebatas untuk memaki-maki atau melontarkan kebencian. Hip hop adalah tentang berjuang. Hal itulah yang membuat 8 Ball jatuh cinta kepada musik rap.

"Rap itu punya cara unik dalam menyampaikan pesan. Hip hop adalah semangat kita berjuang," ucapnya.

Lebih dari sekadar musik, hip hop dirasakan 8 Ball sebuah kuasa ajaib ketika daerahnya di Ambon dilanda kerusuhan berbau SARA pada akhir 1990-an. 8 Ball melihat sendiri bagaimana musik rap mempersatukan mereka yang dulu bertikai.

"Setelah kerusuhan di Ambon, hip hop itu juga mempersatukan dua kubu yang bertikai dulu. Yang dulunya berseteru akhirnya bikin lagu bareng. Hip hop adalah pemersatu," katanya.

Dua Sisi Album Pertama

Tahun 2015, 8 Ball akhirnya merilis album perdana yang berjudul Kenalin. Namun, album ini menciptakan sebuah ambivalensi bagi 8 Ball. Album pertama 8 Ball habis terjual dan meraih hasil bagus di chart iTunes. Tapi, banyak pembeli albumnya yang kecewa.

"Gue berkarier sejak lama. Orang sudah menunggu album gue. Orang yang sudah menunggu itu akhirnya beli album gue. Banyak yang senang karena akhirnya gue punya album, Alhamdulillah juga habis. Tapi banyak yang kecewa karena album gue isinya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan," katanya.



Album Kenalin merupakan proyek pertama Royale Plush sebuah label music Hip Hop yang baru didirikan oleh seorang rapper senior, Bagindo. Album ini juga dirilis melalui jalur distribusi De Majors. Diakui 8 Ball, pilihannya bekerjasama dengan musisi rap senior memang tidak salah.

"Orang-orang ini adalah orang berkecimpung di dunia rap tahun 1990-an, di Pesta Rap dan masih ada sampai sekarang, gue percayakan sama mereka. Dan feeling gue benar, hasilnya optimal secara penjualan," ujarnya.

Materi lagu di album pertamanya memang jauh dari singel-singel yang selama ini dibuat 8 Ball. Tema lagu di album pertama 8 Ball lebih banyak tentang cinta meski dalam sudut pandang sedikit 'nakal.'

"Istilahnya (lagu) kue-kue lah. Album pertama sebenarnya penentuan. Gue enggak puas sama reaksi orang-orang terhadap isi album itu. Gue juga belum puas karena lagu-lagu yang dipilih itu kayaknya bukan gue banget," ucapnya.


Video dari Channel Youtube KlikKlip

Sayang, label yang menaungi 8 Ball mati sebelum sempat berkembang. Namun, itu bukan alasan 8 Ball untuk berhenti berkarya. Paling tidak, banyak pelajaran yang dia ambil ketika bekerjasama dengan sebuah label.

"Di album kemarin banyak tekanannya. Tadinya gue pikir label ini bakal kayak Def Jam di Amerika. Tadinya gue pikir labelnya akan besar. Ternyata nasibnya sama saja. Gue menghargai mereka sudah investasi banyak dan gue tidak mau mengecewakan mereka. Tapi akhirnya labelnya ambruk. Lagian, gue juga ribet diatur-atur sama label," katanya.


8 Ball (Foto: Metrotvnews.com/Elang)

8 Ball sedang menyiapkan album kedua. Sebuah label independen juga sudah mengajaknya bekerjasama. Namun kali ini, 8 Ball ingin lebih banyak memasukkan lagu yang sesuai dengan karakter aslinya.

"Gue mau kayak dulu lagi di album kedua. Sudah tidak ada tekanan. Gue mau bebas dan tidak mau materi lagunya didominasi lagu menyek-menyek, kue-kue atau apapun itu. Mau gue masukin lagu marah-marah juga terserah. Mau pakai lagu bahasa daerah juga. Jadi benar-benar idealis," tekadnya.

Masih ingin menumpahkan makian dalam karya? "Mungkin masalah umur juga. Gue tidak semenggebu-gebu dulu. Sekarang (lagu-lagunya) sudah tidak maki-maki," kata nyong Ambon ini tertawa.

Banyak faktor yang membuatnya tak 'segarang' dulu dalam membuat lirik. Salah satunya, kehadiran anak pertamanya yang baru berusia 10 bulan.

"Beberapa waktu belakangan gue urus pernik sendiri. Dan yang beli itu rata-rata anak-anak kecil (Anak Baru Gede-ABG). Ada juga orangtua yang beli buat anaknya. Mereka bilang, 'anak saya suka lagunya mas, tapi kok lagunya maki-maki terus sih. Itu jadi beban moral juga buat gue. Lagu gue yang dulu berisiko buat anak-anak kecil, dan anak gue nanti. Gue jadi dilematis juga," jelasnya.

"Mungkin tetap akan ada satu dua lagu yang seperti dulu. Tapi nanti bahasanya dibikin lebih metaforik lagi," tutupnya.


Video dari Channel Youtube 8BallRap Official
 
(ELG)